{"id":15458,"date":"2026-10-17T21:45:13","date_gmt":"2026-10-18T04:45:13","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15458"},"modified":"2026-10-17T21:45:13","modified_gmt":"2026-10-18T04:45:13","slug":"minggu-biasa-xxix-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15458","title":{"rendered":"MINGGU BIASA XXIX A"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Yes. 45:1, 4\u20136; 1Tes. 1:1\u20135b; Mat. 22:15\u201321)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentang<br>pesta pernikahan. Allah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam sukacita<br>Kerajaan-Nya. Hari ini, melalui Injil, Yesus mengajak kita memikirkan pertanyaan yang<br>dekat dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalankan tanggung jawab<br>sebagai warga masyarakat, tanpa melupakan bahwa hidup kita pertama-tama adalah<br>milik Allah?<br>Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi<br>sesungguhnya merupakan jebakan, \u201cApakah diperbolehkan membayar pajak kepada<br>Kaisar atau tidak?\u201d Mereka yang bertanya bukan sungguh-sungguh ingin mencari<br>kebenaran. Mereka ingin memojokkan Yesus. Jika Ia menjawab boleh, Ia bisa dituduh<br>tidak setia kepada bangsanya; jika Ia menjawab tidak boleh, Ia bisa dianggap melawan<br>penguasa Romawi. Namun, Yesus tidak terpancing. Ia meminta mereka menunjukkan<br>mata uang, lalu bertanya, \u201cGambar dan tulisan siapakah ini?\u201d Ketika mereka<br>menjawab, \u201cGambar dan tulisan Kaisar,\u201d Yesus berkata, \u201cBerikanlah kepada Kaisar<br>apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu<br>berikan kepada Allah.\u201d<br>Jawaban Yesus bukan sekadar jalan keluar dari sebuah jebakan. Ia memberikan<br>prinsip yang tetap relevan bagi kita. Kita memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan<br>bersama, tetapi tanggung jawab itu tidak boleh membuat kita melupakan Allah.<br>Membayar pajak, menaati hukum yang adil, menjaga ketertiban, dan berkontribusi bagi<br>kebaikan bersama merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.<br>Namun, negara atau penguasa bukanlah Allah. Kekuasaan manusia memiliki batas;<br>martabat manusia, suara hati, dan kewajiban moral tidak boleh diperlakukan seolaholah semuanya berada di tangan penguasa.<br><br>Bacaan pertama dari Kitab Yesaya membantu kita memahami hal ini. Allah<br>menyebut Koresy, seorang raja asing, sebagai alat dalam rencana-Nya untuk menolong<br>umat-Nya. Koresy bukan raja Israel dan tidak mengenal Allah seperti umat pilihan<br>mengenal-Nya, tetapi Allah tetap dapat bekerja melalui dirinya untuk melaksanakan<br>kehendak-Nya. Pesannya sangat mendalam, Allah tetap berdaulat atas sejarah. Ia<br>dapat memakai siapa saja, bahkan orang yang tidak kita duga, untuk membuka jalan<br>bagi kebaikan. Karena itu, kita tidak perlu menganggap kekuasaan manusia sebagai<br>sesuatu yang mutlak, tetapi juga tidak perlu menutup mata terhadap kemungkinan<br>bahwa kebaikan dapat hadir melalui lembaga dan pemimpin duniawi.<br>Dari sini kita belajar bersikap dewasa dalam kehidupan bermasyarakat. Kita boleh<br>memiliki pilihan, pendapat, dan pandangan politik yang berbeda. Perbedaan itu tidak<br>harus merusak persaudaraan. Yang perlu dijaga ialah agar pilihan kita dibimbing oleh<br>suara hati yang jernih, bukan oleh kebencian, tekanan, atau kabar yang belum tentu<br>benar. Dalam politik, seperti juga dalam keluarga dan lingkungan kerja, kita tidak harus<br>selalu sepakat untuk tetap saling menghormati. Jangan sampai karena berbeda pilihan,<br>kita lupa bahwa orang yang berbeda dengan kita tetap saudara yang memiliki martabat<br>yang sama di hadapan Allah.<br>Ada satu hal penting dalam Injil yang sering luput dari perhatian kita. Yesus meminta<br>orang-orang itu menunjukkan mata uang yang bergambar Kaisar. Koin itu membawa<br>gambar sang penguasa. Namun, Kitab Kejadian mengatakan bahwa manusia<br>diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26\u201327). Jika uang membawa gambar<br>Kaisar, manusia membawa gambar Allah. Maka, apa yang harus kita berikan kepada<br>Allah? Bukan hanya waktu beberapa menit untuk berdoa, bukan hanya kehadiran kita<br>di gereja pada hari Minggu, melainkan seluruh hidup: pikiran, kehendak, hati nurani,<br>perkataan, dan tindakan kita.<br>Ilustrasinya sederhana, sebuah telepon genggam perlu diisi daya agar dapat<br>digunakan dengan baik. Kalau baterainya tinggal satu persen, kita mulai panik mencari<br>pengisi daya. Namun, ketika hati kita mulai kehabisan kesabaran, ketika nurani mulai<br>melemah, atau ketika kata-kata kita mulai melukai orang lain, kita sering tidak segera<br>mencari sumber kekuatan rohani. Kita terus berjalan seolah-olah semuanya baik-baik<br>saja. Padahal, doa, sabda Tuhan, Ekaristi, dan hidup dalam komunitas membantu kita<br>mengisi kembali batin, agar kita tidak mudah dikuasai amarah, iri hati, atau keinginan<br>untuk menang sendiri.<br><br>Bacaan kedua, dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika,<br>menunjukkan bagaimana iman kepada Allah menjadi nyata. Paulus bersyukur karena<br>jemaat itu memiliki pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan dalam pengharapan<br>akan Yesus Kristus. Iman tidak berhenti pada kata-kata atau identitas keagamaan. Iman<br>menghasilkan pekerjaan; kasih mendorong pelayanan; dan pengharapan membuat kita<br>tetap tekun ketika keadaan tidak mudah. Inilah cara konkret memberikan kepada Allah<br>apa yang menjadi milik-Nya, yakni dengan membiarkan iman membentuk tindakan kita<br>sehari-hari.<br>Karena itu, jika kita mengaku sebagai orang beriman, pertanyaannya bukan hanya<br>apakah kita rajin berdoa, melainkan juga apakah kehadiran kita membawa kebaikan.<br>Apakah perkataan kita meneguhkan atau justru menjatuhkan? Apakah kita<br>menggunakan hak dan tanggung jawab dengan jujur? Apakah kita menghormati orang<br>yang berbeda pendapat? Apakah kita berani menolak kebohongan, korupsi, dan<br>ketidakadilan, sekalipun sikap itu tidak selalu menguntungkan kita? Pekerjaan iman,<br>usaha kasih, dan ketekunan dalam pengharapan harus terlihat dalam pilihan-pilihan<br>kecil seperti ini.<br>Yesus tidak mengajak kita melarikan diri dari dunia. Ia juga tidak mengizinkan dunia<br>mengambil tempat Allah dalam hati kita. Kita dipanggil untuk hadir di tengah<br>masyarakat sebagai warga negara yang bertanggung jawab sekaligus sebagai murid<br>Kristus yang setia. Ketika kita bekerja dengan jujur, menjalankan kewajiban dengan<br>baik, merawat lingkungan, menghormati hukum yang adil, serta memperjuangkan<br>mereka yang lemah, kita sedang ikut membangun kebaikan bersama. Ketika kita<br>menjaga hati nurani agar tidak dibeli oleh uang, jabatan, atau tekanan kelompok, kita<br>sedang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya.<br>Saudara-saudariku terkasih, marilah kita membawa pulang tiga pesan sederhana.<br>Pertama, laksanakanlah tanggung jawab sebagai warga masyarakat dengan jujur dan<br>bijaksana. Kedua, peliharalah hati nurani agar tetap diterangi oleh Injil, terutama ketika<br>harus mengambil keputusan sulit. Ketiga, biarkan iman menghasilkan pekerjaan nyata,<br>kasih yang melayani, dan pengharapan yang tekun, sebagaimana dipuji Paulus dalam<br>bacaan kedua.<br><br>Kita tidak selalu mampu mengubah seluruh keadaan di sekitar kita. Namun, kita<br>selalu dapat memulai dari cara kita berbicara, bekerja, memilih, dan memperlakukan<br>sesama. Semoga hidup kita menjadi cermin kecil yang memantulkan gambar Allah:<br>bukan melalui kata-kata yang besar, melainkan melalui kejujuran, belas kasih,<br>keberanian membela kebenaran, dan kesediaan membangun persaudaraan.<br>Berikanlah kepada dunia tanggung jawab dan pelayanan yang menjadi bagian kita; dan<br>berikanlah kepada Allah seluruh hati serta hidup kita. Tuhan memberkati kita semua.<br>Amin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Yes. 45:1, 4\u20136; 1Tes. 1:1\u20135b; Mat. 22:15\u201321)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentangpesta pernikahan. Allah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam sukacitaKerajaan-Nya. Hari ini, melalui Injil, Yesus mengajak kita memikirkan pertanyaan yangdekat dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalankan tanggung jawabsebagai warga masyarakat, tanpa melupakan bahwa hidup kita pertama-tama adalahmilik Allah?Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapisesungguhnya merupakan jebakan, \u201cApakah diperbolehkan membayar pajak kepadaKaisar atau tidak?\u201d Mereka yang bertanya bukan sungguh-sungguh ingin mencarikebenaran. Mereka ingin memojokkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15458\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15458","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15458","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15458"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15458\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15459,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15458\/revisions\/15459"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15458"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15458"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15458"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}