{"id":12783,"date":"2025-01-26T18:28:00","date_gmt":"2025-01-27T02:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12783"},"modified":"2025-01-26T17:28:57","modified_gmt":"2025-01-27T01:28:57","slug":"menanggapi-tawaran-keselamatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12783","title":{"rendered":"Menanggapi Tawaran Keselamatan"},"content":{"rendered":"\n<p>RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Mark 3:22-30<\/p>\n\n\n\n<p>Senin, 27 Januari 2025<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tentu akrab dengan peribahasa, \u201cBersatu kita teguh, bercerai kita runtuh\u201d, artinya: segala sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan secara bergotong-royong, bersama-sama. Peribahasa ini kiranya bisa membantu kita memahami sabda Tuhan hari ini. Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, karena mereka memisahkan diri dari Allah atau tidak taat kepada Allah. Sebaliknya mereka justru lebih taat kepada perkataan iblis.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kenyataan hidup ini tampaknya iblis lebih menarik daripada Allah. Seperti Adam dan Hawa yang lebih taat pada Iblis, demikian pula para ahli Taurat yang menuduh Yesus kerasukan Beelzebul, dan mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Tuduhan tersebut lahir dari rasa iri, sebagimana manusia pertama yang ingin menjadi seperti Allah [bdk. Kej 3:5]. Jika manusia sudah menjadi seperti Allah, maka selanjutnya mereka tidak membutuhkan Allah. Jika hal ini terjadi inilah kiranya yang disebut dengan \u201cdosa menghojat Roh Kudus\u201d. Difirmankan bahwa dosa menhujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya. Mengapa demikian? Tuhan ada Roh [2 Kor 3:17-18]. Jika Tuhan yang adalah Roh, Dia yang berkuasa mengampuni dihujat, ditolak, tidak dibutuhkan lagi, siapakah yang bisa mengampuni?<\/p>\n\n\n\n<p>Telah difirmankan, \u201cKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal\u201d [Yoh 3:16]. Itulah sebabnya, Yesus yang dituduh para ahli Taurat kerasukan setan, mengusir setan dengan penghulu setan, tetap tenang dan tidak marah. Sebab Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Bagi Yesus, para ahli Taurat adalah termasuk yang tersesat. Yesus berupaya untuk memberikan penjelasan dengan berbagai argumen. Dengan harapan para pendengar-Nya mau mendengarkan-Nya dan hidup berdasarkan firman-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keselamatan adalah sebuah tawaran, bukan paksaan. Allahpun hanya bisa menawarkan keselamatan itu. Maka melaui Yesus Putra-Nya, Allah menawarkan keselamatan itu. Apakah para ahli Taurat dan juga kita menanggapi tawaran tersebut? Semoga kita bersedia menanggapi tawaran keselamatan itu dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Mari kita bersatu dengan Tuhan, dan bukan bersekutu dengan setan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm Mark 3:22-30 Senin, 27 Januari 2025 Kita tentu akrab dengan peribahasa, \u201cBersatu kita teguh, bercerai kita runtuh\u201d, artinya: segala sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan secara bergotong-royong, bersama-sama. Peribahasa ini kiranya bisa membantu kita memahami sabda Tuhan hari ini. Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, karena mereka memisahkan diri dari Allah atau tidak taat kepada Allah. Sebaliknya mereka justru lebih taat kepada perkataan iblis. Dalam kenyataan hidup ini tampaknya iblis lebih menarik daripada Allah. Seperti Adam&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12783\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12783","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12783"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12783\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12784,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12783\/revisions\/12784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}