{"id":14920,"date":"2026-06-09T16:51:00","date_gmt":"2026-06-09T23:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14920"},"modified":"2026-06-08T20:53:14","modified_gmt":"2026-06-09T03:53:14","slug":"kasih-adalah-jiwa-hukum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14920","title":{"rendered":"Kasih adalah jiwa hukum"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Matius 5:17-19<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rabu, 10 Juni 2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sekian hukum yang ada di dunia ini, hukum Taurat kiranya merupakan hukum yang cukup lengkap. Hukum Taurat terdiri dari 613 mitzvot, dan terbagai dalam dua bagian: 365 berupa perintah negatif [mitzvot lo taaseh] atau yang dilarang, sedangkan 248 berupa perintah positif [mitzvot ase] atau yang diperintahkan untuk dilalukan.&nbsp; Jika sudah lengkap mengapa dikatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi? Hal apa lagi yang kurang dan harus digenapi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita semua tentu paham bahwa isi Kitab Suci memiliki otoritas mutlak dan kekal. Ungkapan <em>&#8220;satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan&#8221;<\/em> [Mat 5:18] menunjukkan bahwa setiap firman Tuhan sangat penting dan tidak akan kehilangan kuasanya sampai rencana Allah tergenapi sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan ungkapan &#8220;menggenapi&#8221; berarti Yesus menambah jumlahnya, melainkan membawa Hukum Taurat dan kitab para nabi kepada arti, tujuan sejati hukum Taurat diturunkan kepada manusia melalui Musa. Sebab dalam perjalanan waktu, sekurang-kurangnya pada jaman Yesus, hukum Taurat hanya diajarkan oleh para ahli Taurat, tetapi tidak dilaksanakan oleh mereka, sebagaimana difirmankan, <em>&#8220;Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya\u201d<\/em> [Mat 23:2-3]. Bagi Yesus yang terpenting bukan soal menjaga kemurnian ajaran Taurat, melainkan bagaimana Taurat ini dilaksanakan dan dihayati dalam hidup setiap hari dalam semangat kasih. Taurat akan bermakna ketika perilaku dan sikap hidup benar-benar dijiwai oleh semangat saling mengasihi. Sebab kebenaran tanpa kasih akan melahirkan anarkhisme, sebaliknya kasih tanpa kebenaran hanyalah sentimentil belaka. Ketika kasih menjadi jiwa hukum, maka Taurat menjadi inspirasi yang menuntun orang kepada kebaikan, menjadi sumber moral dalam bertindak dan melakukan segala sesuatu dalam hidup dan kehidupannya. Orang yang melaksanakn hukum Taurat berlndaskan kasih, menurut Yesus, akan menduduki tempat tertinggi dalam Kerajaan Surga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KItab Suci adalah Sabda Allah, pelita dalam hidup beriman kita. Karenanya sungguh sangat disayakankan, jika ayat Kitab Suci hanya digunakan untuk membenarkan perilaku menyimpang. Karenanya, mari kita berupaya bukan hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, melainkan sebagai pelaku, pelaksana Firman [Yak 1:22]. Sabda Allah yang kita baca atau dengarkan, kita resapkan dalam hati sehingga menjiwai seluruh pola hidup beriman dan sosial kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm Matius 5:17-19 Rabu, 10 Juni 2026 Dari sekian hukum yang ada di dunia ini, hukum Taurat kiranya merupakan hukum yang cukup lengkap. Hukum Taurat terdiri dari 613 mitzvot, dan terbagai dalam dua bagian: 365 berupa perintah negatif [mitzvot lo taaseh] atau yang dilarang, sedangkan 248 berupa perintah positif [mitzvot ase] atau yang diperintahkan untuk dilalukan.&nbsp; Jika sudah lengkap mengapa dikatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi? Hal apa lagi yang kurang dan harus digenapi? Kita semua tentu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14920\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14920","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14920"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14920\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14921,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14920\/revisions\/14921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}