{"id":13398,"date":"2025-06-17T18:58:00","date_gmt":"2025-06-18T01:58:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13398"},"modified":"2025-06-15T20:59:49","modified_gmt":"2025-06-16T03:59:49","slug":"mencari-wajah-bapa-bukan-panggung-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13398","title":{"rendered":"Mencari Wajah Bapa, Bukan Panggung Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p>Rm Yusuf Dimas Caesario<br><em>(Bacaan: Matius 6:1-6, 16-18)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk memurnikan motivasi kita dalam berbuat baik. Ia berkata: <em>&#8220;Jagalah supaya jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka&#8230;&#8221;<\/em> (Mat 6:1). Kalimat ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, saat banyak orang cenderung menunjukkan kebaikan di media sosial, terkadang lebih demi &#8220;likes&#8221; daripada demi kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus tidak melarang sedekah, doa, dan puasa. Justru Ia sangat mendorong praktik-praktik tersebut. Namun, Ia menekankan satu hal penting: <strong>hati kita<\/strong>. Apa yang menjadi dorongan di balik setiap tindakan rohani kita? Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan Allah atau untuk tepuk tangan manusia?<\/p>\n\n\n\n<p>Mari kita akui, dalam budaya yang serba \u201cpamer\u201d ini, godaan untuk tampil saleh demi citra diri sangat besar. Bahkan, bisa saja seseorang membagikan foto dan video saat berdoa atau saat membantu orang lain, tapi sebenarnya sedang membangun panggung bagi dirinya sendiri, bukan altar bagi Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan Yesus memakai frasa yang tajam namun menggelitik: <em>&#8220;mereka sudah mendapat upahnya.&#8221;<\/em> Artinya, kalau motivasi kita hanya untuk dipuji orang, ya sudah\u2014pujian itu saja yang kita dapat. Tuhan tidak menambahkan pahala dari Surga karena niat kita sudah teralihkan. Ini seperti orang yang pergi ke warung bakso, tapi malah beli nasi bungkus di sebelahnya. Ya dapat nasi, tapi bukan bakso yang sebenarnya ia tuju!<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus mengajak kita untuk masuk ke \u201ckamar tersembunyi\u201d, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara rohani\u2014<strong>masuk ke ruang batin yang intim dengan Bapa<\/strong>. Doa yang tulus, sedekah yang diam-diam, dan puasa yang tidak diumbar bukan berarti kita munafik, tapi justru itu menunjukkan keaslian iman kita. Tuhan hadir dalam keheningan. Ia melihat yang tersembunyi, dan kepada yang setia dalam hal-hal tersembunyi, Ia memberikan rahmat yang tak terlihat namun sungguh nyata.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertanyaan reflektif:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Apakah saya sering terdorong untuk berbuat baik karena ingin dilihat orang lain?<\/li>\n\n\n\n<li>Dalam doa dan puasa saya, apakah saya benar-benar mencari Allah atau hanya mengisi kewajiban?<\/li>\n\n\n\n<li>Di masa sekarang, bagaimana saya bisa tetap setia memelihara kehidupan rohani secara tersembunyi dan tulus?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Doa singkat:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ya Bapa yang melihat yang tersembunyi,<br>Sucikanlah hati kami agar dalam setiap doa, sedekah, dan puasa,<br>kami tidak mencari pujian manusia, tetapi wajah-Mu yang kudus.<br>Ajarkanlah kami untuk setia dalam keheningan,<br>dan teguhkan kami agar hidup kami menjadi pujian bagi nama-Mu,<br>bukan panggung bagi diri kami sendiri.<br>Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm Yusuf Dimas Caesario(Bacaan: Matius 6:1-6, 16-18) Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk memurnikan motivasi kita dalam berbuat baik. Ia berkata: &#8220;Jagalah supaya jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka&#8230;&#8221; (Mat 6:1). Kalimat ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, saat banyak orang cenderung menunjukkan kebaikan di media sosial, terkadang lebih demi &#8220;likes&#8221; daripada demi kasih. Yesus tidak melarang sedekah, doa, dan puasa. Justru Ia sangat mendorong praktik-praktik tersebut. Namun, Ia menekankan satu hal&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13398\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13398","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13398","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13398"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13398\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13399,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13398\/revisions\/13399"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}