{"id":14372,"date":"2026-02-07T17:13:00","date_gmt":"2026-02-08T01:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14372"},"modified":"2026-02-06T22:14:47","modified_gmt":"2026-02-07T06:14:47","slug":"minggu-biasa-va","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14372","title":{"rendered":"Minggu Biasa VA"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Yes. 58:7-10; 1Kor.2:1-5; Mat. 5:13-16)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu, dalam Khotbah di Bukit, kita merenungkan Sabda Bahagia. Yesus mengajak kita untuk melihat hidup dengan cara pandang Allah: bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kenyamanan, melainkan justru sering tumbuh di tengah keterbatasan, air mata, dan pergulatan hidup. Hari ini, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah panggilan yang sangat konkret dan sekaligus menantang, \u201cKamu adalah garam dunia dan terang dunia.\u201d<br>Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyampaikan sebuah janji yang indah dan menenteramkan hati, \u201cTerangmu akan merekah seperti fajar.\u201d Tetapi perhatikan, terang itu tidak muncul secara ajaib dari langit. Terang itu lahir ketika seseorang mau berbagi roti dengan yang lapar, membuka rumah bagi yang tak punya tempat, dan memperhatikan sesama yang menderita. Dengan kata lain, terang itu muncul dari tindakan kasih yang sederhana, dari kebaikan yang dilakukan dengan tulus, sering kali tanpa sorotan siapa pun.<br>Yesus dalam Injil memakai dua gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: garam dan terang. Garam tidak pernah tampil mencolok. Ia kecil, sederhana, bahkan nyaris tak terlihat. Namun tanpanya, masakan menjadi hambar. Terlalu banyak garam pun merusak rasa. Demikian pula terang. Sebatang lilin kecil di ruangan gelap mungkin tampak lemah, tetapi justru cahayanya itulah yang membuat kita bisa melangkah tanpa tersandung.<br>Menjadi garam dan terang berarti menghadirkan kebaikan yang meneguhkan, bukan yang menyakiti; menjadi kehadiran yang menenangkan, bukan menghakimi; menjadi cahaya yang menuntun, bukan sorotan yang menyilaukan. Terang Kristiani bukan untuk memamerkan diri, melainkan untuk membantu orang lain melihat harapan, terutama mereka yang sedang berada dalam kegelapan hidup: putus asa, lelah, kecewa, atau merasa gagal.<br>Namun, Saudara-saudari, panggilan ini tidaklah mudah. Bacaan kedua hari ini memperlihatkan pergulatan Rasul Paulus. Ia dengan jujur mengakui bahwa ketika mewartakan Injil, ia datang \u201cdalam kelemahan dan dengan sangat gentar.\u201d Pengalaman Paulus di Athena (pusat filsafat dan kecerdasan) adalah pengalaman pahit. Ia sudah berusaha sebaik mungkin, berbicara dengan logika dan argumentasi yang cemerlang, namun akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan ketika ia mewartakan kebangkitan Kristus.<br>Pengalaman ini menyadarkan Paulus akan satu hal yang sangat mendalam: iman tidak lahir dari kepandaian manusia, bukan pula dari kata-kata indah dan meyakinkan, melainkan dari kuasa Allah sendiri. Karena itu, di Korintus, Paulus memilih untuk tidak mengandalkan kehebatan retorika, tetapi menyerahkan seluruh pewartaannya pada kekuatan Roh Kudus.<br>Di sinilah pesan Injil menjadi sangat nyata bagi kita. Menjadi garam dan terang bukan soal kemampuan luar biasa, bukan pula soal keberhasilan yang langsung terlihat. Seorang ibu yang dengan sabar mengajarkan doa kepada anaknya, meski anak itu belum mengerti sepenuhnya; seorang ayah yang tetap jujur meski dirugikan; seorang pelayan Gereja yang setia meski sering tidak dihargai, semua itu adalah bentuk garam dan terang yang bekerja secara diam-diam.<br>Kadang kita merasa gagal: kebaikan kita tidak dihargai, usaha kita seakan sia-sia, terang yang kita bawa terasa terlalu kecil. Tetapi Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita: Allah sendirilah yang memberi daya guna pada garam itu, Allah sendirilah yang membuat terang itu bercahaya pada waktunya. Tugas kita bukan memastikan hasil, melainkan setia menjadi alat di tangan-Nya.<br>Saudara-saudariku terkasih, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pula putus asa ketika terang kita tampak redup. Seperti fajar yang perlahan mengusir malam, demikian pula kasih yang kecil dan setia akan membuka jalan bagi terang Allah. Mari kita terus berusaha menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang memberi arah, apa pun situasi hidup kita. Sebab melalui hidup yang sederhana dan setia, kemuliaan Allah sungguh dapat dinyatakan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes. 58:7-10; 1Kor.2:1-5; Mat. 5:13-16)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu, dalam Khotbah di Bukit, kita merenungkan Sabda Bahagia. Yesus mengajak kita untuk melihat hidup dengan cara pandang Allah: bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kenyamanan, melainkan justru sering tumbuh di tengah keterbatasan, air mata, dan pergulatan hidup. Hari ini, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah panggilan yang sangat konkret dan sekaligus menantang, \u201cKamu adalah garam dunia dan terang dunia.\u201dDalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyampaikan sebuah janji yang indah dan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14372\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14372","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14372"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14372\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14373,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14372\/revisions\/14373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}