{"id":13786,"date":"2025-09-16T18:09:00","date_gmt":"2025-09-17T01:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13786"},"modified":"2025-09-15T20:11:36","modified_gmt":"2025-09-16T03:11:36","slug":"ketika-kita-sudah-tidak-mau-mendengar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13786","title":{"rendered":"Ketika Kita Sudah Tidak Mau Mendengar"},"content":{"rendered":"\n<p>Rm Agung Wahyudianto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 7:31\u201335 | \u201cAnak-anak yang duduk di pasar\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus hari ini memakai gambaran yang sangat sederhana tapi tajam: \u201cDengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar dan saling menyerukan: Kami meniup seruling, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menggambarkan generasi yang sulit disentuh oleh apa pun. Mau diajak bersukacita, mereka diam. Mau diajak berdukacita, mereka juga tak bereaksi. Hati mereka tertutup. Mereka hanya mau melihat dan mendengar apa yang cocok dengan pikirannya sendiri. Bahkan Yohanes Pembaptis dikritik karena terlalu asketis, dan Yesus pun dikritik karena terlalu dekat dengan orang berdosa. Dua kepribadian yang sangat berbeda\u2014namun dua-duanya ditolak. Mengapa? Karena bukan soal siapa yang bicara, tapi apakah kita masih mau mendengar.<\/p>\n\n\n\n<p>Renungan ini sangat relevan bagi kita hari ini. Dalam dunia yang penuh opini dan perdebatan, kita dengan mudah mengunci hati dan telinga. Kita menolak bukan karena isi pesannya, tapi karena siapa yang menyampaikannya, atau karena caranya tidak sesuai dengan selera kita. Kita menilai terlalu cepat, dan sering kali kehilangan kesempatan untuk belajar, berubah, atau disentuh oleh kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus mengakhiri bagian ini dengan berkata, \u201cTetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.\u201d Artinya, kebenaran akan tetap hidup, tapi hanya dapat dikenali oleh hati yang terbuka. Orang yang siap mendengar, bahkan dari tempat yang tak terduga, akan menemukan kebijaksanaan. Tapi mereka yang sibuk menilai dari luar, akan terus hidup dalam kebingungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini, mari kita bertanya: apakah aku masih mau mendengar? Apakah aku hanya mau mendengar yang cocok dengan pikiranku, ataukah aku membuka hati untuk disentuh oleh Tuhan, dalam cara dan wajah yang tak selalu aku harapkan?<\/p>\n\n\n\n<p>Karena sering kali, yang datang bukan yang kita inginkan, tapi justru itulah yang kita butuhkan. Dan hanya hati yang jernih yang bisa melihatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.\u201d (Lukas 7:35)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm Agung Wahyudianto O.Carm Lukas 7:31\u201335 | \u201cAnak-anak yang duduk di pasar\u201d Yesus hari ini memakai gambaran yang sangat sederhana tapi tajam: \u201cDengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar dan saling menyerukan: Kami meniup seruling, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.\u201d Yesus menggambarkan generasi yang sulit disentuh oleh apa pun. Mau diajak bersukacita, mereka diam. Mau diajak berdukacita, mereka juga tak bereaksi. Hati mereka tertutup. Mereka&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13786\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13786","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13786"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13786\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13787,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13786\/revisions\/13787"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}