{"id":13332,"date":"2025-06-11T18:19:00","date_gmt":"2025-06-12T01:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13332"},"modified":"2025-05-30T22:20:47","modified_gmt":"2025-05-31T05:20:47","slug":"renungan-12-juni-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13332","title":{"rendered":"RENUNGAN 12 JUNI 2025"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kis 3:15- 4:1.3-6, Mat 5:20-26<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang mudah terpesona dengan gaya hidup saudara saudarinya. Mereka terperangkap dengan sosial media yang selalu menampilkan kemegahan, kemewahan gaya hidup saat ini. Flexing itulah yang terjadi. Kadangkala orang yang terperangkap tidak pernah sadar bahwa dia sedang terjerat dan terperangkap dengan sebuah ilusi hidup. Banyak orang berlomba menampilkan gaya hidup di sosial media, berdasarkan pendidikan, ekonomi, liburan, makanan bahkan hidup keagamaan. Ya benar, hidup keagamaan. Seakan-akan jika sudah melakukan tindakan tersebut, sudah benar dan baik hidup keagamaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus dalam Injil hari ini menekankan hidup keagaaman yang baik dan benar.&nbsp;&nbsp;\u201cJika hidup keagamaanmu tidak lebih benar&nbsp;dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.\u201d Adakah sesuatu yang istimewa dilakukan ahli Taurat dan orang Farisi? Kata-kata Yesus lebih tepatnya sebuah sindiran bagi ahli Taurat dan orang Farisi. Apakah mereka sudah menjalani hidup keagamaan dengan benar?<\/p>\n\n\n\n<p>Orang Farisi dan ahli Taurat sangat taat menjalankan hidup keagamaan. Mereka taat pada peraturan dan hukum peribadatan,&nbsp;&nbsp;berdoa berpuasa dan memuji Tuhan, hadir dan tekun mendengarkan firman Allah di peribadatan. Tindakan lahiriah yang mereka lakukan sebagai gantinya sikap batiniah yang benar. Mereka melakukannya supaya dipandang sebagai orang benar di hadapan saudara saudarinya. Tindakan semacam inilah yang kerapkali ditegur oleh Tuhan Yesus. Perbuatan keagamaan hanya supaya dilihat orang lain. Sikap batin dan rohnya mungkin belum selaras dengan kehendak Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menghendaki cara hidup yang jujur, baik dan benar di hadapan sesama dan Allah. Ia menunjukkan sikap yang selaras lewat beribadah dan mengampuni. Beribadah, mendengarkan firman Tuhan dan melakukan perbuatan keagamaan sepatutnya selaras dengan cara hidup sehari-hari. \u201cJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.\u201d Hati yang bersih dan penuh pengampunan semakin layak dalam beribadah kepada Tuhan. Orang tidak memiliki dendam dan tidak membnawa amarah pada saat beribadah. Pikiran dan perasaannya tidak bercabang karena ingat perseteruan dengan sesama saudaranya. Pikiran dan perasaan kita hanya untuk Allah pada saat beribadah, seraya berdoa bagi mereka siapapun yang berelasi dengan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga kita pun hidup jujur, baik dan benar di hadapan Allah dan sesama saudara. Isi doa dan persembahan kepada Allah, semakin selaras dengan perbuatan kita yang penuh belaskasih dan murah hati pada setiap orang. (rm. Medyanto, O.Carm)&nbsp;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kis 3:15- 4:1.3-6, Mat 5:20-26 Banyak orang mudah terpesona dengan gaya hidup saudara saudarinya. Mereka terperangkap dengan sosial media yang selalu menampilkan kemegahan, kemewahan gaya hidup saat ini. Flexing itulah yang terjadi. Kadangkala orang yang terperangkap tidak pernah sadar bahwa dia sedang terjerat dan terperangkap dengan sebuah ilusi hidup. Banyak orang berlomba menampilkan gaya hidup di sosial media, berdasarkan pendidikan, ekonomi, liburan, makanan bahkan hidup keagamaan. Ya benar, hidup keagamaan. Seakan-akan jika sudah melakukan tindakan tersebut, sudah benar dan baik&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13332\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13332","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13332"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13333,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13332\/revisions\/13333"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}