{"id":14246,"date":"2026-01-15T19:39:58","date_gmt":"2026-01-16T03:39:58","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14246"},"modified":"2026-01-15T19:39:58","modified_gmt":"2026-01-16T03:39:58","slug":"iman-yang-kreatif-dan-solutif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14246","title":{"rendered":"\u201cIMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Jumat, 16 Januari 2026<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Markus 2:1-12<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini bahwa iman yang sangat personal ini akan tumbuh berkembang, semakin dewasa, dan terus dimurnikan dalam lingkup yang komunal di tengah keluarga, komunitas, dan kelompok di mana setiap harinya kita menjalankan rutinitas hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kisah dalam Injil hari ini sungguh menarik untuk menjadi permenungan dalam hidup kita hari ini. Perhatian kita bukan hanya pada iman dan keyakinan si penderita, tetapi juga iman dan keyakinan rekan-rekannya yang membawa si sakit kepada Yesus. Cara dan upaya yang dilakukan sungguh luar baisa. Mereka tidak menyerah saat melihat kesulitan dan tantangan, tetapi justru menggunakan daya anugerah akal budi dan nurani menemukan cara atau solusi yang menyelamatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengalaman yang tersurat dan tersirat dalam Injil hari ini memberikan satu peneguhan iman bahwa iman yang hidup akan menuntun setiap pribadi menemukan jalan kreatif mengatasi dan mengantisipasi aneka hambatan yang ada. Iman melahirkan keberanian untuk membongkar bukan hanya atap rumah, tetapi membongkar atap keraguan dan ketakutan kita. Keraguan dan ketakutan untuk mengupayakan alternatif solusi daripada sekadar bersikap pasrah, menyerah, dan berdiam diri.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengalaman iman personal yang dihadirkan dalam konteks komunal (bersama) akan melahirkan kekuatan solidaritas persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Kita perlu berani untuk menyadari dan mengakui bahwa kita butuh sesama, butuh orang lain, butuh lingkungan dan alam ini agar bisa merasakan Allah yang hadir menyertai hidup kita. Inilah gambaran Gereja yang hadir dalam peziarahan manusia. Keselamatan diupayakan secara bersama-sama agar sukacita boleh dirasakan oleh semakin banyak orang. Menjadi suatu pertanyaan reflektif kecil bagi saya dan Anda sekalian \u201cApakah selama ini kehadiran orang-orang terdekat dalam keluarga menjadi penghambat atau pendukung untuk kita bisa semakin mengenal dan merasakan Allah yang hadir dan menyelematkan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(RD Daniel Aji Kurniawan \u2013 Imam Diosesan Keuskupan Malang)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 16 Januari 2026 Markus 2:1-12 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14246\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14246","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14246"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14246\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14247,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14246\/revisions\/14247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}