{"id":14507,"date":"2026-03-09T21:07:48","date_gmt":"2026-03-10T04:07:48","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14507"},"modified":"2026-03-09T21:07:48","modified_gmt":"2026-03-10T04:07:48","slug":"renungan-10-maret-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14507","title":{"rendered":"RENUNGAN: 10 MARET 2026"},"content":{"rendered":"\n<p>Rm Ignasius Joko Purnomo<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Matius 18:21-35<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu kita masih ingat bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1981, Paus Paus Yohanes Paulus II ditembak di Lapangan Santo Petrus oleh seorang pria bernama Mehmet Ali A\u011fca. Peluru itu hampir merenggut nyawa Paus. Dunia sangat terkejut. Namun beberapa waktu kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa. Paus Yohanes Paulus II pergi ke penjara untuk menemui orang yang menembaknya. Ia duduk berhadapan dengan pria itu, berbicara dengannya, dan memberikan pengampunan secara pribadi. Banyak orang bertanya: bagaimana mungkin seseorang bisa mengampuni orang yang hampir membunuhnya? Jawabannya sederhana: karena Paus hidup dari Injil. Ia tahu bahwa ia sendiri telah menerima begitu banyak belas kasih dari Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Injil hari ini kita mendengar pertanyaan dari Petrus kepada Yesus Kristus: \u201cTuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?\u201d Bagi Petrus, tujuh kali sudah terasa sangat besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada zaman itu orang Yahudi biasanya mengajarkan bahwa mengampuni tiga kali sudah cukup. Jadi ketika Petrus mengatakan tujuh kali, ia sebenarnya merasa sudah sangat murah hati. Tetapi jawaban Yesus mengejutkan: \u201cBukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.\u201d Artinya bukan sekadar angka 490 kali. Yesus ingin mengatakan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemahaman ini juga ditegaskan oleh salah satu Bapa Gereja besar, yaitu Santo Yohanes Krisostomus. Ia menjelaskan bahwa ketika Yesus menyebut \u201ctujuh puluh kali tujuh kali\u201d, Tuhan sebenarnya ingin menunjukkan bahwa pengampunan tidak boleh dihitung-hitung. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa Tuhan sendiri tidak menghitung kesalahan kita secara sempit. Allah tidak memperlakukan kita seperti seorang akuntan yang mencatat dosa kita satu per satu untuk menuntut balasan. Sebaliknya, Ia adalah Bapa yang penuh belas kasih. Karena itu, menurut Santo Yohanes Krisostomus, seorang Kristen juga tidak boleh menghitung-hitung kesalahan orang lain. Jika kita terus mengingat dan menghitung kesalahan sesama, hati kita akan menjadi keras. Ia bahkan mengatakan sesuatu yang sangat indah: mengampuni orang lain sebenarnya adalah kebaikan bagi diri kita sendiri, karena dengan mengampuni kita membuka hati kita bagi belas kasih Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Hutang itu begitu besar sehingga mustahil dibayar seumur hidup. Namun ketika ia memohon belas kasihan, sang raja menghapus seluruh hutangnya. Hamba itu sebenarnya sudah menerima karunia yang luar biasa besar. Tetapi ketika ia bertemu dengan temannya yang berhutang kecil kepadanya, ia justru tidak mau mengampuni. Ia menuntut pembayaran dengan keras. Di sinilah pesan Injil ini menjadi sangat jelas: kita sering menerima pengampunan besar dari Tuhan, tetapi kita sulit memberi pengampunan kecil kepada sesama.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih,<\/p>\n\n\n\n<p>Sering kali kita membawa luka dalam hidup kita. Mungkin kita pernah disakiti, diperlakukan tidak adil, difitnah, atau dikhianati. Luka seperti itu tidak mudah dilupakan. Namun Injil hari ini mengajak kita melihat hidup kita dari sudut pandang yang berbeda: dari sudut pandang belas kasih Allah. Jika kita jujur, kita semua juga pernah menyakiti orang lain. Kita semua pernah jatuh dalam dosa. Tetapi Tuhan tetap memberi kita kesempatan baru. Karena itu, ketika kita mengampuni orang lain, kita sebenarnya sedang meniru cara Tuhan memperlakukan kita. Mengampuni memang tidak mudah. Kadang itu membutuhkan waktu dan perjuangan batin. Tetapi ketika kita mulai mengampuni, sesuatu yang luar biasa terjadi: hati kita menjadi lebih ringan, lebih bebas, dan lebih damai. Itulah sebabnya Santo Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa pengampunan bukan hanya menolong orang lain, tetapi juga menyembuhkan hati kita sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menutup perumpamaan ini dengan pesan yang sangat kuat: kita harus mengampuni saudara kita dengan segenap hati. Artinya bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap batin yang sungguh-sungguh mau melepaskan kebencian. Mungkin hari ini Tuhan mengingatkan kita tentang seseorang yang masih sulit kita ampuni. Mungkin luka itu sudah lama kita simpan dalam hati. Hari ini Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil, membuka hati dan berkata: \u201cTuhan, aku ingin belajar mengampuni seperti Engkau mengampuni aku.\u201d Ketika kita mengampuni, kita sedang melakukan sesuatu yang sangat indah: kita membuka hati kita bagi belas kasih Allah sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm Ignasius Joko Purnomo Matius 18:21-35 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Tentu kita masih ingat bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1981, Paus Paus Yohanes Paulus II ditembak di Lapangan Santo Petrus oleh seorang pria bernama Mehmet Ali A\u011fca. Peluru itu hampir merenggut nyawa Paus. Dunia sangat terkejut. Namun beberapa waktu kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa. Paus Yohanes Paulus II pergi ke penjara untuk menemui orang yang menembaknya. Ia duduk berhadapan dengan pria itu, berbicara dengannya, dan memberikan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14507\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14507","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14507"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14508,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14507\/revisions\/14508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}