{"id":14446,"date":"2026-02-23T20:27:50","date_gmt":"2026-02-24T04:27:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14446"},"modified":"2026-02-23T20:27:50","modified_gmt":"2026-02-24T04:27:50","slug":"renungan-24-februari-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14446","title":{"rendered":"RENUNGAN: 24 FEBRUARI 2026"},"content":{"rendered":"\n<p>Rm. Ignasius Joko Purnomo<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Matius 6:7-15<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini Yesus mengajar kita cara berdoa yang sejati. Ia berkata, \u201cJika kamu berdoa,&nbsp; jangan bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah.\u201d Melalui pernyataan-Nya ini, Yesus bukan melarang kita berdoa panjang, tetapi Ia ingin agar doa kita tidak kosong; tidak hanya di bibir, melainkan keluar dari hati yang percaya dan tulus. Doa sejati bukanlah soal banyaknya kata, melainkan keintiman hati yang terbuka di&nbsp; hadapan Allah. Yesus mengajak kita kembali kepada inti&nbsp; doa: menyapa Bapa dengan hati anak-anak yang tahu bahwa mereka dikasihi. Kemudian kepada para murid Yesus mengajarkan sebuah doa sederhana yang sekarang kita kenal dengan Doa Bapa kami.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbicara Doa Bapa Kami,&nbsp; Santo Thomas Aquinas berkata demikian:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\u201cDalam Doa Bapa Kami, kita tidak hanya memohon sesuatu, tetapi diarahkan kepada\u00a0 tujuan tertinggi: Allah sendiri.\u201d Artinya, ketika kita berdoa \u201cBapa kami yang di surga, dimuliakanlah nama-Mu\u201d, kita sedang menempatkan Allah sebagai pusat hidup kita. Doa ini bukan permintaan untuk kenyamanan, tetapi penyerahan hati kepada kehendak Bapa. Tiga permohonan pertama dalam doa ini \u2013 tentang nama Allah, kerajaan-Nya, dan \u00a0kehendak-Nya \u2013 mengajarkan kita untuk memandang ke atas sebelum memandang \u00a0ke dalam.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ketika kita berkata, \u201cBerilah kami rezeki pada hari ini,\u201d kita diajak untuk hidup dengan iman sederhana dan penuh syukur. Yesus mengingatkan bahwa Bapa tahu apa yang kita perlukan bahkan sebelum kita memintanya. Maka, doa ini bukan sekadar permohonan materi, tetapi pengakuan iman: bahwa \u00a0setiap hari adalah rahmat, setiap nafkah adalah anugerah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>St. Thomas mengatakan, doa ini melatih kita mengembangkan kebajikan harapan, yakni percaya bahwa Allah selalu menyertai kita. Di tengah kekhawatiran hidup \u2013 soal ekonomi, kesehatan, atau masa depan \u2013 Prapaskah mengundang kita untuk berkata dengan rendah hati: \u201cCukuplah bagiku kasih-Mu, ya Bapa. Engkau tahu yang terbaik bagiku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bagian paling menantang dari Doa Bapa Kami adalah ini: \u201cAmpunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.\u201d St. Thomas Aquinas menulis bahwa dalam permohonan ini terkandung Kebajikan kasih \u2013 kasih yang nyata kepada sesama. Doa kita tidak akan berdaya bila hati kita menyimpan dendam. Doa Bapa Kami menuntut pertobatan yang konkret: pengampunan yang lahir dari hati yang telah diampuni. Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk berdamai \u2013 bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><br>Mungkin ada anggota keluarga, rekan kerja, atau saudara komunitas yang melukai hati kita. Namun, Yesus hari ini menegaskan: \u201cJika kamu tidak mengampuni, Bapamu pun tidak akan mengampuni kesalahanmu.\u201d Maka, pengampunan menjadi jembatan bagi rahmat yang turun ke dalam hidup kita.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Akhirnya, Doa Bapa Kami \u00a0ditutup dengan permohonan: \u201cJanganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.\u201d St. Thomas mengajarkan bahwa bagian ini menumbuhkan kebajikan iman yang \u00a0teguh \u2013 kesadaran bahwa hanya dengan rahmat Allah kita dapat melawan godaan dosa. Dalam perjuangan rohani Prapaskah, kita diingatkan bahwa kekuatan untuk \u00a0bertobat dan tetap setia bukan berasal dari diri kita, melainkan dari Bapa yang meneguhkan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari, Doa Bapa Kami bukan hanya doa yang diucapkan, tetapi cara hidup yang dijalani. Setiap kali kita berdoa, kita mengingat siapa kita: anak-anak Bapa yang hidup dalam kasih, syukur, dan pengampunan. Maka, marilah dalam masa Prapaskah ini kita membiarkan doa itu membentuk hati kita:agar nama Allah dimuliakan dalam tutur dan tindakan kita, agar kerajaan-Nya hadir melalui pelayanan kasih kita, dan agar kehendak-Nya terjadi dalam seluruh perjuangan dan pengorbanan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga Tuhan memberkati kita semua.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm. Ignasius Joko Purnomo Matius 6:7-15 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini Yesus mengajar kita cara berdoa yang sejati. Ia berkata, \u201cJika kamu berdoa,&nbsp; jangan bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah.\u201d Melalui pernyataan-Nya ini, Yesus bukan melarang kita berdoa panjang, tetapi Ia ingin agar doa kita tidak kosong; tidak hanya di bibir, melainkan keluar dari hati yang percaya dan tulus. Doa sejati bukanlah soal banyaknya kata, melainkan keintiman hati yang terbuka di&nbsp; hadapan Allah. Yesus mengajak kita kembali kepada&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14446\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14446","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14446"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14447,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14446\/revisions\/14447"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}