{"id":13833,"date":"2025-09-27T18:00:00","date_gmt":"2025-09-28T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13833"},"modified":"2025-09-27T07:31:28","modified_gmt":"2025-09-27T14:31:28","slug":"minggu-biasa-xxvic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13833","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXVIC"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Am.6:1a.4-7; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita diajak merenungkan tentang harta dan<br>kekayaan: bagaimana menggunakannya untuk kemuliaan Allah, bukan untuk<br>diperhamba. Hanya Allah sajalah yang patut kita sembah dan kita puji.<br>Hari ini, melalui Injil tentang orang kaya dan Lazarus, kita kembali diingatkan akan hal<br>yang sama, namun dengan penekanan yang lebih tajam: ada konsekuensi dari pilihan<br>hidup kita, apakah kita mau peduli pada sesama atau menutup mata terhadap mereka.<br>Injil menceritakan seorang kaya yang hidup dalam kemewahan: pakaian ungu yang<br>mahal, lenan halus, dan perjamuan setiap hari. Di depan pintunya, ada Lazarus yang<br>miskin, penuh luka, berharap sekadar mendapat remah dari mejanya. Tetapi bukan<br>belas kasih yang ia terima, melainkan anjing-anjing yang menjilat lukanya.<br>Menariknya, orang miskin itu disebut dengan nama: Lazarus. Dalam Kitab Suci,<br>menyebut nama seseorang berarti Allah mengenalnya, Allah mengasihinya secara<br>pribadi. Sementara orang kaya itu justru tanpa nama, tanda bahwa kehidupannya tidak<br>diperhitungkan di hadapan Allah, sebab ia tidak pernah memperhitungkan sesamanya.<br>Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama dari Nabi Amos juga menyinggung hal<br>serupa. Bangsa Israel akan jatuh ke tangan Asyur karena mereka hidup berfoya-foya,<br>tidak peduli dengan sesama, dan menghamburkan berkat yang seharusnya bisa<br>menjadi sarana kebaikan.<br>Perumpamaan Yesus berlanjut. Lazarus yang miskin dibawa para malaikat ke<br>pangkuan Abraham, tempat orang-orang yang dikasihi Tuhan. Sementara orang kaya itu<br>mati dan menderita dalam neraka. Dari siksaan, ia memohon setetes air dari Lazarus,<br>tetapi Abraham menegaskan bahwa jurang besar sudah terbentang, tidak bisa lagi<br>dijembatani. Permintaan orang kaya itu agar Lazarus dikirim ke keluarganya pun sia-sia.<br>Abraham menegaskan: \u201cBiarlah mereka mendengarkan Musa dan para nabi.\u201d Bahkan<br>jika ada orang yang bangkit dari mati pun, mereka yang menutup hati tidak akan<br>percaya.<br>Jawaban Abraham itu sesungguhnya mengingatkan kita semua: mukjizat tidak akan<br>berarti apa-apa bila hati kita tertutup. Kita justru percaya karena Yesus sudah bangkit<br>dari mati, dan dalam iman itulah kita berharap ikut dibangkitkan bersama Dia kelak.<br>Saudara-saudariku terkasih, keselamatan bukan soal kaya atau miskin, melainkan soal<br>pilihan hati. Tuhan sudah memberi kita kebebasan untuk memilih. Bila kita memilih<br>untuk peka, peduli, dan berbagi, kita sedang memilih hidup kekal. Sebaliknya, bila kita<br>menutup mata pada penderitaan sesama, kita sedang memilih jalan menuju<br>kebinasaan.<br>Dalam ajaran moral Gereja, menunda berbuat baik padahal kita mampu melakukannya<br>adalah dosa. Lebih berat lagi bila akibat kelalaian kita, orang lain sampai kehilangan<br>nyawa atau harapannya. Diam di hadapan penderitaan orang lain sama dengan<br>membiarkannya jatuh ke dalam jurang. Itu berarti kita pun sedang menjauh dari Allah.<br>Karena itu, mari kita membuka hati. Mari kita tumbuhkan kepekaan dan kepedulian<br>dalam hidup sehari-hari: di rumah, di lingkungan, di tempat kerja, dan di tengah<br>masyarakat. Jangan sampai ada Lazarus-Lazarus kecil di sekitar kita yang kita biarkan<br>begitu saja.<br>Poin penting yang perlu diingar, hidup kita tidak berakhir di surga atau neraka karena<br>kebetulan. Itu adalah buah dari pilihan kita sekarang. Semoga kita memilih jalan kasih,<br>jalan kepedulian, agar kelak Tuhan menyambut kita dengan sukacita di surga, seperti<br>seorang Bapa yang merangkul anaknya yang kembali pulang. Tuhan memberkati kita<br>semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Am.6:1a.4-7; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita diajak merenungkan tentang harta dankekayaan: bagaimana menggunakannya untuk kemuliaan Allah, bukan untukdiperhamba. Hanya Allah sajalah yang patut kita sembah dan kita puji.Hari ini, melalui Injil tentang orang kaya dan Lazarus, kita kembali diingatkan akan halyang sama, namun dengan penekanan yang lebih tajam: ada konsekuensi dari pilihanhidup kita, apakah kita mau peduli pada sesama atau menutup mata terhadap mereka.Injil menceritakan seorang kaya yang hidup dalam kemewahan: pakaian ungu yangmahal,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13833\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13833","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13833"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13833\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13834,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13833\/revisions\/13834"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}