{"id":12879,"date":"2025-02-18T21:04:44","date_gmt":"2025-02-19T05:04:44","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12879"},"modified":"2025-02-18T21:04:44","modified_gmt":"2025-02-19T05:04:44","slug":"rabu-pekan-biasa-vi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12879","title":{"rendered":"Rabu Pekan Biasa VI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rm. Gunawan Wibisono O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>19 Februari 2025<br>Kej 8: 6-13 + Mzm 116 + Luk 8: 22-26<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lectio<br>Pada suatu kali tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: &#8220;Sudahkah kaulihat sesuatu?&#8221; Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: &#8220;Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.&#8221; Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: &#8220;Jangan masuk ke kampung!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meditatio<br>Pada suatu kali tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di mana itu? Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Adakah rumusan dan ritual jamahan, sehingga Yesus diminta menjamahnya? Mengapa mereka tidak cukup hanya memohon belaskasihNya? Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya. Yesus tidak meludah dan menegadah ke langit, sebagaimana yang dpernah dilakukan di daerah Sidon.<br>\u2018Sudahkah kaulihat sesuatu?\u2019, Tanya Yesus. Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: \u2018aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon\u2019. Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Karya penyembuhan Yesus tidak serentak jadi? Mengapa harus ada tahapan semacam itu? Segala-gala sesuatu ada waktunya. Penghentian hukuman di jaman Nuh, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, juga berjalan dalam kurun waktu tertentu, tahap demi tahap. Ada proses kehidupan.<br>Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: \u2018jangan masuk ke kampong!\u2019 larangan Yesus ini, tentunya agar dia tidak memberitahukan segala yang telah dilakukan oleh Yesus kepada dirinya, sehingga Yesus pun dapat masuk terang-terangan ke dalam kota.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oratio<br>Tuhan Yesus, Engkau melimpahkan berkatMu tidak Engkau jatuhkan dari langit, sebaliknya Engkau berikan tahap demi tahap, agar kami berani berusaha mendapatkannya. Semoga segala pemberianMu itu menyenangkan hati dan budi kami, dan akhirnya kami merasa betah dalam kasihMu. Amin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contemplatio<br>Tuhan Yesus menjamah hidup&nbsp;kita&nbsp;selalu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm. Gunawan Wibisono O.Carm 19 Februari 2025Kej 8: 6-13 + Mzm 116 + Luk 8: 22-26 LectioPada suatu kali tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: &#8220;Sudahkah kaulihat sesuatu?&#8221; Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: &#8220;Aku melihat orang, sebab melihat&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12879\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12879","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12879"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12879\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12880,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12879\/revisions\/12880"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}