{"id":13750,"date":"2025-09-09T18:04:00","date_gmt":"2025-09-10T01:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13750"},"modified":"2025-09-09T09:05:50","modified_gmt":"2025-09-09T16:05:50","slug":"dompet-bisa-penuh-hati-jangan-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13750","title":{"rendered":"Dompet Bisa Penuh, Hati Jangan Kosong!"},"content":{"rendered":"\n<p>Rm Yusuf Dimas Caesario<\/p>\n\n\n\n<p>Injil: Lukas 6:20-26<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p>Injil hari ini berisi Sabda Bahagia, tapi juga \u201cSabda Celaka\u201d. Rasanya seperti paket lengkap: ada promo dan ada peringatan. Yesus berkata, \u201cBerbahagialah kamu yang miskin\u2026 celakalah kamu yang kaya!\u201d Kalau kita dengar sekilas, bisa muncul komentar nakal: \u201cTuhan ini maunya apa? Kalau miskin dibilang bahagia, kalau kaya malah dibilang celaka. Jadi kita harus pilih ATM kosong supaya bisa masuk surga?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu maksud Yesus bukan begitu. Yesus bukan sedang kampanye anti-kaya, apalagi mendukung kita malas kerja. Yang Yesus tekankan adalah sikap hati. Orang miskin sering sadar bahwa mereka butuh Tuhan. Sedangkan orang kaya, kalau tidak hati-hati, bisa jatuh pada sikap merasa cukup tanpa Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mari kita jujur: kalau dompet kita tipis, doa bisa panjang sekali. Tapi kalau gajian baru turun, doa makan saja bisa super kilat: \u201cYa Tuhan, Amin!\u201d. Padahal isi dompet boleh penuh, tapi hati kita jangan sampai kosong dari Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus juga berkata, \u201cCelakalah kamu yang kenyang sekarang, sebab kamu akan lapar.\u201d Ini pun bukan berarti kita harus diet seumur hidup. Yang dimaksud adalah jangan sampai kita hanya mengejar kenyang jasmani, tetapi lupa roti surgawi. Karena ada banyak orang kenyang makan, tapi lapar kasih sayang. Ada yang rumahnya megah, tapi hatinya sepi. Ada yang followers-nya ribuan, tapi tidak punya satu pun sahabat sejati.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus ingin kita menata prioritas. Bahagia sejati bukan ketika kita punya segalanya, melainkan ketika kita punya Tuhan di atas segalanya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Pertanyaan Reflektif<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Saat ini, saya lebih sering merasa cukup karena punya harta atau karena punya Tuhan?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Apa yang membuat saya cepat bersyukur: saldo bertambah atau iman bertumbuh?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jika Yesus duduk di sebelah saya hari ini, bagian \u201cberbahagialah\u201d atau \u201ccelakalah\u201d mana yang akan Ia tujukan pada saya?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Doa Singkat<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau mengajarkan kami bahwa kebahagiaan sejati bukan pada harta dunia, tetapi pada hati yang bersandar pada-Mu. Tolonglah kami agar tidak terikat pada kenyamanan semu, tetapi semakin mencari dan mencintai Engkau. Buatlah hati kami kaya akan kasih dan murah hati pada sesama. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm Yusuf Dimas Caesario Injil: Lukas 6:20-26 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Injil hari ini berisi Sabda Bahagia, tapi juga \u201cSabda Celaka\u201d. Rasanya seperti paket lengkap: ada promo dan ada peringatan. Yesus berkata, \u201cBerbahagialah kamu yang miskin\u2026 celakalah kamu yang kaya!\u201d Kalau kita dengar sekilas, bisa muncul komentar nakal: \u201cTuhan ini maunya apa? Kalau miskin dibilang bahagia, kalau kaya malah dibilang celaka. Jadi kita harus pilih ATM kosong supaya bisa masuk surga?\u201d Tentu maksud Yesus bukan begitu. Yesus bukan sedang kampanye&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13750\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13750","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13750"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13751,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13750\/revisions\/13751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}