{"id":15312,"date":"2026-09-12T15:59:34","date_gmt":"2026-09-12T22:59:34","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15312"},"modified":"2026-09-12T15:59:34","modified_gmt":"2026-09-12T22:59:34","slug":"minggu-biasa-xxiv-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15312","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXIV A"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Sir. 27:30-28:7; Rom. 14:7-9; Mat. 18:21-35)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita merenungkan tentang bagaimana<br>kita dipanggil untuk hidup sebagai satu komunitas. Kita belajar bahwa hidup bersama<br>tidak selalu mudah. Ada perbedaan, kesalahpahaman, teguran, bahkan ada saat-saat<br>ketika kita saling melukai. Namun, sebagai orang beriman, kita tidak dipanggil untuk<br>membiarkan luka dan konflik menghancurkan persaudaraan. Kita dipanggil untuk terus<br>membangun relasi dalam kasih. Hari ini, Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih<br>dalam. Kalau kita sungguh ingin hidup dalam kasih, kita harus belajar mengampuni.<br>Pengampunan adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah<br>dilakukan. Mengatakan, \u201cSaya mengampuni,\u201d mungkin hanya membutuhkan beberapa<br>detik. Tetapi ketika hati kita sungguh terluka, mengampuni bisa membutuhkan waktu<br>yang panjang. Ada luka yang cepat sembuh, tetapi ada pula luka yang kita bawa<br>bertahun-tahun. Kadang-kadang lukanya sudah tidak kelihatan, tetapi ketika nama<br>orang itu disebut, hati kita masih terasa sakit. Ada pengalaman yang sudah berlalu,<br>tetapi setiap kali kita mengingatnya, kemarahan itu muncul kembali. Karena itu,<br>pertanyaan Petrus dalam Injil hari ini sebenarnya sangat manusiawi, \u201cTuhan, sampai<br>berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?<br>Sampai tujuh kali?\u201d Petrus mungkin merasa bahwa tujuh kali sudah sangat murah hati.<br>Tetapi Yesus menjawab, \u201cBukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali<br>tujuh kali.\u201d Artinya, Yesus tidak sedang mengajak kita menghitung berapa kali kita<br>sudah mengampuni. Ia mau mengatakan bahwa kasih dan pengampunan tidak boleh<br>dibatasi oleh hitungan manusia.<br>Mengapa Yesus meminta kita mengampuni sedemikian jauh? Karena sebelum<br>kita berbicara tentang pengampunan yang kita berikan kepada orang lain, kita perlu<br>menyadari betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Allah. Itulah yang<br>digambarkan Yesus melalui perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki<br>utang sangat besar. Ketika ia tidak mampu membayar, sang raja berbelas kasih dan<br>membebaskan seluruh utangnya. Tetapi ironisnya, hamba yang baru saja menerima<br>pengampunan yang begitu besar itu justru tidak mampu mengampuni sesamanya yang<br>berutang jauh lebih kecil kepadanya. Ia bahkan menangkap dan mencekik orang itu<br>sambil berkata, \u201cBayarlah hutangmu!\u201d<br>Bukankah kadang-kadang kita juga seperti hamba itu? Kita datang kepada Tuhan<br>dan memohon, \u201cTuhan, ampunilah dosa-dosaku. Tuhan, sabarlah terhadap<br>kelemahanku. Tuhan, janganlah menghukum aku menurut kesalahanku.\u201d Kita ingin<br>Tuhan memahami kelemahan kita. Kita ingin Tuhan memberi kesempatan kedua,<br>ketiga, bahkan berkali-kali. Dan Tuhan sungguh melakukannya. Tetapi ketika orang lain<br>melakukan kesalahan kepada kita, tiba-tiba standar kita berubah. Kita menjadi sangat<br>teliti menghitung kesalahan orang lain. Kita meminta Tuhan memakai kalkulator kasih,<br>tetapi kepada sesama kita kadang memakai kalkulator kesalahan.<br>Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama dari Kitab Sirakh berbicara dengan<br>sangat tegas tentang bahaya kemarahan dan dendam, \u201cDendam dan murka sangat<br>mengerikan, dan orang berdosa dikuasainya.\u201d Mengapa? Karena dendam tidak hanya<br>merusak hubungan kita dengan orang lain. Dendam juga perlahan-lahan merusak diri<br>kita sendiri. Orang yang menyimpan dendam mungkin berpikir, \u201cSaya tidak mau<br>memaafkan dia supaya dia merasakan akibat perbuatannya.\u201d Tetapi sering kali yang<br>paling lama menderita justru bukan orang yang kita benci, melainkan diri kita sendiri.<br>Orang lain mungkin sudah tidur nyenyak, sementara kita masih memikirkan apa yang<br>dia lakukan. Orang lain mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih<br>membawa peristiwa itu dalam hati. Kita ingin menghukum orang lain, tetapi tanpa sadar<br>kita sedang menghukum diri sendiri.<br>Karena itu Sirakh berkata, \u201cIngatlah akhir hidupmu dan berhentilah bermusuhan.\u201d<br>Kata-kata ini sederhana, tetapi sangat dalam. Suatu hari kita semua akan meninggalkan<br>dunia ini. Suatu hari semua persoalan yang sekarang terasa begitu besar akan menjadi<br>kecil. Pada akhirnya kita akan berdiri di hadapan Tuhan. Lalu untuk apa kita<br>menghabiskan begitu banyak energi untuk marah, menyimpan dendam, dan<br>memelihara kebencian? Pengampunan bukan hanya hadiah yang kita berikan kepada<br>orang yang menyakiti kita. Pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita<br>sendiri.<br>Ketika kita mengampuni, kita tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang<br>itu benar. Kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan tidak penting. Kita juga tidak<br>harus berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah terjadi. Mengampuni berarti kita<br>memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hidup kita<br>selamanya. Kita menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan dan membiarkan<br>hati kita perlahan-lahan dibebaskan dari kebencian. Dalam hal ini, pengampunan tidak<br>selalu berarti bahwa hubungan harus kembali seperti semula. Ada situasi tertentu yang<br>membutuhkan batas yang sehat, pertobatan, bahkan proses keadilan. Tetapi sebagai<br>orang kristiani, kita tidak boleh menjadikan luka sebagai alasan untuk membenci. Kita<br>boleh menjaga jarak, tetapi tidak perlu menyimpan kebencian. Kita boleh mencari<br>keadilan, tetapi tidak harus membalas dengan kejahatan.<br>Di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada jemaat di Roma memberikan<br>dasar yang sangat indah. Paulus berkata, \u201cTidak ada seorang pun di antara kita yang<br>hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.<br>Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.\u201d<br>Kalau hidup kita adalah milik Tuhan, maka hati kita pun seharusnya kita serahkan<br>kepada Tuhan. Jangan biarkan hati kita menjadi tempat tinggal kemarahan, dendam,<br>dan kebencian. Jangan biarkan satu orang yang pernah menyakiti kita mengambil terlalu<br>banyak ruang dalam hati kita sampai-sampai ia menguasai sukacita dan kedamaian<br>kita. Paulus mengingatkan bahwa kita hidup untuk Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh<br>membiarkan hidup kita ditentukan oleh luka masa lalu. Kita tidak hidup untuk<br>membuktikan bahwa kita benar. Kita tidak hidup untuk membalas. Kita hidup untuk<br>Tuhan.<br>Kalau kita sungguh hidup untuk Tuhan, kita belajar melihat sesama bukan hanya<br>berdasarkan kesalahannya, tetapi juga sebagai pribadi yang dikasihi Allah. Orang yang<br>menyakiti kita tetaplah manusia yang membutuhkan rahmat, sama seperti kita yang<br>sering kali jatuh dan membutuhkan belas kasih Tuhan. Karena itu, pengampunan bukan<br>pertama-tama soal apakah orang lain layak diampuni. Pengampunan berakar pada<br>kenyataan bahwa kita sendiri telah lebih dahulu diampuni dan dikasihi oleh Allah. Kita<br>tidak mengampuni karena orang lain selalu baik kepada kita. Kita mengampuni karena<br>kita telah mengalami kasih Allah yang jauh lebih besar daripada kesalahan kita.<br>Ada sebuah peristiwa yang sangat kuat dalam kehidupan Yesus sendiri. Ketika<br>berada di kayu salib, setelah mengalami penghinaan, penyiksaan, dan penderitaan<br>yang begitu berat, Yesus masih berkata, \u201cYa Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka<br>tidak tahu apa yang mereka perbuat.\u201d Inilah puncak kasih Kristiani. Yesus tidak<br>membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tidak membiarkan kebencian menjadi kata<br>terakhir. Kasihlah yang menjadi kata terakhir.<br>Tentu kita tidak dapat mengampuni seperti Yesus hanya dengan kekuatan kita<br>sendiri. Ada luka yang terlalu dalam. Ada pengkhianatan yang sangat berat. Ada<br>pengalaman yang membuat kita berkata, \u201cSaya tidak sanggup.\u201d Dan mungkin memang<br>kita tidak sanggup. Tetapi di situlah kita dapat mulai dengan doa yang sederhana,<br>\u201cTuhan, saya belum mampu mengampuni. Tetapi saya mau belajar mengampuni.<br>Tolonglah hati saya.\u201d Kadang-kadang pengampunan tidak dimulai dengan perasaan.<br>Kita mungkin belum merasa ikhlas. Kita masih sedih, masih kecewa, bahkan masih<br>menangis. Tetapi kita dapat mulai dengan sebuah keputusan, \u201cSaya tidak mau<br>membalas. Saya serahkan orang ini kepada Tuhan.\u201d Kemudian kita mengulanginya lagi<br>besok, dan lusa, dan minggu depan. Sedikit demi sedikit, Tuhan menyembuhkan hati<br>kita.<br>Karena itu, pengampunan bukan berarti kita tidak pernah terluka lagi ketika<br>mengingat masa lalu. Pengampunan berarti luka itu tidak lagi mengendalikan kita. Hati<br>kita tidak lagi menjadi penjara tempat kita menyimpan kesalahan orang lain. Kita<br>membebaskan mereka dari kewajiban untuk terus membayar kesalahannya kepada<br>kita, dan pada saat yang sama kita membebaskan diri kita sendiri dari beban untuk terus<br>mengingat dan membalasnya.<br>Saudara-saudariku terkasih, coba kita bayangkan kehidupan kita masing-masing.<br>Mungkin ada seseorang yang sampai hari ini sulit kita maafkan. Mungkin anggota<br>keluarga, sahabat, rekan kerja, tetangga, atau bahkan seseorang yang pernah sangat<br>dekat dengan kita. Mungkin orang itu pernah menghina, memfitnah, mengkhianati, atau<br>mengecewakan kita. Mungkin orang itu bahkan sudah lupa dengan apa yang pernah<br>dilakukannya, tetapi kita masih membawanya dalam hati. Sabda Tuhan hari ini<br>mengajak kita untuk perlahan-lahan melepaskannya. Bukan karena dia pantas<br>mendapatkannya, tetapi karena kita pantas mendapatkan kedamaian. Bukan karena<br>kesalahannya tidak penting, tetapi karena hidup kita terlalu berharga untuk terus<br>dikuasai oleh kebencian. Dan terutama, bukan karena kita lebih baik daripada dia,<br>tetapi karena kita sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan Allah.<br>Setiap kali kita mendoakan, \u201cAmpunilah kesalahan kami, seperti kami pun<br>mengampuni yang bersalah kepada kami,\u201d sebenarnya kita sedang mengucapkan<br>sebuah doa yang sangat berani. Kita meminta Tuhan mengampuni kita sebagaimana<br>kita juga belajar mengampuni sesama. Karena itu, doa Bapa Kami bukan sekadar doa<br>yang kita ucapkan berulang-ulang. Doa itu sekaligus menjadi undangan untuk hidup<br>sesuai dengan apa yang kita doakan.<br>Mungkin hari ini kita belum mampu melakukan sesuatu yang besar. Tidak apa-apa.<br>Mulailah dari yang sederhana. Berhentilah membicarakan keburukan orang yang kita<br>benci. Berhentilah mengulang-ulang kesalahannya dalam pikiran. Doakan dia. Kalau<br>mungkin, sapalah dia. Kalau belum mungkin berbicara, setidaknya jangan membalas<br>dengan kebencian. Dan perlahan-lahan, serahkan luka itu kepada Tuhan. Sebab orang<br>yang mampu mengampuni bukanlah orang yang lemah. Justru ia adalah orang yang<br>kuat. Ia cukup kuat untuk tidak membalas, cukup dewasa untuk melepaskan, cukup<br>rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya sendiri membutuhkan belas kasih, dan<br>cukup beriman untuk percaya bahwa Tuhan dapat menyembuhkan apa yang tidak<br>mampu ia sembuhkan sendiri.<br>Maka, Saudara-saudariku terkasih, janganlah kita membawa terlalu banyak beban<br>dendam dalam perjalanan hidup kita. Hidup ini sudah cukup berat tanpa harus kita<br>tambahkan dengan kemarahan yang kita simpan sendiri. Mari kita belajar meletakkan<br>beban itu di hadapan Tuhan. Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita menyelesaikan<br>semua luka dalam hidup kita sekaligus. Mungkin Ia hanya meminta satu langkah kecil,<br>maukah kita mulai mengampuni satu orang? Mari kita mulai. Bukan besok, bukan nanti,<br>tetapi dari hati kita hari ini.<br>Sebab ketika kita mengampuni, kita tidak kehilangan apa-apa. Kita justru<br>mendapatkan kembali kebebasan hati, kedamaian, dan ruang untuk mengasihi. Ketika<br>satu hati dibebaskan dari dendam, satu keluarga bisa menjadi lebih damai. Ketika satu<br>keluarga berdamai, komunitas menjadi lebih kuat. Dan ketika semakin banyak hati<br>memilih pengampunan daripada balas dendam, dunia pun perlahan-lahan menjadi<br>lebih manusiawi.<br>Semoga kita selalu ingat bahwa kita hidup untuk Tuhan, kita mati untuk Tuhan, dan<br>karena itu hidup kita tidak boleh dikuasai oleh kebencian. Kita adalah orang-orang yang<br>telah lebih dahulu diampuni dan dikasihi. Maka marilah kita menjadi pribadi yang juga<br>mampu mengampuni dan mengasihi. Semoga melalui pengampunan yang kita mulai<br>dari hati sendiri, Tuhan menjadikan keluarga-keluarga kita semakin damai, komunitas<br>kita semakin bersaudara, dan Gereja semakin mampu menjadi tanda belas kasih Allah<br>bagi dunia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Sir. 27:30-28:7; Rom. 14:7-9; Mat. 18:21-35)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita merenungkan tentang bagaimanakita dipanggil untuk hidup sebagai satu komunitas. Kita belajar bahwa hidup bersamatidak selalu mudah. Ada perbedaan, kesalahpahaman, teguran, bahkan ada saat-saatketika kita saling melukai. Namun, sebagai orang beriman, kita tidak dipanggil untukmembiarkan luka dan konflik menghancurkan persaudaraan. Kita dipanggil untuk terusmembangun relasi dalam kasih. Hari ini, Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebihdalam. Kalau kita sungguh ingin hidup dalam kasih, kita harus belajar mengampuni.Pengampunan adalah kata&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15312\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15312","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15312"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15312\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15313,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15312\/revisions\/15313"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}