{"id":15440,"date":"2026-10-13T16:43:00","date_gmt":"2026-10-13T23:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15440"},"modified":"2026-10-12T21:44:11","modified_gmt":"2026-10-13T04:44:11","slug":"jangan-mengabaikan-keadilan-dan-kasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15440","title":{"rendered":"Jangan Mengabaikan Keadilan dan Kasih"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP Hugo Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luk 11:42-46<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rabu 14 Oktober 2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warta hari ini kiranya dapat diberi judul \u201csabda celaka\u201d. Sebab didominasi oleh seruan \u201cCelakalah kamu.\u201d Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), \u201ccelaka\u201d berarti mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan kesialan. Karenanya, jika Yesus berseru kepada orang-orang, \u201cCelakalah kamu,\u201d maka kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan nasib sial sungguh akan terjadi pada diri para ahli Taurat dan kaum Farisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga sabda celaka, \u201ccelakalah kamu\u201d ditujukan kepada orang Farisi. Mengapa? Karena mereka mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Mereka melaksanakan kewajiban agama sekadar sebagai ritual, formalitas, dengan tujuan agar dilihat orang. Dengan kata lain, pelaksanaan kewajiban agama bukan merupakan ungkapan pertobatan diri dan kebaikan kepada sesama, melainkan justru wujud dari kesombongan. Yang inti dalam hidup beragama yakni bertindak adil dan mengasihi Allah diabaikan, sementara yang pinggiran [membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran] justru ditekankan. Karenanya, Tuhan Yesus menegaskan, \u201cYang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan\u201d [Luk 11:42]. Para ahli Taurat tidak luput dari sabda celaka, sebab mereka memberikan beban berat kepada orang lain, sementara mereka sendiri tidak mau menyentuh dengan satu jaripun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warta hari ini memberikan memberikan panorama mengenai orang Farisi dan ahli Taurat sebagai pemimpin yang sangat buruk. Mereka suka memerintahkan orang untuk memikul beban hidup yang berat. Mereka memberlakukan aturan kepada orang lain sampai kepada hal yang kecil-kecil, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang egois, hanya pingin dihormati, tetapi tidak mau menghormati. Selain egois, mereka juga egosntris, segala sesuatu harus terarah pada diri mereka, bahkan Tuhan pun harus mengarah pada diri mereka. Sifat gila hormat selalu disertai rasa dengki kepada sesama dan meremehkannya [bdk.Gal.5:26]. Sebab ia menganggap dirinya sebagai sumber kebijaksanaan dan kebenaran. Orang-orang seperti ini kiranya tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Semoga kita didapati oleh Allah sebagai pribdadi yang selalu bertindak benar, adil, dan mengasihi Allah dan sesama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Susdiyanto O.Carm Luk 11:42-46 Rabu 14 Oktober 2026 Warta hari ini kiranya dapat diberi judul \u201csabda celaka\u201d. Sebab didominasi oleh seruan \u201cCelakalah kamu.\u201d Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), \u201ccelaka\u201d berarti mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan kesialan. Karenanya, jika Yesus berseru kepada orang-orang, \u201cCelakalah kamu,\u201d maka kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan nasib sial sungguh akan terjadi pada diri para ahli Taurat dan kaum Farisi. Tiga sabda celaka, \u201ccelakalah kamu\u201d ditujukan kepada orang Farisi. Mengapa? Karena mereka mengabaikan keadilan dan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15440\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15440","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15440","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15440"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15440\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15441,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15440\/revisions\/15441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15440"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15440"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15440"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}