{"id":15033,"date":"2026-07-06T20:20:07","date_gmt":"2026-07-07T03:20:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15033"},"modified":"2026-07-06T20:20:07","modified_gmt":"2026-07-07T03:20:07","slug":"renungan-7-juli-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15033","title":{"rendered":"RENUNGAN: 7 JULI 2026"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rm. Ignasius Joko Purnomo<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Matius 9:32-38<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita semua pernah kita merasa seolah-olah hidup kita sedang terikat oleh sesuatu. Bukan terikat oleh tali atau rantai yang terlihat, tetapi oleh rasa takut, kekhawatiran, kemarahan, kekecewaan, atau bahkan kebiasaan buruk yang sulit kita lepaskan. Kita ingin berubah, tetapi merasa tidak mampu. Kita ingin hidup lebih baik, tetapi selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Akhirnya, kita hidup tanpa sukacita dan tanpa damai. Pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya milik kita. Sejak dahulu, manusia selalu bergumul dengan berbagai bentuk belenggu yang menghalangi mereka mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Injil hari ini mengisahkan seorang bisu yang dirasuki setan dibawa kepada Yesus. Sekian lama dia terbelenggu olah kuasa setan. Setelah Yesus mengusir setan itu daripadanya, orang itu pun dapat berbicara kembali. Mukjizat ini bukan hanya sebuah kisah penyembuhan pada masa lalu, tetapi juga sebuah pewartaan bahwa Yesus adalah Sang Pembebas. Di mana Yesus hadir, di situ selalu ada kebebasan, harapan, dan kehidupan baru. Ketika kita bercermin pada kisah itu dan merenungkannya lebih dalam, sebenarnya kita dapat menemukan diri kita sendiri dalam sosok orang bisu itu. Memang mungkin kita tidak mengalami kerasukan seperti yang diceritakan dalam Injil, tetapi sering kali ada banyak hal yang membuat kita menjadi &#8220;bisu&#8221;. Kita menjadi bisu untuk mengatakan yang benar karena takut ditolak. Kita menjadi bisu untuk meminta maaf karena gengsi. Kita menjadi bisu untuk mengucapkan kata-kata kasih kepada anggota keluarga karena hati kita telah dipenuhi luka. Bahkan, ada yang menjadi bisu dalam doa. Sudah lama berdoa, tetapi hati terasa kering. Sudah lama ke gereja, tetapi tidak lagi mengalami sukacita iman. Banyak orang hidup dalam belenggu yang tidak tampak oleh mata. Ada yang dibelenggu oleh kemarahan yang tidak pernah selesai. Ada yang terikat pada rasa iri, dendam, kecanduan media sosial, perjudian, pornografi, minuman keras, atau kebiasaan-kebiasaan yang perlahan-lahan menguasai hidupnya. Belenggu-belenggu seperti ini sering kali lebih berat daripada rantai yang terlihat. Sebab, orang yang dibelenggu dari dalam kehilangan damai, kehilangan sukacita, bahkan kehilangan harapan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabar gembira Injil hari ini adalah bahwa Yesus tidak pernah menjauh dari orang yang terbelenggu. Justru kepada mereka Yesus datang. Ia tidak menghukum orang bisu itu. Ia tidak menyalahkannya. Ia tidak bertanya mengapa hal itu terjadi. Yang dilakukan Yesus adalah membebaskannya. Inilah wajah Allah yang kita imani. Allah tidak datang pertama-tama untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Ia datang bukan untuk mempermalukan manusia, melainkan mengangkat martabat manusia yang terluka oleh dosa. Dan bagi Yesus, tidak ada belenggu yang terlalu kuat. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi belas kasih-Nya. Tidak ada luka yang terlalu dalam sehingga tidak dapat disembuhkan oleh kasih-Nya. Yang sering menghalangi bukanlah kurangnya kuasa Tuhan, melainkan kurangnya keberanian kita untuk menyerahkan diri kepada-Nya. Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: belenggu apakah yang masih menguasai hidupku? Dosa apakah yang terus berulang? Ketakutan apa yang membuatku tidak berkembang? Kebiasaan buruk apa yang perlahan-lahan menjauhkan aku dari Tuhan dan sesama? Jangan takut membawa semuanya kepada Yesus. Datanglah kepada-Nya dalam doa. Datanglah kepada-Nya dalam Sakramen Tobat. Datanglah kepada-Nya dalam Ekaristi. Sebab di sanalah Kristus terus berkarya membebaskan umat-Nya hingga hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menarik bawa ketika orang bisu itu dibebaskan, ia dapat berbicara kembali. Artinya, pembebasan selalu menghasilkan kesaksian. Orang yang telah mengalami kasih Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan menggunakan mulutnya untuk memuji Tuhan, menghibur sesama, menyebarkan damai, dan membangun persaudaraan. Demikian pula kita. Setelah dibebaskan oleh Kristus, marilah kita memakai kata-kata kita bukan untuk melukai, menggosip, atau menghakimi, tetapi untuk memberkati, menguatkan, dan membawa harapan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga setiap kali kita berjumpa dengan Yesus, kita mengalami pembebasan yang sejati. Semoga hati yang dipenuhi ketakutan digantikan oleh iman. Hati yang terluka dipenuhi pengampunan. Hati yang putus asa dipenuhi harapan. Dan hidup kita semakin menjadi kesaksian bahwa Yesus sungguh datang untuk membebaskan setiap orang yang percaya kepada-Nya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm. Ignasius Joko Purnomo Matius 9:32-38 Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Mungkin kita semua pernah kita merasa seolah-olah hidup kita sedang terikat oleh sesuatu. Bukan terikat oleh tali atau rantai yang terlihat, tetapi oleh rasa takut, kekhawatiran, kemarahan, kekecewaan, atau bahkan kebiasaan buruk yang sulit kita lepaskan. Kita ingin berubah, tetapi merasa tidak mampu. Kita ingin hidup lebih baik, tetapi selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Akhirnya, kita hidup tanpa sukacita dan tanpa damai. Pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya milik&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15033\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15033","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15033"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15033\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15034,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15033\/revisions\/15034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}