{"id":14574,"date":"2026-03-21T17:15:00","date_gmt":"2026-03-22T00:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14574"},"modified":"2026-03-21T08:17:11","modified_gmt":"2026-03-21T15:17:11","slug":"minggu-prapaskah-va","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14574","title":{"rendered":"Minggu Prapaskah VA"},"content":{"rendered":"\n<p><br><br>(Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, pada Minggu Prapaskah kelima ini kita semakin dekat pada misteri Paskah, yaitu misteri kehidupan baru yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus. Bacaan-bacaan minggu ini tidak pertama-tama berbicara tentang kematian, melainkan tentang Allah yang membangkitkan harapan di tengah situasi yang tampaknya sudah tidak mungkin lagi diubah. Nubuat Yehezkiel, refleksi Rasul Paulus, dan kisah kebangkitan Lazarus dalam Injil Yohanes sama-sama menegaskan satu pesan, yaitu Tuhan tidak pernah membiarkan manusia tenggelam dalam keputusasaan, sebaliknya Ia selalu membuka jalan menuju kehidupan baru.<br>Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel berbicara kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan. Mereka merasa seperti bangsa yang sudah mati: kehilangan tanah air, kehilangan harapan, dan kehilangan masa depan. Dalam situasi itu Allah bersabda, \u201cAku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu\u2026 Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke dalam dirimu dan kamu akan hidup kembali.\u201d Sabda ini bukan sekadar janji tentang kebangkitan setelah kematian, tetapi lebih dahulu merupakan janji tentang pemulihan hidup di tengah keterpurukan. Allah sanggup membangkitkan manusia dari kelelahan, dari luka batin, dari dosa, dari kegagalan, dan dari rasa tidak berdaya. Prapaskah menjadi saat yang tepat untuk menyadari bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidup kita, bahkan ketika kita merasa seperti berada dalam \u201ckubur\u201d keputusasaan.<br>Injil hari ini semakin memperjelas pesan tersebut melalui kisah Lazarus. Yang menarik bukan hanya peristiwa Lazarus dibangkitkan, tetapi juga sikap Yesus yang penuh empati terhadap keluarga Lazarus. Yesus tidak datang sebagai tokoh yang dingin dan jauh dari penderitaan manusia. Ia hadir, mendengarkan keluhan Marta dan Maria, melihat tangisan mereka, bahkan ikut menangis. Tangisan Yesus menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dekat dengan penderitaan manusia. Ia tidak berdiri di luar kesedihan kita, tetapi masuk ke dalamnya dan berjalan bersama kita. Di sinilah kita menemukan wajah Allah yang penuh kasih: Allah yang tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga menemani setiap perjalanan hidup manusia dengan kelembutan hati-Nya.<br>Ketika Yesus berkata kepada Marta, \u201cAkulah kebangkitan dan kehidupan,\u201d Ia sebenarnya mengajak kita untuk percaya bahwa di dalam diri-Nya selalu ada harapan baru. Lazarus yang telah empat hari dalam kubur menjadi lambang situasi manusia yang tampaknya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Namun Yesus membuktikan bahwa tidak ada yang terlalu terlambat bagi Allah. Batu kubur dapat disingkirkan, kain kafan dapat dilepaskan, dan orang yang terbelenggu dapat berjalan kembali. Pesan ini sangat relevan dalam hidup kita sehari-hari. Ada saatnya kita merasa iman kita lemah, semangat pelayanan menurun, relasi keluarga retak, atau masa depan terasa gelap. Injil hari ini mengingatkan bahwa Tuhan selalu mampu membuka jalan baru, selama kita mau percaya dan membuka hati kepada-Nya.<br>Rasul Paulus dalam bacaan kedua menegaskan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga bekerja dalam diri kita. Artinya, kehidupan Kristiani bukan sekadar menunggu kehidupan kekal di masa depan, tetapi sudah mulai sekarang kita hidup dalam Roh yang menghidupkan. Hidup dalam Roh berarti membiarkan Tuhan menggerakkan pikiran, hati, dan tindakan kita. Roh Allah membangkitkan kita dari egoisme menuju kasih, dari kemalasan menuju tanggung jawab, dari keputusasaan menuju pengharapan. Dengan demikian, kebangkitan bukan hanya peristiwa yang akan terjadi di akhir hidup, tetapi pengalaman yang terus berlangsung dalam perjalanan iman kita setiap hari.<br>Masa Prapaskah mengundang kita untuk berani membuka \u201ckubur-kubur\u201d dalam diri kita. Mungkin kubur itu adalah luka lama yang belum sembuh, dosa yang terus berulang, kekecewaan yang disimpan dalam hati, atau relasi yang retak dan belum diperdamaikan. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna terlebih dahulu; Ia hanya meminta kita membuka batu penutup kubur itu dan membiarkan Roh-Nya bekerja. Ketika batu itu disingkirkan, rahmat Tuhan masuk, dan kehidupan baru mulai bertumbuh perlahan-lahan. Di sinilah Prapaskah menjadi perjalanan pertobatan yang penuh harapan, bukan perjalanan yang menakutkan.<br>Kisah Lazarus juga mengajarkan bahwa kebangkitan selalu berkaitan dengan komunitas. Setelah Lazarus keluar dari kubur, Yesus berkata, \u201cBukalah kain kafannya dan biarkan ia pergi.\u201d Artinya, kehidupan baru membutuhkan bantuan sesama. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Dalam keluarga, komunitas religius, paroki, atau lingkungan kerja, kita dipanggil untuk saling membantu melepaskan \u201ckain kafan\u201d yang membelenggu sesama, yakni sikap menghakimi, kata-kata yang melukai, atau ketidakpedulian. Gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan kehidupan, bukan komunitas yang menutup harapan.<br>Pada akhirnya, kita diundang untuk mengarahkan pandangan kita kepada Kristus sebagai sumber kehidupan, sebab Ia datang untuk meneguhkan hati kita. Ia hadir bukan untuk menutup masa depan, tetapi untuk membuka harapan baru. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menemukan kekuatan untuk bangkit dari segala kelemahan dan berjalan menuju kehidupan yang lebih baik. Inilah saat yang tepat untuk memperbarui iman bahwa Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, bahkan di saat-saat paling gelap sekalipun.<br>Semoga melalui permenungan Sabda Tuhan hari ini, hati kita semakin diteguhkan untuk percaya bahwa bersama Kristus selalu ada harapan. Ia adalah kebangkitan dan kehidupan, yang menghidupkan kembali semangat kita, memperbarui iman kita, dan menuntun kita menuju sukacita Paskah. Dengan hati yang teduh dan penuh kepercayaan, marilah kita melangkah bersama Tuhan, karena di dalam Dia selalu ada kehidupan baru bagi setiap orang yang percaya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, pada Minggu Prapaskah kelima ini kita semakin dekat pada misteri Paskah, yaitu misteri kehidupan baru yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus. Bacaan-bacaan minggu ini tidak pertama-tama berbicara tentang kematian, melainkan tentang Allah yang membangkitkan harapan di tengah situasi yang tampaknya sudah tidak mungkin lagi diubah. Nubuat Yehezkiel, refleksi Rasul Paulus, dan kisah kebangkitan Lazarus dalam Injil Yohanes sama-sama menegaskan satu pesan, yaitu Tuhan tidak pernah membiarkan manusia tenggelam&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14574\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14574","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14574"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14574\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14575,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14574\/revisions\/14575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}