{"id":14712,"date":"2026-04-20T17:03:00","date_gmt":"2026-04-21T00:03:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14712"},"modified":"2026-04-19T21:05:18","modified_gmt":"2026-04-20T04:05:18","slug":"renungan-21-april-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14712","title":{"rendered":"RENUNGAN: 21 APRIL 2026"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Rm Ignasius Joko Purnomo<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Yohanes 6:30-35<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p>Injil hari ini membawa kita masuk ke dalam sebuah percakapan yang sangat dalam &nbsp;antara Yesus dan orang banyak. Mereka mencari roti, mereka menginginkan sesuatu &nbsp;yang bisa mengenyangkan. Tetapi Yesus mengarahkan mereka kepada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu hidup sejati. Yesus berkata: \u201cRoti Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup &nbsp;kepada dunia.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di sini kita diajak merenungkan satu pertanyaan penting \u201capa yang selama ini kita &nbsp;anggap sebagai sumber hidup kita?\u201d Sering kali kita berpikir bahwa hidup kita \u201cditopang\u201d oleh hal-hal tertentu, seperti: pekerjaan, uang, keluarga, pencapaian. Semua itu memang penting. Tetapi Yesus &nbsp;mengingatkan bahwa ada perbedaan antara \u201cmenopang hidup\u201d dan \u201cmemberi hidup.\u201d Banyak hal bisa menopang hidup kita secara lahiriah, tetapi tidak semuanya &nbsp;memberi hidup secara batiniah. Kita bisa memiliki segalanya, tetapi tetap merasa &nbsp;kosong. Kita bisa sibuk, tetapi kehilangan makna. Kita bisa tertawa, tetapi hati kita &nbsp;lelah. Yesus mengatakan bahwa hanya Dia yang memberi hidup; hidup yang penuh, &nbsp;hidup yang menyentuh hati, hidup yang tidak habis oleh waktu. Menjadi pertanyaan bagi kita \u201cApakah aku sungguh hidup, atau hanya sekadar menjalani hidup?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian orang banyak berkata kepada Yesus, \u201cTuhan, berikanlah kami roti itu &nbsp;senantiasa.\u201d Permintaan ini sangat indah. Ini adalah ungkapan kerinduan. Mereka mungkin &nbsp;belum sepenuhnya mengerti, tetapi hati mereka mulai terbuka. Di sini kita masuk ke dalam permenungan kedua, yaitu kerinduan akan Tuhan. Setiap manusia memiliki kerinduan terdalam dalam hatinya: kerinduan akan cinta, &nbsp;akan damai, akan makna. Tetapi sering kali kita salah arah. Kita mencoba mengisi &nbsp;kerinduan itu dengan hal-hal duniawi. Kita berpikir: \u201cKalau aku punya ini, aku akan bahagia.\u201d \u201cKalau aku mencapai itu, aku akan puas.\u201d Namun kenyataannya, setelah mendapatkannya, kita sering masih merasa kurang. Mengapa? Karena kerinduan terdalam manusia bukanlah akan sesuatu, tetapi akan \u201cSeseorang\u201d, yaitu Tuhan sendiri. Pertanyaan bagi kita \u201cbukan apakah kita punya kerinduan\u201d, tetapi \u201cke mana kerinduan itu kita arahkan?\u201dOrang banyak dalam Injil berkata: \u201cBerikanlah kami roti itu senantiasa.\u201d Bagaimana dengan kita? Apakah kita sungguh merindukan Tuhan setiap hari? Ataukah kita hanya datang kepada-Nya ketika kita butuh? Kerinduan sejati akan Tuhan terlihat dari kesetiaan kecil: dalam doa, dalam mencari Dia, dalam menyediakan waktu bagi-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan akhirnya, Yesus menyatakan sesuatu yang sangat mengejutkan: \u201cAkulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.\u201d Inilah puncak dari semuanya. Yesus tidak hanya memberi roti, Dia sendiri adalah &nbsp;roti itu. Ini adalah undangan yang sangat &nbsp;konkret: datang kepada Yesus.Perhatikan kata yang dipakai: \u201cdatang.\u201d Bukan hanya tahu, bukan hanya percaya secara teori, tetapi datang. Datang berarti membangun relasi. Datang berarti membuka hati. Datang berarti &nbsp;menjadikan Yesus pusat hidup kita. Dan secara istimewa, kita datang kepada Yesus dalam Ekaristi. Di sana, Dia &nbsp;sungguh hadir sebagai Roti Hidup. Tetapi mari kita jujur: Berapa kali kita hadir dalam Ekaristi, tetapi hati kita jauh? Berapa kali kita menerima Komuni, tetapi tanpa kesadaran bahwa kita sedang &nbsp;menerima Sang Sumber Hidup? Yesus berkata: \u201cBarangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.\u201d Artinya, kalau kita masih merasa \u201clapar\u201d secara rohani\u2014kosong, gelisah, tidak &nbsp;damai\u2014mungkin kita belum sungguh datang kepada-Nya dengan sepenuh hati. Bukan karena Yesus kurang memberi, tetapi karena kita belum sepenuhnya &nbsp;membuka diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih,<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita masuk lebih dalam: menyadari bahwa hanya Kristus yang memberi hidup sejati, membangkitkan kembali kerinduan akan Tuhan dalam hati kita, datang kepada Yesus dan hidup dalam relasi dengan-Nya. Semoga hari ini kita tidak hanya mendengar Sabda Tuhan, tetapi juga membiarkannya mengubah hati kita. Dan ketika kita datang kepada Yesus, Sang Roti Hidup, semoga kita menemukan apa yang selama ini kita cari: hidup yang sejati, damai yang mendalam, dan kasih yang tidak pernah habis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm Ignasius Joko Purnomo Yohanes 6:30-35 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Injil hari ini membawa kita masuk ke dalam sebuah percakapan yang sangat dalam &nbsp;antara Yesus dan orang banyak. Mereka mencari roti, mereka menginginkan sesuatu &nbsp;yang bisa mengenyangkan. Tetapi Yesus mengarahkan mereka kepada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu hidup sejati. Yesus berkata: \u201cRoti Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup &nbsp;kepada dunia.\u201d Di sini kita diajak merenungkan satu pertanyaan penting \u201capa yang selama ini kita &nbsp;anggap&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14712\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14712","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14712"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14712\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14713,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14712\/revisions\/14713"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}