{"id":14233,"date":"2026-01-13T17:27:00","date_gmt":"2026-01-14T01:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14233"},"modified":"2026-01-12T19:27:57","modified_gmt":"2026-01-13T03:27:57","slug":"untuk-itulah-aku-telah-datang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14233","title":{"rendered":"Untuk itulah Aku telah datang"},"content":{"rendered":"\n<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Markus 1:29-39<\/p>\n\n\n\n<p>Rabu, 14 Januari 2026<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hidup dan kehidupan ini, orang lebih mudah melihat hal-hal yang spektakuler. Banyak hal yang dilakukan Yesus dipandang sebagai hal yang spektakuler. Salah satu contoh tampak dalam warta hari ini, yakni penyembuhan ibu mertua Simon dan juga banyak orang lain. Satu hal penting di balik tindakan penyembuhan Yesus yang kurang dilihat orang adalah relasi Yesus dengan Bapa-Nya sebagaimana difirmankan, <em>\u201cPagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana\u201d<\/em> [Mark 1:35]. Relasi Yesus dengan Bapa-Nya inilah yang membuahkan, menjadikan hal-hal yang secara manusiawi tampak spektakuler, bukan hanya hasilnya yang luar biasa, tetapi juga keberaniannya \u201cmenentang\u201d adat kebiasaan saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang dilakukan Yesus terhadap mertua Petrus pada waktu itu pasti tidak mungkin dilakukan orang lain. Mengapa? Karena tindakan itu dianggap bertentangan dengan adat atau kebiasaan saati itu. Tetapi Yesus bukan hanya menyembuhkan seorang perempuan dengan memegang tangannya, melainkan juga menginjinkan perempuan itu melayani meja. Tindakan semacam ini telah berulang kali Yesus lakukan. Tindakan Yesus benar-benar mendobrak jaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada jaman itu sakit penyakit kadang dikaitkan dengan dosa. Oleh karena itu, tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus kiranya bukan hanya penyakit fisik atau jasmani melainkan juga penyakit rohani, yakni dosa. Terkait dengan penyembuhan penyakit rohani, St. Hironimus dalam salah satu homilinya menegaskan, <em>\u201cOh, semoga Ia sudi datang di rumah kita, masuk dan menyembuhkan demam dosa-dosa kita dengan perintah-perintah-Nya. Sebab kita semua menderita demam. Bila aku marah, kuderita demam. Begitu banyak dosa, begitu banyak demam. Marilah kita mohon para rasul agar mereka mohon supaya Yesus datang kepada kita untuk menyentuh tangan kita. Sebab bila Ia meraba tangan kita, demam kita segera lenyap\u201d.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Hal spektakuler lain yang dilakukan Yesus adalah sikapnya yang lepas bebas. Ia selalu sadar akan misi dari Bapa-Nya, yakni menyelamatkan semua orang, bukan sekelompok orang. Sikap tersebut tampak Ketika Simon dan kawan-kawan mengatakan, &#8220;Semua orang mencari Engkau.&#8221; Akan tetapi Yesus mereaksi mereka, &#8220;Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.&#8221; [Mark 1:37-38]. Sebagai orang yang telah dibaptis, kita punya kewajiban untuk ambil bagian dalam tugas Kristus dalam karya penyelamatan yakni sebegai <strong>imam<\/strong> dalam pengudusan, <strong>nabi<\/strong> dalam pewartaan, pengajaran dan sebagai <strong>raja<\/strong> dalam penggembalaan, pendampingan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm Markus 1:29-39 Rabu, 14 Januari 2026 Dalam hidup dan kehidupan ini, orang lebih mudah melihat hal-hal yang spektakuler. Banyak hal yang dilakukan Yesus dipandang sebagai hal yang spektakuler. Salah satu contoh tampak dalam warta hari ini, yakni penyembuhan ibu mertua Simon dan juga banyak orang lain. Satu hal penting di balik tindakan penyembuhan Yesus yang kurang dilihat orang adalah relasi Yesus dengan Bapa-Nya sebagaimana difirmankan, \u201cPagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14233\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14233","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14233"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14233\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14234,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14233\/revisions\/14234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}