{"id":14967,"date":"2026-06-20T17:36:00","date_gmt":"2026-06-21T00:36:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14967"},"modified":"2026-06-20T09:38:24","modified_gmt":"2026-06-20T16:38:24","slug":"minggu-biasa-xiia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14967","title":{"rendered":"Minggu Biasa XIIA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.<br>Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut gagal mendidik anak, takut masa depan tidak seindah harapan, takut ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan takut karena merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ketakutan-ketakutan itu perlahan menguras kegembiraan hidup dan membuat hati menjadi sempit. Karena itu sabda Tuhan hari ini terasa begitu dekat dengan pengalaman kita. Di tengah berbagai kecemasan hidup, Tuhan berulang kali berkata, &#8220;Jangan takut.&#8221;<br>Dalam bacaan pertama, kita mendengar keluh kesah Nabi Yeremia. Ia mengalami penolakan, fitnah, bahkan ancaman dari orang-orang di sekitarnya. Yang menyakitkan, bukan hanya musuh yang memusuhinya, tetapi juga sahabat-sahabat yang menantikan kejatuhannya. Yeremia merasa sendirian. Ia takut, ia terluka, ia gentar. Namun di tengah semuanya itu, ia tidak lari dari Tuhan. Justru di saat paling gelap, ia semakin berpegang pada Tuhan. Karena itu di akhir bacaan, ratapannya berubah menjadi pujian, &#8220;Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan!&#8221; Ketakutan tidak menghilang seketika, tetapi kehadiran Tuhan membuatnya mampu melewati ketakutan itu.<br>Pengalaman Yeremia menjadi gambaran dari apa yang dikatakan Yesus dalam Injil. Tiga kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, &#8220;Jangan takut.&#8221; Yesus tidak menjanjikan hidup yang bebas masalah. Ia tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam tangan Bapa. Bahkan rambut di kepala mereka pun terhitung semuanya. Gambaran<br>ini sangat indah. Tuhan bukan hanya mengenal kita secara umum; Ia mengenal kita secara pribadi. Ia mengetahui air mata yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, pergumulan yang kita sembunyikan di balik senyum, dan doa-doa yang hanya kita bisikkan dalam keheningan malam.<br>Lalu apa dasar keyakinan kita untuk tidak takut? Di sinilah bacaan kedua memberikan jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan membawa penderitaan serta kematian. Namun melalui Yesus Kristus datanglah rahmat yang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri. Artinya, bagi orang beriman, kejahatan tidak pernah memiliki kata terakhir. Dosa bukanlah akhir cerita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Salib bukanlah tujuan terakhir. Dalam Kristus, kasih Allah selalu lebih besar daripada luka manusia. Karena itu, ketika kita merasa takut, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia yang telah mengalahkan dosa dan maut.<br>Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang memikul beban tertentu. Ada yang cemas memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, masa depan anak-anak, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Sabda Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa masalah itu akan langsung hilang. Namun Tuhan mengingatkan satu hal yang sangat penting, engkau tidak sendirian. Sebagaimana Tuhan menyertai Yeremia, sebagaimana Tuhan mendampingi para rasul, demikian pula Ia berjalan bersama kita. Ketika kita merasa tidak mampu, Tuhan berkata, &#8220;Aku ada di sini.&#8221; Ketika kita merasa sendirian, Tuhan berkata, &#8220;Engkau berharga di mata-Ku.&#8221; Dan ketika kita takut menghadapi hari esok, Tuhan berkata, &#8220;Jangan takut, sebab Aku menyertaimu.&#8221;<br>Maka dalam Ekaristi ini, marilah kita meletakkan segala kecemasan dan ketakutan kita di hadapan Tuhan. Semoga melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut, hati kita diteguhkan untuk percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada segala ketakutan kita. Sebab bersama Yesus, kita tidak selalu bebas dari badai kehidupan, tetapi yang pasti bersama Yesus kita tidak akan tenggelam oleh badai itu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=14967\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-14967","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14967","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14967"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14967\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14968,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14967\/revisions\/14968"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14967"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14967"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14967"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}