{"id":14327,"date":"2026-01-31T17:19:00","date_gmt":"2026-02-01T01:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14327"},"modified":"2026-01-30T22:20:52","modified_gmt":"2026-01-31T06:20:52","slug":"minggu-biasa-iva","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14327","title":{"rendered":"Minggu Biasa IVA"},"content":{"rendered":"\n<p><br><br>(Zef 2:3;3:12-13; 1 Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan undangan Yesus: \u201cIkutilah Aku.\u201d Undangan itu bukan sekadar ajakan untuk berjalan di belakang-Nya, melainkan panggilan untuk menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tuntunan kasih-Nya. Siapa yang berjalan bersama Yesus tidak dijanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi dijanjikan kekuatan. Dan kekuatan itulah yang menuntun kita, setapak demi setapak, menuju tanah air surgawi.<br>Minggu ini, Sabda Tuhan menyingkapkan kepada kita jalan masuk ke Kerajaan Surga itu. Jalan yang mungkin tidak megah, tidak ramai dipuji, bahkan sering tampak sepi dan sederhana. Namun justru di sanalah Tuhan berkenan hadir.<br>Izinkan saya mengawali dengan sebuah kisah sederhana. Dalam sebuah rapat evaluasi kegiatan paroki, seorang bapak yang sederhana mengusulkan agar para petugas liturgi, khususnya lektor, berpakaian lebih sopan dan pantas saat bertugas dalam Misa Mingguan. Ia menyampaikannya dengan tulus. Namun banyak peserta rapat tertawa. Usulannya dianggap sepele, bahkan \u201ckampungan\u201d, karena yang berbicara adalah orang biasa, bukan tokoh penting, bukan orang terpandang, bukan pula berpendidikan tinggi.<br>Beberapa bulan kemudian, dalam rapat lain, seorang peserta yang dikenal kaya, berpendidikan, dan berpengaruh menyampaikan usul yang persis sama. Anehnya, usulan itu langsung diterima dengan aklamasi dan segera ditetapkan sebagai aturan resmi paroki.<br>Saudara-saudariku terkasih, kisah kecil ini mencerminkan wajah kita sebagai manusia. Sering kali kita lebih mendengarkan siapa yang berbicara daripada kebenaran yang disampaikan. Yang kuat, yang kaya, yang terpandang lebih mudah dipercaya, sementara suara yang lahir dari kesederhanaan kerap diabaikan. Namun, justru sikap inilah yang diluruskan oleh Sabda Tuhan hari ini.<br>Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya mewartakan harapan Allah, \u201cAku akan meninggalkan di tengah-tengahmu suatu umat yang rendah hati dan lemah lembut.\u201d Bukan yang congkak, bukan yang sombong, melainkan mereka yang berserah kepada Tuhan, yang hatinya lembut dan terbuka. Mereka inilah yang berkenan di hadapan Allah dan menerima keselamatan-Nya.<br><br>Nada yang sama kita dengar dalam bacaan kedua. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, dan juga kita semua bahwa Allah tidak memilih yang kuat menurut ukuran dunia, tetapi justru yang lemah. Bukan supaya manusia merasa rendah diri, melainkan supaya tidak seorang pun memegahkan dirinya di hadapan Allah. Sebab, seperti dikatakan Paulus, kemuliaan kita bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah yang mengasihi kita.<br>Puncaknya kita temukan dalam Injil minggu ini, dalam Kotbah di Bukit. Yesus berdiri di hadapan orang banyak, bukan untuk memuji keberhasilan dunia, melainkan untuk menyingkapkan logika Kerajaan Allah: \u201cBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah\u2026 berbahagialah yang lemah lembut\u2026 berbahagialah yang berdukacita\u2026\u201d<br>Sabda ini, saudara-saudariku, tidak mudah diterima. Sebab dunia berkata sebaliknya. Dunia berkata: berbahagialah yang kaya, yang kuat, yang berkuasa, yang selalu tertawa dan menikmati hidup. Yesus berkata: berbahagialah yang miskin, yang lembut hati, yang menangis, yang lapar dan haus akan kebenaran.<br>Mana yang benar? Dunia atau Kristus? Iman kita dengan jujur mengakui: Kristuslah kebenaran itu. Namun sekaligus kita juga sadar, betapa sulitnya memahami, apalagi menghidupi Sabda Bahagia ini. Karena itu, Sabda Bahagia bukanlah slogan manis, melainkan undangan untuk bertobat. Yesus mengajak kita mengubah cara pandang, meninggalkan logika lama yang mengukur kebahagiaan dari memiliki dan menguasai, lalu masuk ke dalam cara pandang Allah yang mengukur kebahagiaan dari kasih, kerendahan hati, dan kepercayaan kepada-Nya.<br>Ketika Yesus berkata, \u201cBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,\u201d Ia tidak sedang memuja kemiskinan, apalagi meromantisasikannya. Yesus tidak anti harta, dan Ia sangat peka terhadap penderitaan kaum miskin. Kemiskinan tetaplah suatu luka kemanusiaan yang menyedihkan hati Allah. Justru karena itulah Yesus memilih berdiri bersama orang miskin, bersolider dengan mereka, agar menjadi Kabar Gembira yang nyata.<br>\u201cMiskin di hadapan Allah\u201d berarti tidak menggantungkan hidup pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah sendiri. Secara naluriah kita ingin terus memiliki, karena kita mengira di sanalah letak kebahagiaan. Namun pengalaman hidup sering berkata lain. Semakin kita terikat pada apa yang kita miliki, semakin kita gelisah. Ambisi, persaingan, iri hati, dan ketamakan justru menjauhkan kita dari damai sejati. Yesus bahkan memakai kata kerja masa kini, \u201cBerbahagialah\u2026 karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.\u201d Bukan nanti, bukan kelak, tetapi sekarang. Kerajaan Allah sudah hadir bagi mereka yang hatinya bebas dari egoisme, yang membuka diri pada cinta dan pelayanan.<br><br>Saudara-saudariku terkasih, semangat miskin menurut Injil bukan berarti tidak memiliki apa-apa, melainkan tidak dimiliki oleh apa pun. Menerima hidup apa adanya, dengan rasa syukur, menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah. Harta, kemampuan, jabatan, dan talenta bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dibagikan.<br>Jika hidup kita dipenuhi rasa syukur, kekaguman akan ciptaan Allah, dan kesediaan melayani sesama, di sanalah Sabda Bahagia menjadi nyata. Di sanalah kita sungguh berjalan di jalan yang ditunjukkan Yesus: jalan yang sederhana, namun pasti menuntun kita ke Kerajaan Surga. Semoga Sabda minggu ini meneguhkan langkah kita, membebaskan hati kita, dan membuat hidup kita sungguh berbahagia di hadapan Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Zef 2:3;3:12-13; 1 Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan undangan Yesus: \u201cIkutilah Aku.\u201d Undangan itu bukan sekadar ajakan untuk berjalan di belakang-Nya, melainkan panggilan untuk menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tuntunan kasih-Nya. Siapa yang berjalan bersama Yesus tidak dijanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi dijanjikan kekuatan. Dan kekuatan itulah yang menuntun kita, setapak demi setapak, menuju tanah air surgawi.Minggu ini, Sabda Tuhan menyingkapkan kepada kita jalan masuk ke Kerajaan Surga itu. Jalan yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14327\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14327","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14327"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14327\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14328,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14327\/revisions\/14328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}