{"id":12701,"date":"2025-01-07T19:49:37","date_gmt":"2025-01-08T03:49:37","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12701"},"modified":"2025-01-07T19:49:37","modified_gmt":"2025-01-08T03:49:37","slug":"tenanglah-dan-percayalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12701","title":{"rendered":"\u201cTenanglah dan Percayalah!\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Rabu, 08 Januari 2025<\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan Injil Markus 6:45-52<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kepercayaan pada Allah tidaklah secara otomatis memberikan rasa tenang pada setiap orang. Situasi panik dan terancam terkadang membuat seseorang tidak mampu berpikir jernih dan logis dalam melihat suatu peristiwa atau persoalan. Mengapa demikian? Harus kita sadari dan akui dengan jujur bahwa ketika kondisi panik yang diselimuti rasa takut, bingung, cemas dan sejenisnya, maka perasaan inilah yang dominan menentukan setiap pilihan atau pun keputusan yang diambil. Manusia bukan hanya pribadi yang digerakkan oleh akal budi dengan segala argumentasi logisnya, tetapi sebagai pribadi yang juga memiliki rasa dan hati yang tidak mudah pula untuk dimengerti dan dipahami.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengalaman para murid dalam Kisah Injil Markus hari ini memberikan penegasan penting bagaimana manusia bergumul dengan ketakutan dan kepanikan hidup. Peristiwa di tengah danau dalam kondisi badai tidak begitu saja membuat para murid percaya dengan penyertaan Allah. Apa yang sudah dialami para murid bersama Yesus dalam peristiwa mukjizat lima roti dan dua ikan (Mrk 6:30-44) belumlah menjadi jaminan untuk sepenuhnya percaya bahwa kuasa Allah itu sungguh nyata. Ketakutan, kepanikan, kecemasan dan segala macam aneka perasaan yang menghampiri sisi manusiawi para murid membawa mereka semakin sulit untuk merasakan kehadiran Allah di hadapan mereka, semakin ragu untuk menyatakan bahwa apa yang mereka lihat adalah Yesus sendiri, semakin jauh meninggalkan keyakinan akan kuasa Allah yang menyelamatkan. Pengenalan dan kepercayaan para murid pada Yesus justru terus dimurnikan, ditumbuhkan, bahkan diuji dengan pengalaman-pengalaman yang para murid alami bersama Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kisah para murid bersama Yesus yang kita renungkan hari ini menjadi jawaban kecil atas pergumulan peziarahan pengharapan manusiawi saya dan Anda semua. Pengenalan dan kepercayaan pada Tuhan serta ketenangan merasa bahwa Tuhan selalu menyertai membutuhkan proses, peristiwa, dan pemurnian yang berulang. Kalaulah pengalaman mukjizat penggandaan roti belumlah cukup membuat para murid percaya sehingga pengalaman Yesus berjalan di atas air menjadi momen berulang untuk meyakinkan para murid bahwa Dia selalu menyertai, maka kita pun disadarkan kembali melalui permenungan hari ini. Tuhan selalu memberikan pengalaman dan peristiwa berulang untuk membuat manusia yakin pada Dia, yakin pada Kuasa-Nya, yakin pada penyertaan-Nya, yakin bahwa sebagai pendosa berat pun kita tetap dikasihi dengan total oleh-Nya. Pengalaman gembira dan sedih, perjumpaan dengan pribadi yang menyenangkan dan menjengkelkan, peristiwa kesuksesan dan kegagalan tidaklah mungkin dapat kita pilih salah satu atau hindari. Kita diyakinkan bahwa semuanya itu terjadi untuk semakin memurnikan dan mendewasakan hidup kita. Hingga akhirnya kita sungguh-sungguh bisa tenang, percaya dan bijaksana. <strong>(RD Daniel Aji Kurniawan)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 08 Januari 2025 Bacaan Injil Markus 6:45-52 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kepercayaan pada Allah tidaklah secara otomatis memberikan rasa tenang pada setiap orang. Situasi panik dan terancam terkadang membuat seseorang tidak mampu berpikir jernih dan logis dalam melihat suatu peristiwa atau persoalan. Mengapa demikian? Harus kita sadari dan akui dengan jujur bahwa ketika kondisi panik yang diselimuti rasa takut, bingung, cemas dan sejenisnya, maka perasaan inilah yang dominan menentukan setiap pilihan atau pun keputusan yang diambil. Manusia bukan hanya pribadi yang digerakkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12701\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12701","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12702,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12701\/revisions\/12702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}