{"id":15396,"date":"2026-10-03T21:47:52","date_gmt":"2026-10-04T04:47:52","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15396"},"modified":"2026-10-03T21:47:52","modified_gmt":"2026-10-04T04:47:52","slug":"minggu-biasa-xxviia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15396","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXVIIA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar kisah tentang dua anak<br>yang diminta ayahnya bekerja di kebun anggur. Yang satu berkata \u201cya\u201d, tetapi tidak pergi;<br>yang lain berkata \u201ctidak\u201d, tetapi akhirnya pergi. Hari ini Yesus kembali membawa kita ke<br>kebun anggur. Rupanya Tuhan memang sabar sekali dengan kita, minggu lalu kita diajak<br>masuk ke kebun anggur, minggu ini ternyata kita belum boleh pulang! Ada pekerjaan<br>yang harus diselesaikan: menghasilkan buah.<br>Kalau kita memperhatikan bacaan-bacaan hari ini, semuanya berbicara tentang<br>satu hal yang sangat sederhana tetapi sangat dalam, dimana Allah telah memberikan<br>begitu banyak kepada kita, dan Ia mengharapkan hidup kita menghasilkan buah.<br>Pertanyaannya bukan hanya, \u201capa yang sudah Tuhan berikan kepada saya?\u201d tetapi juga,<br>\u201cbuah apa yang sedang saya berikan kembali kepada Tuhan?\u201d<br>Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyanyikan sebuah nyanyian tentang kebun<br>anggur. Pemilik kebun itu melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian, memilih<br>tanah yang subur, mencangkulnya, membersihkannya dari batu, menanam pokok<br>anggur pilihan, membangun menara penjagaan, bahkan membuat tempat pemerasan<br>anggur. Semua dilakukan dengan penuh kasih dan harapan. Tetapi ketika tiba waktunya<br>untuk memetik buah, yang ditemukan justru buah anggur yang asam.<br>Gambaran itu sangat kuat. Allah telah melakukan begitu banyak bagi umat-Nya. Ia<br>memilih, memelihara, melindungi, membimbing, dan memberikan segala yang<br>diperlukan agar umat-Nya hidup baik. Namun Allah tidak hanya mencari kebun yang<br>indah; Ia mencari buah. Dengan kata lain, Tuhan tidak cukup melihat bahwa kita<br>memiliki iman di dalam hati. Ia ingin iman itu menghasilkan sesuatu dalam kehidupan.<br>Injil kemudian memperjelas gambaran tersebut. Kebun anggur itu disewakan<br>kepada para penggarap. Ketika waktunya tiba untuk menerima hasil kebun, sang pemilik<br>mengutus hamba-hambanya. Tetapi para penggarap menolak, menyiksa, bahkan<br>membunuh mereka. Sang pemilik masih mengutus hamba-hamba yang lain. Akhirnya<br>ia mengutus anaknya sendiri. Namun anak itu pun mereka bunuh karena mereka ingin<br>menguasai kebun itu.<br>Di sini kita melihat betapa sabarnya Allah. Ia tidak segera menghukum. Ia berkalikali datang, memberi kesempatan, mengingatkan, dan mengundang manusia untuk<br>bertobat. Tetapi manusia dapat begitu mudah berubah dari pengelola menjadi pemilik.<br>Kita menerima hidup sebagai anugerah, tetapi kadang-kadang kita bertingkah seolaholah hidup ini sepenuhnya milik kita. Kita menerima talenta, tetapi lupa kepada<br>Pemberinya. Kita menerima jabatan, tetapi menggunakannya untuk diri sendiri. Kita<br>menerima kepercayaan, tetapi justru menyalahgunakannya.<br>Karena itu, perumpamaan ini bukan hanya cerita tentang para pemimpin Israel pada<br>zaman Yesus. Perumpamaan ini adalah cermin bagi kita. Kebun anggur itu dapat berupa<br>keluarga kita, komunitas kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan Gereja yang<br>dipercayakan kepada kita. Kita semua adalah penggarap. Tuhan adalah pemiliknya. Dan<br>pada waktunya, Tuhan akan bertanya, \u201capa yang telah engkau lakukan dengan apa yang<br>Kupercayakan kepadamu?\u201d<br>Yesus kemudian berbicara tentang batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan<br>dan justru menjadi batu penjuru. Batu itu menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Kristus<br>yang ditolak justru menjadi dasar keselamatan. Karena itu, kehidupan kita pun harus<br>dibangun di atas Kristus. Bukan di atas ego, gengsi, jabatan, kekayaan, popularitas, atau<br>keinginan untuk menguasai orang lain. Kalau Kristus menjadi batu penjuru, maka<br>seluruh bangunan hidup kita harus diarahkan kepada-Nya.<br>Di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada jemaat di Filipi menjadi sangat<br>penting. Paulus memberikan jalan yang sangat konkret untuk menghasilkan buah yang<br>baik. Ia berkata, \u201cJanganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi<br>nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan<br>dengan ucapan syukur.\u201d Jadi, buah yang Tuhan kehendaki tidak pertama-tama lahir dari<br>kecemasan, ambisi, atau keinginan untuk menguasai. Buah itu lahir dari hati yang<br>percaya kepada Allah.<br>Paulus kemudian mengajak kita memikirkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil,<br>suci, manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Lalu ia menutup<br>dengan ajakan yang sangat praktis, \u201clakukanlah itu!\u201d Jadi, Paulus tidak berhenti pada<br>pikiran yang baik. Kebenaran harus dipikirkan, dihayati, dan dilakukan. Inilah hubungan<br>yang kuat antara ketiga bacaan hari ini, dimana Yesaya berbicara tentang kebun yang<br>seharusnya menghasilkan buah; Yesus berbicara tentang penggarap yang dipanggil<br>untuk menghasilkan buah; Paulus menunjukkan bagaimana buah itu diwujudkan dalam<br>cara berpikir, berdoa, dan bertindak.<br>Saudara-saudariku, Tuhan tidak meminta kita menghasilkan buah yang spektakuler.<br>Ia meminta buah yang nyata. Di dalam keluarga, mungkin buah itu adalah kesediaan<br>mendengarkan. Dalam komunitas, buah itu adalah kemampuan bekerja sama. Dalam<br>pelayanan, buah itu adalah kesetiaan. Dalam pekerjaan, buah itu adalah kejujuran.<br>Dalam menghadapi konflik, buah itu adalah pengampunan. Dalam kehidupan iman,<br>buah itu adalah doa yang membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin<br>peduli kepada sesama.<br>Dan ketika kita merasa hidup kita belum menghasilkan banyak buah, jangan berkecil<br>hati. Ingatlah pemilik kebun dalam bacaan hari ini, ia sabar. Allah masih memberi<br>kesempatan. Selama kita masih diberi waktu, selalu ada kesempatan untuk<br>memperbaiki hidup, meminta maaf, berdamai, memulai kembali, dan menjadi lebih<br>baik. Yang berbahaya bukan pernah menghasilkan buah yang sedikit; yang berbahaya<br>adalah merasa tidak perlu lagi berubah.<br>Mungkin kita juga perlu bertanya, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk<br>menjaga \u201ckebun\u201d tetapi lupa kepada buahnya. Kita bisa sibuk dengan kegiatan Gereja,<br>rapat, program, pelayanan, bahkan banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi apakah<br>orang yang hidup bersama kita sungguh merasakan kasih Tuhan melalui diri kita? Gereja<br>tidak hanya membutuhkan orang yang aktif, tetapi orang yang hidupnya menghasilkan<br>buah.<br>Karena itu, marilah kita kembali kepada Kristus, Sang Batu Penjuru. Dari Dia kita<br>belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki, tetapi memberikan; bukan tentang<br>menguasai, tetapi melayani; bukan tentang mencari pujian, tetapi menghasilkan buah.<br>Dan seperti nasihat Paulus, ketika kecemasan datang, marilah kita membawanya<br>kepada Tuhan dalam doa, sambil tetap melakukan apa yang benar, baik, adil, dan penuh<br>kasih.<br>Saudara-saudariku terkasih, Tuhan telah memberikan kepada kita sebuah kebun<br>anggur, yakni kehidupan kita sendiri. Ia telah memberi waktu, kesehatan, keluarga,<br>sahabat, pendidikan, kesempatan, talenta, pekerjaan, komunitas, dan terutama iman.<br>Semua itu bukan milik kita secara mutlak. Kita adalah pengelolanya. Suatu hari nanti,<br>Tuhan akan datang dan bertanya, \u201cbuah apa yang telah engkau hasilkan?\u201d<br>Semoga ketika saat itu tiba, Tuhan menemukan bukan anggur yang masam,<br>melainkan buah-buah kasih, iman, pengharapan, kesabaran, pengampunan, kejujuran,<br>pelayanan, dan kepedulian. Semoga hidup kita benar-benar dibangun di atas Kristus,<br>Sang Batu Penjuru. Dan semoga, seperti nasihat Santo Paulus, kita tidak hanya<br>memikirkan yang baik, tetapi sungguh-sungguh melakukannya. Dengan demikian, Injil<br>hari ini mengajak kita membawa pulang satu kalimat sederhana: Tuhan telah<br>mempercayakan kebun kepada kita; tugas kita bukan sekadar menjaganya tetap indah,<br>tetapi menghasilkan buah. Dan, Ssmoga hidup kita menjadi kebun yang menyenangkan<br>hati Tuhan dan buah-buahnya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan memberkati kita<br>semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar kisah tentang dua anakyang diminta ayahnya bekerja di kebun anggur. Yang satu berkata \u201cya\u201d, tetapi tidak pergi;yang lain berkata \u201ctidak\u201d, tetapi akhirnya pergi. Hari ini Yesus kembali membawa kita kekebun anggur. Rupanya Tuhan memang sabar sekali dengan kita, minggu lalu kita diajakmasuk ke kebun anggur, minggu ini ternyata kita belum boleh pulang! Ada pekerjaanyang harus diselesaikan: menghasilkan buah.Kalau kita memperhatikan bacaan-bacaan hari ini, semuanya berbicara tentangsatu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15396\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15396","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15396"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15396\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15397,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15396\/revisions\/15397"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}