{"id":14687,"date":"2026-04-14T17:43:00","date_gmt":"2026-04-15T00:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14687"},"modified":"2026-04-13T22:44:39","modified_gmt":"2026-04-14T05:44:39","slug":"kasih-allah-mengalahkan-kejahatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14687","title":{"rendered":"Kasih Allah mengalahkan kejahatan"},"content":{"rendered":"\n<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes 3:16-21<\/p>\n\n\n\n<p>Rabu 15 April 2026<\/p>\n\n\n\n<p>Ada ungkapan dalam Bahasa Batak Toba, <em>Hansit mulak mangido, hum hansit mulak mangalehon\u201d<\/em>, artinya Sakit rasanya jika permintaan ditolak, akan lebih sakit jika pemeberian yang ditolak. Tetapi inilah yang dialami oleh Allah. Memperoleh hidup yang kekal bukan hanya kerinduan jiwa setiap manusia, melainkan juga merupakan kehendak Allah sendiri atas manusia ciptaan-Nya, sebagaimana difirmankan, <em>\u201cBegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal\u201d <\/em>(Yoh. 3:16). Kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia&nbsp; membuat Allah rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, \u201cSebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya\u201d (Yoh. 3:17). Syarat satu-satunya untuk memperoleh hidup kekal adalah beriman. Perlu kita sadari bahwa yang dimaksud dengan \u201cberiman\u201d di sini bukanlah percaya pada ajaran yang abstrak, persetujuan intelektual terhadap doktrin, melainkan penyerahan diri secara total, terbuka terhadap Yesus dan karya-karya-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hidup kekal bukanlah hidup setelah kehidupan di dunia ini, melainkan hidup pengenalan akan Allah, sebagaimana difirmankan, <em>\u201cInilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus\u201d<\/em> (Yoh17:3 ). Dengan sabda tersebut jelas bagi kita bahwa yang bisa mengenal Allah yang benar, dan Yesus Kristus utusan-Nya adalah orang hidup. Dengan kata lain jika selama hidupnya tidak mengenal Allah yang benar, maka akan mati dalam keadaan tidak mengenal Allah. Persolannya mahkluk yang namanya manusia tampaknya lebih memilih yang bukan Allah dari pada Allah, lebih memilih kegelapan dari pada terang, lebih memilih hukuman dari pada kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n<p>3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Mengapa demikian? Sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak. akan tetapi siapa saja melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. Mari kita berupaya hidup di dalam terang kasih-Nya agar kita selalu melakukan yang benar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm Yohanes 3:16-21 Rabu 15 April 2026 Ada ungkapan dalam Bahasa Batak Toba, Hansit mulak mangido, hum hansit mulak mangalehon\u201d, artinya Sakit rasanya jika permintaan ditolak, akan lebih sakit jika pemeberian yang ditolak. Tetapi inilah yang dialami oleh Allah. Memperoleh hidup yang kekal bukan hanya kerinduan jiwa setiap manusia, melainkan juga merupakan kehendak Allah sendiri atas manusia ciptaan-Nya, sebagaimana difirmankan, \u201cBegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14687\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14687","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14687","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14687"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14687\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14688,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14687\/revisions\/14688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14687"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14687"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14687"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}