{"id":14950,"date":"2026-06-15T21:32:50","date_gmt":"2026-06-16T04:32:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14950"},"modified":"2026-06-15T21:32:50","modified_gmt":"2026-06-16T04:32:50","slug":"renungan-16-juni-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14950","title":{"rendered":"RENUNGAN: 16 JUNI 2026"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rm. Ignasius Joko Purnomo<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Matius 5:43-48<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita semua menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan. Bahkan para kudus pun bukan orang-orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga pernah mengalami kelemahan, pergumulan, dan jatuh bangun dalam hidup rohani mereka. Namun hari ini kita mendengar Sabda Yesus yang seakan tidak masuk akal dan cukup menantang kita. Dia berkata: &#8220;Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.&#8221; (Mat. 5:48)&nbsp; &nbsp;Mengapa demikian? Sebab ketika mendengar kata &#8220;sempurna&#8221;, seringkali yang terlintas dalam pikiran kita adalah seseorang yang tidak pernah berbuat salah, tidak pernah jatuh dalam dosa, tidak pernah marah, tidak pernah gagal. Jika demikian pengertiannya, tentu kita akan merasa bahwa tuntutan Yesus terlalu tinggi dan hampir mustahil untuk dicapai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, apa yang dimaksud Yesus dengan kesempurnaan? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat konteks Injil hari ini. Sebelum mengucapkan kalimat tersebut, Yesus berbicara tentang mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Dengan kata lain, kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukan pertama-tama kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kesempurnaan dalam kasih. Yesus berkata bahwa Allah Bapa menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Hujan turun bagi orang benar maupun orang yang tidak benar. Allah tidak memilih-milih kepada siapa Ia akan menunjukkan kasih-Nya. Kasih-Nya melampaui perhitungan manusia. Biasanya kita mengasihi orang yang mengasihi kita. Kita baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita menghormati orang yang menghormati kita. Itu adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tetapi Yesus meminta sesuatu yang lebih. Murid Kristus dipanggil untuk mengasihi bahkan ketika tidak menerima balasan. Mengampuni bahkan ketika tidak diminta maaf. &nbsp;Mendoakan bahkan mereka yang menyakiti hati kita. Mengapa? Karena itulah cara Allah mengasihi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kita melihat perjalanan hidup kita masing-masing, bukankah kita semua pernah mengalami kasih Allah yang demikian? Berapa kali kita jatuh dalam kelemahan? Berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Berapa kali kita kurang setia dalam doa, kurang sabar, kurang mengasihi? Namun Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Setiap pagi kita masih diberi kehidupan. Setiap hari kita masih menerima berkat-Nya. Setiap kali datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat, Ia selalu membuka pintu pengampunan. Kalau Allah memperlakukan kita seperti itu, maka Yesus mengajak kita memperlakukan sesama dengan cara yang sama. Tentu ini tidak mudah. Mungkin ada orang yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada anggota keluarga yang membuat kita kecewa. Mungkin ada sahabat yang mengkhianati kepercayaan kita. Bahkan mungkin ada luka yang sudah bertahun-tahun kita simpan. Yesus tidak mengatakan bahwa luka itu tidak nyata. Yesus juga tidak meminta kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak membiarkan luka itu berubah menjadi kebencian yang menguasai hati kita. Karena kebencian pertama-tama melukai diri kita sendiri. Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil lagi: lebih sabar daripada kemarin, lebih murah hati daripada kemarin, lebih mudah mengampuni daripada kemarin, lebih setia kepada Tuhan daripada kemarin. Jika kita terus berjalan dalam kasih, maka sedikit demi sedikit kita akan semakin menyerupai Bapa di surga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Marilah kita memohon kepada Tuhan agar sedikit demi sedikit hati kita semakin menyerupai hati Bapa: hati yang penuh kasih, belas kasih, dan pengampunan. Sebab di situlah letak kekudusan dan kesempurnaan sejati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, pengampunan membebaskan hati kita. Itulah sebabnya Yesus berkata, <em>&#8220;Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.&#8221;<\/em> Mengapa harus berdoa? Karena sering kali kita tidak mampu mengampuni dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Tuhan. Ketika kita mulai mendoakan seseorang yang menyakiti kita, perlahan-lahan Tuhan melembutkan hati kita. Mungkin luka itu belum langsung hilang, tetapi hati kita mulai dibebaskan dari kepahitan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para kudus memahami bahwa inti kekudusan bukanlah melakukan hal-hal yang luar biasa, melainkan bertumbuh dalam kasih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Santo Alfonsus Maria de Liguori<\/strong> berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Seluruh kekudusan dan kesempurnaan jiwa terdiri dalam mengasihi Yesus Kristus.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat ini sangat indah. Santo Alfonsus tidak mengatakan bahwa kesempurnaan terletak pada pengetahuan yang luas, jabatan yang tinggi, atau karya yang besar. Kesempurnaan terletak pada kasih kepada Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita ingin hidup seperti Dia. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita mampu mengampuni. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita belajar mengasihi orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal yang sama ditegaskan oleh <strong>Santa Theresia dari Lisieux<\/strong>. Ia berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Aku tidak mengetahui jalan lain untuk mencapai kesempurnaan selain kasih.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Santa Theresia tidak melakukan karya-karya besar yang menggemparkan dunia. Ia hidup sederhana di biara. Namun Gereja mengakui dia sebagai orang kudus yang besar karena ia melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah pelajaran penting bagi kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk menjadi kudus kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal Tuhan lebih melihat kasih yang ada di dalam hati kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Senyum yang tulus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata-kata yang menghibur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesabaran menghadapi anggota keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesediaan mengampuni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesetiaan dalam doa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi sangat berharga di mata Tuhan bila dilakukan dengan kasih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka ketika Yesus berkata, <em>&#8220;Hendaklah kamu sempurna,&#8221;<\/em> Ia sebenarnya mengundang kita untuk semakin sempurna dalam mengasihi Tuhan dan sesama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari terkasih,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesempurnaan Kristen bukanlah keadaan yang langsung dicapai dalam satu hari. Itu adalah perjalanan seumur hidup.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm. Ignasius Joko Purnomo Matius 5:43-48 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Kita semua menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan. Bahkan para kudus pun bukan orang-orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga pernah mengalami kelemahan, pergumulan, dan jatuh bangun dalam hidup rohani mereka. Namun hari ini kita mendengar Sabda Yesus yang seakan tidak masuk akal dan cukup menantang kita. Dia berkata: &#8220;Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.&#8221; (Mat. 5:48)&nbsp; &nbsp;Mengapa demikian? Sebab ketika mendengar kata &#8220;sempurna&#8221;,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14950\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14950","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14950","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14950"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14950\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14951,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14950\/revisions\/14951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}