{"id":14763,"date":"2026-05-02T17:23:00","date_gmt":"2026-05-03T00:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14763"},"modified":"2026-05-02T08:25:03","modified_gmt":"2026-05-02T15:25:03","slug":"minggu-paskah-va","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14763","title":{"rendered":"Minggu Paskah VA"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(Kis. 6:1-7; 1 Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, pada Minggu Paskah kelima ini, kita<br>mendengar sabda yang sangat dalam sekaligus meneguhkan hati, \u201cJanganlah gelisah<br>hatimu\u2026 Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.\u201d Sabda ini diucapkan Yesus bukan<br>dalam situasi tenang, tetapi justru ketika para murid sedang mengalami kegelisahan.<br>Mereka mulai merasakan bahwa perpisahan dengan Guru mereka semakin dekat.<br>Hati mereka dipenuhi pertanyaan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun justru di<br>tengah kegelisahan itulah Yesus tidak memberi penjelasan panjang lebar tentang<br>masa depan, melainkan memberikan diri-Nya sendiri. Ia tidak berkata, \u201cAku akan<br>menunjukkan jalan,\u201d tetapi \u201cAkulah jalan.\u201d Ini sangat penting. Sebab sering kali yang<br>kita cari dalam hidup adalah jawaban, padahal yang lebih kita butuhkan adalah Pribadi<br>yang dapat menuntun kita.<br>Bayangkan seorang anak kecil yang sedang berjalan di tempat asing. Ia mungkin<br>tidak mengerti arah, tidak memahami peta, bahkan tidak tahu tujuan akhirnya. Tetapi<br>selama ia menggenggam tangan ayahnya, ia tetap tenang. Mengapa? Karena baginya<br>yang terpenting bukan mengetahui seluruh jalan, tetapi mengetahui bersama siapa ia<br>berjalan. Demikian pula hidup iman kita. Banyak orang gelisah karena ingin tahu<br>semuanya, ingin tahu masa depannya nanti bagaimana, pelayanan ini akan ke mana,<br>keluarga akan seperti apa, kesehatan akan bertahan sampai kapan, dan seterusnya.<br>Tetapi Yesus berkat, \u201cPegang Aku. Ikut Aku. Bersama-Ku engkau tidak akan tersesat.\u201d<br>Yesus adalah jalan, bukan sekadar petunjuk arah. Jalan itu bukan teori, melainkan<br>relasi hidup dengan Kristus.<br>Lalu Yesus berkata, \u201cAkulah kebenaran.\u201d Dalam dunia kita hari ini, kebenaran<br>sering kali menjadi kabur. Orang bisa tersenyum di depan, tetapi menyimpan luka atau<br>kepalsuan di belakang. Tidak sedikit orang tampak kuat di luar, padahal batinnya<br>rapuh. Dalam situasi seperti ini, Yesus hadir sebagai kebenaran sejati. Kebenaran<br>dalam Yesus bukan sekadar benar menurut logika, tetapi benar karena penuh<br>kesetiaan, ketulusan, dan kasih. Pada diri-Nya tidak ada sandiwara, tidak ada<br>kepalsuan. Apa yang Dia katakan, itulah yang Dia hidupi. Apa yang Dia janjikan, itulah<br>yang Dia tepati. Maka ketika kita mendasarkan hidup pada Kristus, kita tidak sedang<br>berdiri di atas sesuatu yang rapuh, tetapi di atas dasar yang kokoh.<br>Dan akhirnya Yesus berkata, \u201cAkulah hidup.\u201d Setiap manusia tentu ingin hidup.<br>Tetapi sering kali kita keliru memahami hidup. Banyak orang mengira hidup berarti<br>memiliki banyak hal, banyak uang, jabatan, kenyamanan, atau pengakuan. Padahal<br>kita tahu, tidak sedikit orang yang memiliki semuanya, tetapi hatinya tetap kosong.<br>Yesus mengajarkan bahwa hidup sejati bukan pertama-tama soal berapa lama kita<br>hidup, melainkan dengan siapa kita hidup. Hidup sejati adalah hidup yang bersumber<br>dari Allah. Itulah sebabnya Yesus datang bukan sekadar memperpanjang umur<br>manusia, tetapi memberikan hidup ilahi, hidup yang penuh damai, penuh makna, dan mengarah pada keselamatan kekal.<br>Bacaan pertama hari ini juga memberi contoh yang indah. Ketika jemaat perdana menghadapi persoalan, para rasul tidak tenggelam dalam keluhan atau konflik. Mereka mencari jalan yang benar, bertindak dengan hikmat, dan akhirnya kehidupan Gereja justru semakin berkembang. Ini menunjukkan bahwa ketika Kristus menjadi pusat, persoalan tidak selalu hilang, tetapi selalu menemukan arah penyelesaiannya.<br>Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang gelisah, entah karena sendang memikirkan keluarga, pelayanan, studi, kesehatan, masa depan, atau panggilan hidup. Hari ini Yesus tidak langsung menghapus semua masalah itu, tetapi Ia berkata lembut kepada kita, \u201cJangan gelisah hatimu.\u201d Mengapa? Karena Dia adalah jalan ketika kita bingung, Dia adalah kebenaran ketika kita ragu, dan Dia adalah hidup ketika hati kita terasa lelah.<br>Dalam setiap perayaan Ekaristi, kita tidak hanya mendengar tentang Yesus, tetapi sungguh berjumpa dengan-Nya. Dalam Tubuh dan Darah-Nya, Kristus hadir untuk menguatkan perjalanan kita. Ia menggenggam tangan kita, menuntun langkah kita, dan mengingatkan bahwa rumah Bapa sudah dipersiapkan bagi kita.<br>Maka pertanyaannya sekarang bukan, \u201cApakah saya tahu seluruh jalan hidup saya?\u201d Tetapi, \u201cApakah saya sungguh berjalan bersama Yesus?\u201d Sebab orang yang berjalan bersama Kristus mungkin tidak selalu mengerti semuanya, tetapi ia tidak akan pernah berjalan sendirian. Semoga di tengah segala pergumulan hidup, kita tetap berani percaya kepada Kristus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, dan Sang Hidup. Dan melalui hidup kita, semoga orang lain juga dapat menemukan jalan menuju Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Kis. 6:1-7; 1 Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, pada Minggu Paskah kelima ini, kitamendengar sabda yang sangat dalam sekaligus meneguhkan hati, \u201cJanganlah gelisahhatimu\u2026 Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.\u201d Sabda ini diucapkan Yesus bukandalam situasi tenang, tetapi justru ketika para murid sedang mengalami kegelisahan.Mereka mulai merasakan bahwa perpisahan dengan Guru mereka semakin dekat.Hati mereka dipenuhi pertanyaan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun justru ditengah kegelisahan itulah Yesus tidak memberi penjelasan panjang lebar tentangmasa depan, melainkan memberikan diri-Nya sendiri&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14763\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14763","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14763"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14763\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14764,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14763\/revisions\/14764"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}