{"id":15326,"date":"2026-09-15T21:21:03","date_gmt":"2026-09-16T04:21:03","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15326"},"modified":"2026-09-15T21:21:03","modified_gmt":"2026-09-16T04:21:03","slug":"salah-gambar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15326","title":{"rendered":"Salah gambar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lukas 7:31-35<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rabu 16 September 2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pw St. Kornelius, Paus dan Siprianus, Uskup \u2013 Martir<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cKami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis\u201d<\/em> [Luk. 7:32]. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa kaum Farisi dan ahli Taurat salah menggambar Mesias. Konyolnya mereka hidup dan percaya pada gambaran yang salah itu. Kekerasan hati dan keangkuhan religius telah membutakan hati mereka. Akibatnya mereka &nbsp;menolak kebaikan Allah melalui baptisan Yohanes [Luk. 7:30]. Yohanes telah datang dan hidup seperti seorang pertapa, hidup penuh matiraga, tidak makan dan tidak minum anggur, namun orang banyak \u2013 termasuk orang-orang Farisi dan para ahli Taurat \u2013 berkata, \u201cIa kerasukan setan\u201d. Selanjutnya ketika Yesus datang dan hidup seperti orang-orang pada umumnya [makan dan minum], mereka berkata, <em>\u201cLihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa\u201d<\/em> [Luk. 7:33-34]. Di mata mereka, tindakan Yohanes dan Yesus tidak ada yang benar. Sebaik apa pun yang dilakukan Yohanes maupun Yesus, di mata mereka tidak ada yang baik dan benar. Komentar mereka selalu negatif, karena bersumber dari hati yang jahat. Dengan kata lain, mereka bukanlah orang-orang berhikmat [Luk 7: 35]. Mereka benar-benar salah gambar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gambaran salah, informasi yang tidak mencukupi, seringkali melahirkan pelbagai keangkuhan religius dalam komunitas, hidup bersama. Tindakan baik yang dilakukan oleh seseorang dipandang dengan sebelah mata dan dikomentari dengan nada sumbang. Kenyataan semacam ini merupakan potret praktek beriman yang sangat dangkal, sekadar identitas dengan pola pikir yang sempit, dalam bahasa St. Paulus, <em>\u201cseperti<\/em> <em>gong yang berkumandang dan<\/em> <em>simbal<\/em> <em>yang gemerincing<\/em><em>\u201d<\/em> [1Kor. 13:1].<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warta hari iniditutup dengan pernyataan, <em>\u201chikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya\u201d<\/em> [Luk 7:35]. Hikmat tidak lain adalah Tuhan sendiri sebagaima tampak dalam amsal, <em>\u201cKarena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu\u2026\u201d<\/em> [Ams 2:10]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai orang yang berhikmat. Semoga iman kita sungguh mendalam. Semoga kita memiliki gambar yang benar tentang Mesias.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm Lukas 7:31-35 Rabu 16 September 2026 Pw St. Kornelius, Paus dan Siprianus, Uskup \u2013 Martir \u201cKami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis\u201d [Luk. 7:32]. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa kaum Farisi dan ahli Taurat salah menggambar Mesias. Konyolnya mereka hidup dan percaya pada gambaran yang salah itu. Kekerasan hati dan keangkuhan religius telah membutakan hati mereka. Akibatnya mereka &nbsp;menolak kebaikan Allah melalui baptisan Yohanes [Luk. 7:30]. Yohanes telah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15326\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15326","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15326"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15326\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15327,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15326\/revisions\/15327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}