{"id":15341,"date":"2026-09-19T14:50:41","date_gmt":"2026-09-19T21:50:41","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15341"},"modified":"2026-09-19T14:50:41","modified_gmt":"2026-09-19T21:50:41","slug":"minggu-biasa-xxv-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15341","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXV A"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yes. 55:6-9; Flp. 1:27c-24.27a; Mat. 20:1-16)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita diajak merenungkan betapa besar<br>kekuatan pengampunan dalam kehidupan kita. Pengampunan membebaskan hati dari<br>luka, kemarahan, dan keinginan untuk terus menghitung kesalahan orang lain. Hari ini,<br>Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih dalam yakni untuk berhenti menghitung<br>jasa, prestasi, dan hak kita di hadapan Tuhan. Sebab sering kali kita memang mudah<br>mengampuni orang lain, tetapi diam-diam kita masih menyimpan buku catatan di<br>dalam hati, \u201cSaya sudah melakukan ini; saya sudah berkorban sekian; saya sudah<br>melayani sekian lama; mengapa orang itu mendapatkan yang sama dengan saya?\u201d Di<br>situlah perumpamaan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur menjadi sangat<br>menyentuh kehidupan kita. Persoalannya ternyata bukan hanya tentang upah.<br>Persoalannya adalah tentang cara kita memandang Allah dan cara kita memandang<br>sesama.<br>Yesus menceritakan seorang tuan rumah yang sejak pagi-pagi benar keluar<br>mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Ia datang lagi sekitar pukul sembilan, pukul<br>dua belas, pukul tiga, bahkan sampai pukul lima sore. Menarik bahwa Yesus tidak<br>hanya mengatakan bahwa tuan itu \u201cmempekerjakan\u201d mereka. Berkali-kali ia keluar<br>mencari mereka. Mereka yang sejak pagi belum mendapatkan pekerjaan tetap dicari.<br>Mereka yang datang terlambat pun tidak dibiarkan begitu saja. Ketika ditanya mengapa<br>mereka menganggur, mereka menjawab sederhana, \u201cKarena tidak ada orang yang<br>mengupah kami.\u201d Jawaban itu memperlihatkan sebuah kenyataan yang sangat<br>manusiawi, ada orang yang ingin bekerja, tetapi tidak mendapatkan kesempatan; ada<br>orang yang ingin berbuat baik, tetapi tidak diberi ruang; ada orang yang sebenarnya<br>memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah dianggap penting. Dan Tuhan datang mencari<br>mereka.<br>Di sinilah kita dapat memahami wajah Allah dalam Injil hari ini. Allah bukanlah<br>Tuhan yang duduk jauh di atas takhta sambil menunggu manusia datang kepada-Nya.<br>Allah adalah Tuhan yang keluar mencari manusia. Ia mencari kita ketika kita masih kuat,<br>tetapi juga ketika kita sudah merasa terlambat. Ia mencari kita ketika hidup kita sedang<br>berada di puncak, tetapi juga ketika kita merasa gagal, tersisih, atau tidak lagi berguna.<br>Bahkan ketika kita merasa bahwa hidup kita sudah terlalu jauh dari Tuhan, Tuhan tidak<br>berkata, \u201cKamu terlambat.\u201d Ia justru keluar dan berkata, \u201cPergilah juga ke kebun<br>anggur-Ku.\u201d<br>Gambaran ini sangat indah bila kita hubungkan dengan bacaan pertama. Nabi<br>Yesaya berkata, \u201cCarilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya<br>selama Ia dekat!\u201d Tetapi kemudian Yesaya menyampaikan sesuatu yang lebih dalam,<br>\u201cSebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.\u201d Inilah<br>kunci untuk memahami Injil hari ini. Kita sering mengukur Tuhan dengan ukuran kita<br>sendiri. Kita berpikir bahwa karena seseorang bekerja lebih lama, ia pasti harus<br>mendapatkan lebih banyak. Karena seseorang datang lebih dahulu, ia pasti lebih<br>berhak. Karena saya sudah lama melayani Gereja, saya merasa lebih layak. Karena<br>saya sudah banyak berkorban, saya merasa Tuhan seharusnya memberi saya lebih.<br>Tetapi Tuhan berkata, \u201cJalan-Ku bukan jalanmu, dan rancangan-Ku bukan<br>rancanganmu.\u201d<br>Allah memang adil, tetapi keadilan Allah tidak pernah dapat dipisahkan dari kasih<br>dan kemurahan hati-Nya. Para pekerja yang datang pagi-pagi menerima satu dinar,<br>demikian juga mereka yang datang belakangan. Apakah tuan kebun merugikan mereka<br>yang bekerja sejak pagi? Tidak. Ia memberikan kepada mereka tepat seperti yang telah<br>disepakati. Yang membuat mereka kecewa bukan karena mereka menerima kurang,<br>melainkan karena orang lain menerima sama banyaknya. Di sinilah muncul penyakit<br>yang sering kali sangat halus dalam kehidupan kita: iri hati terhadap kebaikan yang<br>diterima orang lain. Kita mungkin tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita tidak bahagia<br>ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang baik.<br>Bukankah hal seperti ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita senang ketika anak<br>kita berhasil, tetapi mengapa hati kita menjadi tidak nyaman ketika anak tetangga lebih<br>berhasil? Kita bersyukur ketika Tuhan memberi kita berkat, tetapi mengapa kita mulai<br>bertanya ketika melihat orang lain mendapat berkat yang lebih besar? Kita tidak<br>kekurangan, tetapi kita merasa kurang karena membandingkan diri dengan orang lain.<br>Kita sebenarnya menerima kasih Tuhan, tetapi kasih itu terasa kecil karena kita sibuk<br>menghitung kasih yang diberikan Tuhan kepada orang lain.<br>Karena itu, perkataan tuan kebun dalam Injil menjadi teguran yang sangat dalam:<br>\u201cIri hatikah engkau, karena aku murah hati?\u201d Dalam bahasa lain, Tuhan seakan-akan<br>bertanya kepada kita, \u201cMengapa kebaikan-Ku kepada orang lain membuatmu tidak<br>bahagia?\u201d Bukankah ini pertanyaan yang pantas kita bawa pulang hari ini? Kadangkadang kita bukan marah karena Tuhan tidak memberkati kita. Kita marah karena Tuhan<br>memberkati orang lain dengan cara yang tidak kita mengerti.<br>Saudara-saudariku terkasih, di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada<br>jemaat di Filipi memberi kita jalan keluar. Paulus berkata bahwa baginya hidup adalah<br>Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia berada dalam suatu pergulatan, tinggal di dunia<br>berarti masih dapat melayani dan menghasilkan buah, sedangkan pergi bersama<br>Kristus berarti masuk ke dalam kepenuhan hidup. Namun Paulus tidak lagi hidup<br>dengan menghitung keuntungan bagi dirinya sendiri. Orientasi hidupnya telah berubah:<br>\u201cYang penting, hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.\u201d Inilah aplikasi yang sangat<br>konkret dari Injil hari ini. Orang yang hidup menurut Injil tidak lagi bertanya pertamatama, \u201cApa yang saya dapat?\u201d tetapi, \u201cApa yang dapat saya berikan?\u201d Ia tidak sibuk<br>menghitung berapa banyak penghargaan yang diterimanya, melainkan apakah<br>hidupnya menghasilkan buah bagi Tuhan dan bagi sesama.<br>Paulus adalah contoh yang sangat kuat. Ia yang dahulu mengejar dan menganiaya<br>para pengikut Kristus justru kemudian dipanggil menjadi pewarta Injil. Kalau Allah<br>menggunakan logika manusia semata, mungkin Paulus tidak akan pernah<br>mendapatkan kesempatan kedua. Tetapi Allah tidak bekerja demikian. Allah melihat<br>bukan hanya masa lalu seseorang, melainkan juga kemungkinan masa depannya. Itulah<br>sebabnya pertobatan selalu mungkin. Itulah sebabnya Gereja tidak boleh menjadi<br>tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna, melainkan rumah bagi<br>orang-orang yang terus-menerus dipanggil untuk bertobat dan bertumbuh.<br>Kita dapat melihat wajah Allah yang sama dalam perumpamaan tentang anak yang<br>hilang dalam Lukas 15. Anak bungsu pergi, menghabiskan hartanya, dan kembali dalam<br>keadaan hancur. Sang kakak yang setia justru merasa tidak diperlakukan adil ketika<br>melihat bapanya menyambut adiknya dengan pesta. Bukankah reaksinya sangat mirip<br>dengan para pekerja yang bekerja sejak pagi? Mereka berpikir, \u201cKami sudah lama setia.<br>Mengapa dia mendapatkan perlakuan yang sama?\u201d Tetapi sang bapa menjawab<br>dengan kasih, \u201cAnakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala<br>kepunyaanku adalah kepunyaanmu.\u201d Dengan kata lain, kasih tidak selalu berarti<br>pembagian yang sama menurut hitungan manusia; kasih berarti memberikan kepada<br>setiap orang apa yang dibutuhkannya untuk hidup dan kembali kepada kepenuhan.<br>Karena itu, perumpamaan hari ini juga berbicara kepada kita tentang orang-orang<br>yang merasa dirinya \u201cdatang terlambat\u201d kepada Tuhan. Mungkin ada orang yang baru<br>sekarang mulai kembali ke Gereja. Mungkin ada yang selama bertahun-tahun jauh dari<br>Tuhan karena kecewa, terluka, atau tersesat. Mungkin ada seseorang yang baru<br>menemukan kembali imannya setelah mengalami kegagalan besar. Janganlah kita<br>berkata, \u201cMengapa baru sekarang?\u201d Sebaliknya, marilah kita bersyukur, \u201cSyukurlah, ia<br>sudah kembali.\u201d Surga tidak pernah iri terhadap pertobatan seseorang. Yesus sendiri<br>berkata bahwa ada sukacita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat<br>(bdk. Luk. 15:7).<br>Lebih jauh lagi, Injil hari ini mengajak kita melihat bahwa setiap orang masih<br>memiliki tempat dalam kebun anggur Tuhan. Tidak ada istilah \u201cterlambat\u201d bagi Allah.<br>Selama seseorang masih hidup, Tuhan masih dapat memanggilnya. Selama seseorang<br>masih memiliki hati, ia masih dapat mengasihi. Selama seseorang masih memiliki<br>kesempatan, ia masih dapat berbuat baik. Bahkan mungkin ada di antara kita yang<br>merasa bahwa dirinya tidak lagi banyak berguna karena usia, penyakit, kegagalan, atau<br>keadaan hidup tertentu. Sabda Tuhan hari ini berkata, Tuhan masih keluar mencari kita.<br>Masih ada tempat bagi kita di kebun anggur-Nya.<br>Kebun anggur Tuhan itu adalah dunia tempat kita hidup sekarang. Keluarga kita<br>adalah kebun anggur Tuhan. Lingkungan kerja kita adalah kebun anggur Tuhan.<br>Komunitas dan lingkungan Gereja adalah kebun anggur Tuhan. Bahkan media sosial,<br>ruang akademik, dan kehidupan masyarakat kita adalah bagian dari kebun anggur<br>tempat kita dipanggil untuk bekerja. Karena itu, menjadi orang Katolik bukan sekadar<br>datang ke gereja pada hari Minggu. Kita dipanggil untuk menjadi pekerja-pekerja Tuhan<br>yang menghadirkan kebaikan, kejujuran, pengampunan, solidaritas, dan kasih di mana<br>pun kita berada.<br>Namun ada satu hal yang perlu kita waspadai, jangan sampai kita sudah lama<br>bekerja di kebun anggur Tuhan, tetapi hati kita justru menjadi seperti pekerja yang iri<br>tadi. Jangan sampai pelayanan membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.<br>Jangan sampai lama menjadi umat membuat kita merasa lebih berhak daripada mereka<br>yang baru datang. Jangan sampai pengalaman, jabatan, atau pengorbanan membuat<br>kita lupa bahwa sejak awal kita semua hanyalah orang-orang yang dipanggil oleh<br>kemurahan hati Allah. Kita tidak berada di kebun anggur karena kita lebih hebat. Kita<br>berada di sana karena Tuhan terlebih dahulu keluar mencari dan memanggil kita.<br>Maka, saudara-saudari terkasih, mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukanlah,<br>\u201cBerapa banyak yang sudah saya kerjakan untuk Tuhan?\u201d Melainkan, \u201cApakah hati saya<br>masih bersukacita ketika Tuhan berbuat baik kepada orang lain?\u201d<br>Yesaya mengingatkan kita, \u201cCarilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.\u201d Paulus<br>mengingatkan kita, \u201cHiduplah berpadanan dengan Injil Kristus.\u201d Dan Yesus<br>mengingatkan kita melalui kebun anggur, jangan iri terhadap kemurahan hati Allah.<br>Ketiganya bertemu pada satu pesan, Allah jauh lebih besar daripada perhitungan kita.<br>Jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan kita. Kasih-Nya lebih luas daripada ukuran kita.<br>Dan rahmat-Nya tidak dapat dipenjarakan oleh kalkulasi manusia.<br>Maka marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sederhana. Kalau kita<br>sudah lama melayani, bersyukurlah. Kalau kita baru mulai kembali, bersyukurlah. Kalau<br>kita sedang kuat, bekerjalah. Kalau kita sedang lemah, jangan menyerah. Kalau kita<br>melihat orang lain menerima berkat, belajarlah bersukacita. Sebab dalam Kerajaan<br>Allah, keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan kita. Pertobatan orang lain bukanlah<br>ancaman bagi kita. Berkat yang diterima orang lain tidak mengurangi kasih Tuhan<br>kepada kita. Kasih Allah bukan kue yang kalau diberikan kepada orang lain lalu bagian<br>kita menjadi lebih kecil. Kasih Allah justru semakin besar ketika dibagikan.<br>Akhirnya, marilah kita mengingat bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan<br>berdiri di hadapan Tuhan bukan dengan membawa daftar panjang jasa kita, melainkan<br>dengan tangan terbuka menerima rahmat-Nya. Pada saat itu kita akan sadar bahwa<br>sejak awal bukan kita yang pertama-tama mencari Tuhan, melainkan Tuhanlah yang<br>terus-menerus mencari kita. Ia keluar pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan pada<br>saat hidup kita hampir berakhir. Dan ketika Ia menemukan kita, Ia berkata, \u201cPergilah<br>juga ke kebun anggur-Ku.\u201d<br>Semoga kita tidak hanya menjadi pekerja yang rajin, tetapi juga menjadi pekerja<br>yang murah hati. Tidak hanya setia bekerja, tetapi juga mampu bersukacita atas<br>kebaikan Tuhan kepada orang lain. Tidak hanya menghitung apa yang sudah kita<br>lakukan, tetapi juga menyadari betapa banyak yang telah Tuhan lakukan bagi kita.<br>Sebab pada akhirnya, kita semua hidup bukan karena jasa kita, melainkan karena<br>rahmat-Nya. Dan rahmat itulah yang membuat kita tetap berdiri, tetap berharap, tetap<br>mengasihi, dan tetap berjalan menuju Kerajaan-Nya. Tuhan memberkati kita semua.<br>Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes. 55:6-9; Flp. 1:27c-24.27a; Mat. 20:1-16)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita diajak merenungkan betapa besarkekuatan pengampunan dalam kehidupan kita. Pengampunan membebaskan hati dariluka, kemarahan, dan keinginan untuk terus menghitung kesalahan orang lain. Hari ini,Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih dalam yakni untuk berhenti menghitungjasa, prestasi, dan hak kita di hadapan Tuhan. Sebab sering kali kita memang mudahmengampuni orang lain, tetapi diam-diam kita masih menyimpan buku catatan didalam hati, \u201cSaya sudah melakukan ini; saya sudah berkorban sekian; saya sudahmelayani&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15341\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15341","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15341"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15341\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15342,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15341\/revisions\/15342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}