{"id":13843,"date":"2025-09-30T17:49:00","date_gmt":"2025-10-01T00:49:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13843"},"modified":"2025-09-29T20:52:03","modified_gmt":"2025-09-30T03:52:03","slug":"peringatan-st-theresia-dari-lisieux","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13843","title":{"rendered":"Peringatan St. Theresia dari Lisieux"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Lukas 9:57\u201362 | Peringatan St. Theresia dari Lisieux \u2013 1 Oktober<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Rm Agung Wahyudianto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p>Injil hari ini membongkar semangat ikut Tuhan yang terlalu romantis. Orang-orang datang kepada Yesus dengan niat yang tampaknya mulia\u2014ingin mengikuti-Nya, bahkan rela meninggalkan segalanya. Tapi Yesus tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia justru <strong>menunjukkan kerasnya jalan itu<\/strong>: tidak ada tempat untuk bersandar, tidak ada jaminan kenyamanan, tidak ada ruang untuk menoleh ke belakang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di sinilah <strong>St. Theresia dari Lisieux<\/strong> menjadi contoh luar biasa\u2014bukan karena ia mengalami banyak penghiburan rohani, tapi justru karena <strong>ia tetap setia ketika tak merasakan apa-apa.<\/strong> Ia mengalami masa-masa gelap dalam batin, di mana doa terasa kering, Tuhan seolah jauh, dan hidup biara penuh keterbatasan. Tapi ia tidak pergi. Ia tidak mengeluh. Ia <strong>taat, dalam diam.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam dunia yang menyukai emosi positif, spiritualitas sering dikaitkan dengan rasa damai, sukacita, dan penghiburan. Tapi Injil hari ini dan hidup Theresia mengingatkan kita bahwa <strong>mengikuti Tuhan bukan soal merasa baik, tapi soal tetap hadir\u2014meski tidak melihat terang.<\/strong> Kadang, cinta sejati justru lahir bukan dari perasaan, tapi dari <strong>keteguhan hati yang tetap mencintai dalam malam iman.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Theresia pernah menulis:<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cAku tidak melihat apa-apa, aku tidak merasakan apa-apa. Tapi aku percaya. Dan aku mencintai.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini, mari kita bertanya dalam diam:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Apakah aku tetap setia kepada Tuhan ketika doa terasa kosong?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Apakah aku berani mencintai tanpa perlu merasa kuat atau bahagia?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Karena mungkin, <strong>ketaatan tanpa romantisme adalah bentuk iman paling jujur<\/strong>\u2014dan paling menyentuh hati Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 9:57\u201362 | Peringatan St. Theresia dari Lisieux \u2013 1 Oktober Rm Agung Wahyudianto O.Carm Injil hari ini membongkar semangat ikut Tuhan yang terlalu romantis. Orang-orang datang kepada Yesus dengan niat yang tampaknya mulia\u2014ingin mengikuti-Nya, bahkan rela meninggalkan segalanya. Tapi Yesus tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia justru menunjukkan kerasnya jalan itu: tidak ada tempat untuk bersandar, tidak ada jaminan kenyamanan, tidak ada ruang untuk menoleh ke belakang. Dan di sinilah St. Theresia dari Lisieux menjadi contoh luar biasa\u2014bukan karena&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=13843\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-13843","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-podcast"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13843"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13843\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13844,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13843\/revisions\/13844"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}