{"id":13767,"date":"2025-09-13T18:39:00","date_gmt":"2025-09-14T01:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13767"},"modified":"2025-09-13T08:39:50","modified_gmt":"2025-09-13T15:39:50","slug":"pesta-salib-suci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13767","title":{"rendered":"Pesta Salib Suci"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Bil. 21:4-9; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Ketika kita<br>melihat salib, kita tidak hanya melihat sepotong kayu, melainkan tanda kehidupan<br>baru, lambang cinta Allah yang tak terbatas, dan sumber pengharapan bagi kita. Salib<br>adalah simbol pengorbanan Kristus yang membawa keselamatan, tanda kasih Allah<br>yang rela turun ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya.<br>Dalam pengalaman saya saat bertugas di paroki, saya sering melihat bagaimana umat<br>begitu menghormati tanda salib. Ada orang tua yang dengan sabar mengajari<br>anaknya membuat tanda salib, ada yang memandang salib dengan penuh harapan di<br>tengah pergumulan hidup, dan ada pula yang menjadikan salib sebagai sahabat<br>dalam doa. Semua ini menunjukkan bahwa salib begitu dekat dengan kehidupan kita.<br>Namun, pertanyaan pentingnya: sudahkah kita sungguh memahami makna terdalam<br>dari salib itu?<br>Bacaan pertama dari Kitab Bilangan (Bil 21:4-9) mengisahkan bangsa Israel yang<br>memberontak dan bersungut-sungut, hingga akhirnya mereka dihukum dengan ular<br>tedung. Namun Allah yang penuh belas kasih memberikan jalan penyembuhan<br>melalui ular tembaga. Siapa yang memandang ular itu akan sembuh. Kisah ini<br>menggambarkan bahwa meski kita jatuh dalam dosa, Allah tidak pernah<br>meninggalkan kita. Salib Yesus adalah \u201cular tembaga\u201d baru, tanda keselamatan yang<br>menyembuhkan kita dari racun dosa dan kepahitan hidup. Ketika kita merasa<br>tertikam oleh penderitaan, dikecewakan, atau dilukai, salib mengingatkan bahwa<br>dalam Tuhan selalu ada harapan dan jalan pemulihan.<br>Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Flp 2:6-11) menegaskan<br>bahwa Yesus, walaupun adalah Allah, rela merendahkan diri-Nya, taat sampai wafat<br>di kayu salib. Inilah teladan kerendahan hati dan ketaatan yang sejati. Hidup kita<br>sering diwarnai kesulitan: masalah keluarga, pekerjaan yang melelahkan, relasi yang<br>tidak selalu harmonis. Dalam semua itu, salib mengajarkan kita untuk tidak lari dari<br>penderitaan, melainkan memaknainya dalam terang iman. Penderitaan yang dijalani<br>bersama Kristus tidak pernah sia-sia, karena di dalamnya ada benih kemuliaan.<br>Injil Yohanes (Yoh 3:13-17) menegaskan bahwa Yesus harus ditinggikan di kayu salib,<br>supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Salib bukan<br>tanda kekalahan, tetapi tanda kemenangan kasih Allah. Kita mungkin sering melihat<br>salib di rumah, di gereja, atau sebagai perhiasan. Namun, salib bukan sekadar simbol<br>luar, melainkan panggilan untuk menghidupi iman, harapan, dan kasih dalam<br>keseharian. Salib adalah undangan untuk menanggung hidup ini dengan setia, sambil<br>percaya bahwa Allah selalu bersama kita.<br>Dalam realitas hidup kita, penderitaan sering kali tidak bisa dihindari: sakit,<br>kehilangan, masalah ekonomi, pergumulan batin. Namun, melalui salib kita diajar<br>bahwa penderitaan, jika dipersembahkan kepada Tuhan, dapat menjadi jalan berkat.<br>Salib mengajarkan kita untuk tetap teguh meski tidak semua doa dijawab dengan cara<br>yang kita inginkan. Ia mengajarkan kita untuk sabar, berani mengampuni, dan tetap<br>mengasihi meskipun terasa sulit. Salib Kristus menunjukkan kasih tanpa pamrih, kasih<br>yang tetap bertahan meski dikhianati dan disakiti.<br>Karena itu, tanda salib yang kita buat setiap kali berdoa bukan hanya gerakan<br>simbolis, melainkan pengingat identitas kita sebagai murid Kristus. Apakah dalam<br>hidup kita, kita sudah menjadi \u201csalib yang hidup\u201d bagi sesama? Apakah kehadiran kita<br>membawa harapan, penghiburan, dan kasih bagi orang lain? Inilah panggilan kita:<br>menjadi tanda kasih Allah bagi dunia.<br>Akhirnya, Pesta Salib Suci ini meneguhkan kita bahwa tidak ada hidup tanpa salib,<br>tetapi juga tidak ada salib tanpa kebangkitan. Setiap salib yang kita pikul selalu<br>mengarah pada kehidupan baru bersama Kristus. Maka, mari kita memandang salib<br>bukan sebagai beban yang menakutkan, tetapi sebagai sumber kekuatan yang<br>menghidupkan. Dengan salib, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita;<br>Ia berjalan bersama, memikul salib kita, dan menuntun kita pada kemenangan.<br>Semoga salib Kristus selalu menjadi tanda kasih yang meneguhkan hati kita, sumber<br>harapan di tengah penderitaan, dan jalan menuju kehidupan yang penuh damai.<br>Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Bil. 21:4-9; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Ketika kitamelihat salib, kita tidak hanya melihat sepotong kayu, melainkan tanda kehidupanbaru, lambang cinta Allah yang tak terbatas, dan sumber pengharapan bagi kita. Salibadalah simbol pengorbanan Kristus yang membawa keselamatan, tanda kasih Allahyang rela turun ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya.Dalam pengalaman saya saat bertugas di paroki, saya sering melihat bagaimana umatbegitu menghormati tanda salib. Ada orang tua yang dengan sabar mengajarianaknya membuat tanda&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13767\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13767","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13767"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13767\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13768,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13767\/revisions\/13768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}