{"id":15426,"date":"2026-10-10T14:10:18","date_gmt":"2026-10-10T21:10:18","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15426"},"modified":"2026-10-10T14:10:18","modified_gmt":"2026-10-10T21:10:18","slug":"minggu-biasa-xxviiia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15426","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXVIIIA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yes 25:6-10a; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentang<br>kebun anggur. Kita diajak menghasilkan buah yang baik sebagai tanda kasih kepada<br>Tuhan dan sesama. Hari ini, Yesus mengajak kita melangkah dari kebun anggur<br>menuju sebuah pesta pernikahan. Kalau mendengar kata \u201cpesta\u201d, biasanya wajah kita<br>langsung cerah. Apalagi kalau undangannya menyebutkan ada makanan enak!<br>Kadang-kadang, sebelum bertanya siapa pengantinnya, kita sudah lebih dahulu<br>bertanya dalam hati, \u201cMenunya apa, ya?\u201d<br>Yesus bercerita tentang seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan bagi<br>anaknya. Sang raja telah menyiapkan segala sesuatu dan mengundang banyak orang.<br>Namun, ketika saatnya tiba, para undangan justru mencari alasan untuk tidak datang.<br>Ada yang sibuk dengan ladangnya, ada yang mengurus usahanya, bahkan ada yang<br>memperlakukan para utusan raja dengan kejam. Sang raja kemudian mengundang<br>orang-orang yang dijumpai di persimpangan jalan, siapa saja, tanpa memandang<br>kedudukan mereka. Pesta itu tetap berlangsung, sebab kemurahan hati sang raja tidak<br>berhenti hanya karena sebagian orang menolak undangannya.<br>Perumpamaan ini berbicara tentang Kerajaan Allah. Raja menggambarkan Allah,<br>sedangkan pesta pernikahan melambangkan sukacita keselamatan yang disediakanNya. Allah bukan pribadi yang pelit membagikan kebahagiaan. Ia justru menyiapkan<br>perjamuan bagi umat-Nya dan mengundang mereka untuk mengambil bagian di<br>dalamnya. Undangan itu bukan sekadar ajakan menghadiri sebuah acara, melainkan<br>ajakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan menikmati kasih-Nya.<br>Bacaan pertama dari Nabi Yesaya melukiskan undangan Allah itu dengan sangat<br>indah. Tuhan menyiapkan perjamuan bagi segala bangsa, hidangan yang lezat,<br>minuman yang baik, dan sukacita yang melimpah. Lebih dari makanan dan minuman,<br>Tuhan berjanji menghapus air mata dari setiap wajah dan menyingkirkan aib umatNya. Jadi, pesta Allah bukan hanya tentang meja yang penuh makanan, melainkan<br>tentang kehidupan yang dipulihkan, dimana kesedihan mendapat penghiburan, luka<br>memperoleh penyembuhan, dan manusia menemukan kembali harapan.<br>Namun, dalam Injil, ada ironi yang menyedihkan ketika pesta sudah siap, orangorang yang diundang justru tidak mau datang. Mereka memiliki urusan masing-masing.<br>Ladang dan usaha tentu bukan hal yang buruk. Bekerja, mengurus keluarga, dan<br>memenuhi tanggung jawab adalah bagian penting dari hidup. Masalahnya muncul<br>ketika kesibukan yang baik membuat kita melupakan hal yang paling utama. Kita bisa<br>sangat sibuk mencari nafkah, tetapi lupa bersyukur kepada Dia yang memberi<br>kehidupan. Kita bisa punya banyak jadwal, tetapi tidak menyediakan waktu untuk<br>berdoa. Kita bisa selalu hadir dalam berbagai acara, tetapi justru absen ketika Tuhan<br>mengundang kita untuk mendengarkan sabda-Nya dan merayakan Ekaristi.<br>Kadang-kadang, alasan kita pun terdengar sangat rohani, \u201cNanti saya berdoa<br>kalau sudah tenang.\u201d Masalahnya, hidup ini jarang benar-benar tenang! Ketika<br>pekerjaan selesai, muncul urusan lain; ketika satu persoalan beres, datang persoalan<br>berikutnya. Kalau menunggu semua masalah selesai baru mau mendekat kepada<br>Tuhan, jangan-jangan kita baru berdoa ketika sudah tidak punya masalah, dan itu<br>mungkin baru terjadi di surga! Karena itu, jangan menunggu hidup sempurna untuk<br>datang kepada Tuhan. Datanglah justru karena kita membutuhkan-Nya.<br>Ada satu bagian lain dalam Injil yang tidak boleh kita lewatkan, seorang tamu<br>ditemukan tidak mengenakan pakaian pesta. Bagian ini mengingatkan bahwa<br>menerima undangan saja belum cukup. Kita juga perlu menanggapi undangan itu<br>dengan sikap hidup yang sesuai. Iman bukan sekadar tercatat sebagai orang Katolik,<br>hadir dalam upacara, atau memakai tanda-tanda lahiriah keagamaan. Tuhan<br>menghendaki hati yang mau diubah: hati yang mengampuni, tangan yang mau<br>menolong, mulut yang tidak mudah melukai, dan hidup yang memperjuangkan<br>keadilan. Pakaian pesta dapat kita pahami sebagai lambang kesiapan batin untuk<br>hidup sesuai dengan kasih yang kita terima dari Allah.<br>Di sinilah bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi memberi<br>pegangan yang sangat praktis. Paulus mengatakan bahwa ia telah belajar<br>mencukupkan diri dalam keadaan apa pun, ketika berkekurangan maupun ketika<br>berkelimpahan. Ia mampu menghadapi semuanya karena kekuatan yang diberikan<br>Kristus kepadanya. Paulus tidak berkata bahwa hidup selalu mudah. Ia justru<br>menunjukkan bahwa sukacita dan kesetiaan tidak harus menunggu keadaan menjadi<br>sempurna. Kristus menguatkan kita untuk tetap beriman, baik saat hidup terasa<br>lapang maupun ketika kita sedang melewati masa sulit.<br>Paulus juga mengingatkan bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita<br>menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus. Janji ini bukan berarti Tuhan<br>akan memenuhi semua keinginan kita persis seperti yang kita minta. Artinya, kita<br>boleh mengandalkan pemeliharaan-Nya dan belajar menjalani hidup dengan hati yang<br>bersyukur. Orang yang bersyukur tidak berarti tidak pernah mengalami kesulitan; ia<br>hanya tidak membiarkan kesulitan menjadi satu-satunya hal yang dilihatnya. Ia tetap<br>mampu mengenali kebaikan Tuhan, bahkan di tengah hari-hari yang berat.<br>Maka, bagaimana kita menanggapi undangan pesta Tuhan dalam kehidupan<br>sehari-hari? Pertama, sediakanlah waktu bagi Tuhan di tengah kesibukan, bukan<br>hanya ketika ada waktu luang. Kedua, hiduplah dengan hati yang bersyukur dan tidak<br>terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Ketiga, kenakanlah \u201cpakaian<br>pesta\u201d melalui tindakan kasih yang nyata: berdamai dengan keluarga, memberi<br>perhatian kepada orang yang kesepian, membantu mereka yang berkekurangan, dan<br>berani meminta maaf ketika bersalah. Jangan sampai kita rajin datang ke gereja, tetapi<br>orang di rumah justru merasa seperti tinggal bersama orang yang tidak pernah<br>mendengar Injil!<br>Saudara-saudariku terkasih, ada kabar baik dalam Injil hari ini, undangan Allah<br>terbuka luas. Ia memanggil orang-orang dari berbagai tempat dan latar belakang. Tidak<br>seorang pun perlu merasa terlalu kecil, terlalu berdosa, atau tidak pantas untuk<br>datang kepada-Nya. Namun, kasih karunia itu juga mengajak kita untuk berubah. Kita<br>datang sebagaimana adanya, tetapi kita tidak dipanggil untuk tetap hidup dengan cara<br>yang sama.<br>Marilah kita menerima undangan Tuhan dengan hati yang terbuka. Semoga kita<br>tidak terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa bahwa kita sedang diundang<br>menuju sukacita yang lebih besar. Dan ketika kita datang ke perjamuan Tuhan,<br>semoga hidup kita juga menjadi tanda perjamuan itu bagi orang lain, menghadirkan<br>penghiburan bagi yang berduka, harapan bagi yang putus asa, dan kebaikan bagi<br>mereka yang membutuhkan. Sebab, orang yang sungguh menerima undangan kasih<br>Allah akan membawa sedikit suasana pesta ke mana pun ia pergi. Tuhan memberkati<br>kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes 25:6-10a; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentangkebun anggur. Kita diajak menghasilkan buah yang baik sebagai tanda kasih kepadaTuhan dan sesama. Hari ini, Yesus mengajak kita melangkah dari kebun anggurmenuju sebuah pesta pernikahan. Kalau mendengar kata \u201cpesta\u201d, biasanya wajah kitalangsung cerah. Apalagi kalau undangannya menyebutkan ada makanan enak!Kadang-kadang, sebelum bertanya siapa pengantinnya, kita sudah lebih dahulubertanya dalam hati, \u201cMenunya apa, ya?\u201dYesus bercerita tentang seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan bagianaknya. Sang raja&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15426\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15426","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15426","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15426"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15426\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15427,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15426\/revisions\/15427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15426"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15426"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15426"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}