{"id":15368,"date":"2026-09-26T16:23:00","date_gmt":"2026-09-26T23:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15368"},"modified":"2026-09-25T21:25:03","modified_gmt":"2026-09-26T04:25:03","slug":"minggu-biasa-xxvia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15368","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXVIA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yeh. 18:25-28; Flp. 2:1-11; Yoh. 21:28-32)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, ada perbedaan kecil tetapi sangat menentukan dalam<br>hidup kita: perbedaan antara mengatakan \u201cya\u201d dan sungguh-sungguh melakukannya.<br>Kita mudah berkata, \u201cYa, saya siap. Ya, saya akan berubah.\u201d Tetapi ketika waktunya tiba,<br>sering kali kata-kata itu berhenti di bibir dan tidak sampai pada tindakan.<br>Yesus hari ini berbicara tentang dua anak yang diminta ayahnya bekerja di kebun<br>anggur. Anak pertama berkata \u201ctidak\u201d, tetapi kemudian menyesal dan pergi. Anak kedua<br>berkata \u201cya\u201d, tetapi tidak pergi. Pertanyaannya, siapa yang melakukan kehendak<br>ayahnya? Jawabannya jelas, bukan yang paling indah perkataannya, melainkan yang<br>melakukan kehendaknya.<br>Di sinilah bacaan pertama dari Yehezkiel membantu kita memahami Injil. Allah tidak<br>mengunci manusia dalam masa lalunya. Orang yang pernah salah masih dapat berbalik<br>dan hidup. Masa lalu bukan penjara dan kegagalan bukan kalimat terakhir. Yang penting<br>ialah ke mana hati kita diarahkan hari ini. Pertobatan bukan sekadar merasa bersalah,<br>tetapi berani mengubah arah hidup.<br>Karena itu, Injil hari ini sebenarnya adalah cermin bagi kita. Jangan-jangan kita sering<br>berkata \u201cya\u201d kepada Tuhan, tetapi belum sungguh-sungguh pergi ke \u201ckebun anggurNya\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita rajin berdoa, berbicara tentang kasih, bahkan aktif dalam Gereja, tetapi<br>apakah semua itu sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama, menjalankan<br>tanggung jawab, dan menggunakan hidup kita?<br>Bacaan kedua menunjukkan kepada kita bagaimana \u201cya\u201d itu seharusnya<br>diwujudkan. Paulus mengajak kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam<br>Kristus Yesus. Kristus tidak berhenti pada kata-kata. Ia mengosongkan diri, mengambil<br>rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan-Nya menjadi<br>pemberian diri.<br>Jadi, ketiga bacaan hari ini bertemu dalam satu pesan: iman harus menjadi tindakan.<br>Yehezkiel berbicara tentang perubahan arah; Injil tentang melakukan kehendak Bapa;<br>dan Filipi menunjukkan Kristus sebagai teladan ketaatan dan pemberian diri.<br>Saudara-saudariku terkasih, kebun anggur Tuhan ada di tempat kita hidup. Bagi<br>orang tua, itu keluarga; bagi guru, ruang kelas; bagi imam, umat dan pelayanan; bagi<br>mahasiswa, kampus, persahabatan, tugas, dan masa depan. Tuhan mungkin tidak<br>meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Ia meminta kesetiaan dalam hal-hal kecil:<br>jujur, bertanggung jawab, mau meminta maaf, mengampuni, menolong, dan menjaga<br>perkataan.<br>Yang indah dari Injil hari ini ialah bahwa anak pertama tidak berhenti pada kata<br>\u201ctidak\u201d. Ia berubah. Maka, jika hari ini kita merasa pernah gagal, jangan berhenti di sana.<br>Jika doa kita mulai kering, mulailah lagi. Jika ada relasi yang rusak, beranilah berdamai.<br>Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, lakukanlah. Tuhan tidak menutup pintu bagi<br>orang yang mau kembali.<br>Dan jangan pula kita sibuk menghakimi orang lain. Kita tidak mengetahui seluruh<br>perjalanan hidup seseorang. Yang saleh masih membutuhkan pertobatan, dan yang<br>pernah jauh dari Tuhan selalu mempunyai kesempatan untuk kembali. Pertanyaan<br>terpenting bukan, \u201cSiapa yang lebih baik daripada saya?\u201d melainkan, apa yang hari ini<br>Tuhan minta saya lakukan?<br>Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita merayakan Ekaristi, Tuhan kembali<br>berkata, \u201cPergilah ke kebun anggur-Ku.\u201d Mungkin selama ini \u201cya\u201d kita belum sempurna.<br>Tetapi hari ini Tuhan memberi kesempatan baru. Semoga kita tidak hanya pandai<br>berkata \u201cya\u201d kepada Tuhan, tetapi berani menjadikan \u201cya\u201d itu nyata dalam kehidupan.<br>Semoga seperti Kristus, kita belajar merendahkan diri, melayani, dan memberikan<br>diri. Dan semoga seperti anak pertama dalam Injil, kita tidak takut mengubah arah ketika<br>sadar bahwa kita sedang berjalan menjauh. Sebab iman yang hidup bukan hanya<br>berkata \u201cya\u201d, tetapi bangun, melangkah, dan melakukan kehendak Bapa. Tuhan<br>memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yeh. 18:25-28; Flp. 2:1-11; Yoh. 21:28-32)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, ada perbedaan kecil tetapi sangat menentukan dalamhidup kita: perbedaan antara mengatakan \u201cya\u201d dan sungguh-sungguh melakukannya.Kita mudah berkata, \u201cYa, saya siap. Ya, saya akan berubah.\u201d Tetapi ketika waktunya tiba,sering kali kata-kata itu berhenti di bibir dan tidak sampai pada tindakan.Yesus hari ini berbicara tentang dua anak yang diminta ayahnya bekerja di kebunanggur. Anak pertama berkata \u201ctidak\u201d, tetapi kemudian menyesal dan pergi. Anak keduaberkata \u201cya\u201d, tetapi tidak pergi. Pertanyaannya, siapa yang melakukan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15368\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15368","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15368"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15369,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15368\/revisions\/15369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}