{"id":13807,"date":"2025-09-20T18:00:00","date_gmt":"2025-09-21T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13807"},"modified":"2025-09-20T08:24:43","modified_gmt":"2025-09-20T15:24:43","slug":"renungan-hari-minggu-biasa-xxvc","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13807","title":{"rendered":"Renungan Hari Minggu Biasa XXVC"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Ams. 8:4-7; 1Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita diajak merenungkan kasih<br>dan pengampunan Allah yang tanpa batas. Hari ini, Sabda Tuhan mengarahkan<br>perhatian kita pada satu pilihan yang sangat mendasar: siapa yang sungguh kita<br>sembah dan abdikan hidup kita: Allah atau mamon? Yesus berbicara melalui kisah<br>bendahara yang tidak jujur, yang bersiasat dengan mamon untuk menyelamatkan<br>dirinya.<br>Kata mamon berarti uang atau harta. Kita semua tahu, berbicara soal uang di dalam<br>Gereja sering terasa sensitif. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata: uang adalah<br>bagian dari kehidupan kita, bahkan juga kehidupan menggereja. Pengalaman sejarah<br>menunjukkan, uang pernah menjadi sumber kegelapan dalam perjalanan Gereja. Kita<br>ingat peristiwa awal abad ke-16, ketika penyalahgunaan indulgensi yang berhubungan<br>dengan uang memicu perpecahan besar. Gereja belajar dari pengalaman itu untuk<br>selalu berhati-hati. Sejarah memang guru yang baik: ia mengingatkan kita bahwa bila<br>uang disalahgunakan, maka yang suci pun bisa ternodai.<br>Saudara-saudariku terkasih, kenyataan yang sama kita jumpai dalam hidup seharihari. Bukankah sering kali uang mampu memisahkan orang yang dulunya sangat<br>dekat: sahabat, saudara, bahkan orang tua dan anak? Ada pepatah sinis yang kita<br>kenal: \u201cAda uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.\u201d Bahkan istilah UUD,<br>yang sejatinya berarti Undang-Undang Dasar, sering dipelesetkan menjadi UjungUjungnya Duit. Semua ini menggambarkan betapa uang, jika menguasai hati, dapat<br>membuat manusia buta pada persaudaraan dan bahkan melupakan Allah. Yesus<br>berkata dengan tegas: \u201cDi mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada\u201d (Luk.<br>12:34).<br>Namun pertanyaannya: mungkinkah kita hidup tanpa uang? Tidak mungkin. Kita<br>semua membutuhkannya untuk kebutuhan dasar hidup, bahkan pelayanan Gereja<br>pun membutuhkan uang: transportasi, makan, sarana, dan banyak hal lain. Karena itu<br>Yesus memberi penekanan bukan pada soal memiliki uang atau tidak, melainkan pada<br>sikap hati: \u201cKamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon sekaligus.\u201d<br>Artinya, yang dipersoalkan bukan apakah kita memiliki uang, melainkan siapa yang<br>menjadi tuan atas hidup kita, Allah atau uang?<br>Injil hari ini menampilkan kisah bendahara yang ketahuan menyalahgunakan harta<br>tuannya. Ia dipecat, namun sebelum benar-benar jatuh, ia menggunakan<br>kecerdikannya. Ia mengurangi utang para debitur tuannya dengan harapan, saat ia<br>diusir, orang-orang itu akan menolong dia. Menariknya, kecerdikannya ini dipuji oleh<br>tuannya. Bukan karena ia curang, melainkan karena ia pandai memanfaatkan<br>kesempatan.<br>Yesus lalu berpesan agar anak-anak terang, yaitu kita, juga belajar cerdik, namun<br>bukan untuk keuntungan diri semata, melainkan untuk memuliakan Allah. Uang bukan<br>untuk memperbudak kita, melainkan untuk kita kelola dengan bijaksana. Kita harus<br>mampu menjadikannya sarana untuk berbuat baik, untuk membangun persahabatan,<br>terutama dengan mereka yang kecil, miskin, dan terlupakan.<br>Ingatlah kata Yesus: \u201cApa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku<br>yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku\u201d (Mat. 25:40). Maka setiap<br>rupiah yang kita gunakan untuk menolong orang lapar, orang sakit, orang miskin, atau<br>anak yang membutuhkan pendidikan, sesungguhnya kita gunakan untuk membangun<br>persahabatan dengan Allah sendiri.<br>Saudara-saudariku terkasih, Yesus tidak melarang kita memiliki uang, tetapi Ia<br>mengingatkan: jangan sampai uang memiliki kita. Jadikanlah uang sebagai sarana,<br>bukan tujuan. Jadikan ia sebagai titipan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan<br>sebagai tuan yang memperbudak.<br>Mari kita menutup renungan ini dengan sebuah doa sederhana yang bisa kita ulang<br>setiap hari:<br>\u201cTuhan, uang yang Engkau percayakan kepadaku hanyalah titipan sementara. Jangan<br>biarkan aku diperbudak olehnya, tetapi tuntunlah aku agar menggunakannya dengan<br>bijaksana, terutama untuk menolong sesamaku yang membutuhkan.\u201d<br>Semoga doa ini menanamkan dalam hati kita sikap yang benar: bahwa hidup kita tidak<br>dikuasai oleh uang, melainkan oleh kasih. Dan bila kasih yang menguasai hidup kita,<br>maka damai dan keselamatan akan selalu hadir dalam keluarga dan komunitas kita.<br>Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Ams. 8:4-7; 1Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita diajak merenungkan kasihdan pengampunan Allah yang tanpa batas. Hari ini, Sabda Tuhan mengarahkanperhatian kita pada satu pilihan yang sangat mendasar: siapa yang sungguh kitasembah dan abdikan hidup kita: Allah atau mamon? Yesus berbicara melalui kisahbendahara yang tidak jujur, yang bersiasat dengan mamon untuk menyelamatkandirinya.Kata mamon berarti uang atau harta. Kita semua tahu, berbicara soal uang di dalamGereja sering terasa sensitif. Namun, kita juga tidak bisa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13807\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13807","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13807"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13808,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13807\/revisions\/13808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}