{"id":14294,"date":"2026-01-24T11:35:00","date_gmt":"2026-01-24T19:35:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14294"},"modified":"2026-01-24T09:36:34","modified_gmt":"2026-01-24T17:36:34","slug":"minggu-biasa-iii-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14294","title":{"rendered":"Minggu Biasa III A"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Yes. 8:23b-9:3; 1Kor.1:10-13.17; Mat. 4:12-23)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengarkan sebuah kalimat yang sangat singkat, tetapi memiliki daya yang luar biasa besar: \u201cMari, ikutilah Aku.\u201d Hanya tiga kata. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Namun justru di situlah kekuatannya. Kata-kata itu telah mengubah arah hidup para nelayan sederhana di Galilea. Kata-kata yang sama telah menggerakkan hati miliaran orang sepanjang sejarah. Dan minggu ini, kata-kata itu kembali diarahkan kepada kita yang hadir dan berkumpul di hadapan Tuhan.<br>Yang menarik, Injil mencatat bahwa Simon dan Andreas segera meninggalkan jala mereka. Yakobus dan Yohanes pun segera meninggalkan perahu serta ayah mereka. Tidak ada catatan tentang banyak pertimbangan, tidak ada dialog panjang, tidak ada tawar-menawar. Mereka mendengar, dan mereka melangkah. Seolah-olah panggilan itu menyentuh sesuatu yang sangat dalam di hati mereka, sesuatu yang selama ini mungkin mereka tunggu, meski belum mampu mereka rumuskan dengan kata-kata.<br>Undangan Yesus, \u201cMari ikutilah Aku\u201d, sesungguhnya memuat dua sisi yang tidak terpisahkan. Pertama, undangan itu menuntut keberanian untuk menyerahkan hidup ke dalam bimbingan Yesus. Kedua, undangan itu menjanjikan kedekatan: berjalan bersama Dia.<br>Mengikuti Yesus berarti bersedia berjalan di belakang-Nya. Dalam budaya Yahudi waktu itu, seorang murid memang selalu berjalan di belakang gurunya, sebagai tanda hormat, ketaatan, dan kesediaan untuk belajar. Murid tidak menentukan arah; guru yang menentukan. Murid tidak memilih jalannya sendiri; ia mempercayakan diri pada langkah sang guru.<br>Namun, makna \u201cmengikuti\u201d dalam Kitab Suci jauh lebih dalam daripada sekadar posisi fisik. Dalam tradisi iman Israel, mengikuti seseorang berarti mengiringi dengan seluruh hidup: menaati, mencintai, mempercayai, dan menyerahkan diri, apa pun risikonya. Maka mengikuti Yesus berarti menjadikan Dia kompas hidup kita, dalam pilihan-pilihan kecil maupun besar, dalam terang maupun gelap, dalam kepastian maupun kebingungan.<br>Saudara-saudarkui terkasih, kita tahu, mengikuti Yesus bukan jalan yang selalu mudah. Injil tidak pernah menutupi kenyataan itu. Kadang Yesus berbicara dengan kata-kata yang terasa keras dan mengguncang. \u201cIkutlah Aku, biarkan orang mati menguburkan orang mati.\u201d Atau, \u201cBarangsiapa tidak menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.\u201d Kata-kata seperti ini bisa membuat kita terdiam, bahkan bergumul dalam hati. Namun di saat yang lain, kita juga mendengar suara Yesus yang begitu lembut dan menyejukkan: \u201cDatanglah kepada-<br>Ku, kalian yang letih lesu dan berbeban berat.\u201d \u201cAku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.\u201d<br>Yesus yang kita ikuti bukanlah sosok yang bisa kita masukkan ke dalam satu kotak sempit. Ia lembut, tetapi juga tegas. Ia penuh belas kasih, tetapi juga jujur dan menuntut. Ia merangkul orang kecil dan berdosa, tetapi dengan lantang menegur kemunafikan dan kesombongan rohani. Dialah Guru yang membentuk, bukan memanjakan; yang menyembuhkan, bukan meninabobokkan.<br>Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan satu syarat dasar untuk mengikuti-Nya: \u201cBertobatlah dan percayalah kepada Injil.\u201d Bertobat berarti berani mengubah arah. Seperti seseorang yang sadar bahwa jalan yang ia tempuh salah, lalu berhenti, berbalik, dan memilih jalan baru. Bertobat bukan pertama-tama soal merasa bersalah, melainkan soal berani melangkah ke arah yang benar. Dan percaya kepada Injil berarti menyerahkan masa depan kita pada janji Tuhan, meskipun kita belum melihat semuanya dengan jelas.<br>Sering kali, di sinilah letak pergumulan kita. Mengikuti Yesus menuntut kita untuk menomorduakan, bahkan kadang meninggalkan ego pribadi, rencana pribadi, ambisi pribadi. Tidak heran jika muncul keluhan: \u201cBerat jadi Katolik\u2026 terlalu banyak tuntutan\u2026 membosankan\u2026\u201d Keluhan seperti ini sangat manusiawi. Para murid pun pernah mengalaminya. Sampai mereka bertanya dengan jujur: \u201cKalau demikian, siapa yang dapat diselamatkan?\u201d<br>Jawaban Yesus sungguh menguatkan: \u201cApa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.\u201d Artinya, Tuhan tidak menuntut kita berjalan dengan kekuatan kita sendiri. Ia menawarkan rahmat, daya, dan penyertaan-Nya. Ia tidak menjanjikan jalan yang mulus, tetapi Ia menjanjikan kekuatan untuk menapaki jalan yang terjal.<br>Saudara-saudariku terkasih, dalam perjalanan hidup, dalam membangun keluarga, dalam relasi, dalam pekerjaan, dalam panggilan hidup, kita bisa jatuh, lelah, bingung, bahkan takut. Itu wajar. Tuhan tidak menuntut kita sempurna. Yang Ia rindukan hanyalah satu hal: Jangan berhenti berjalan di belakang-Nya. Ketika kita lemah, kita boleh berhenti sejenak, tetapi jangan berbalik arah. Ketika kita jatuh, kita boleh menangis, tetapi jangan menyerah.<br>Seperti para nelayan Galilea itu, Tuhan terus memanggil kita di tengah keseharian hidup kita. Dan, setiap kali kita berani menjawab, meski dengan langkah kecil, Ia akan setia berjalan di depan kita, menuntun, menguatkan, dan membawa kita sampai pada kepenuhan hidup. Semoga kita diberi hati yang peka untuk mendengar panggilan-Nya, dan keberanian untuk terus mengikuti-Nya, hari demi hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes. 8:23b-9:3; 1Kor.1:10-13.17; Mat. 4:12-23)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengarkan sebuah kalimat yang sangat singkat, tetapi memiliki daya yang luar biasa besar: \u201cMari, ikutilah Aku.\u201d Hanya tiga kata. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Namun justru di situlah kekuatannya. Kata-kata itu telah mengubah arah hidup para nelayan sederhana di Galilea. Kata-kata yang sama telah menggerakkan hati miliaran orang sepanjang sejarah. Dan minggu ini, kata-kata itu kembali diarahkan kepada kita yang hadir dan berkumpul di hadapan Tuhan.Yang menarik,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14294\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14294","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14294","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14294"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14294\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14295,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14294\/revisions\/14295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14294"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14294"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14294"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}