{"id":15486,"date":"2026-10-24T09:43:55","date_gmt":"2026-10-24T16:43:55","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15486"},"modified":"2026-10-24T09:43:55","modified_gmt":"2026-10-24T16:43:55","slug":"minggu-biasa-xxx-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15486","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXX A"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Kel. 22:21-27; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita merenungkan<br>kebebasan dan tanggung jawab. Hari ini, Yesus mengajak kita menemukan inti dari<br>seluruh kehidupan beriman yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Ketika<br>seorang ahli Taurat bertanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab,<br>\u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan<br>dengan segenap akal budimu.\u201d Lalu Ia menambahkan, \u201cKasihilah sesamamu manusia<br>seperti dirimu sendiri.\u201d<br>Bagi Yesus, iman bukan sekadar mengetahui banyak perintah, rajin berdoa, atau<br>setia mengikuti Misa. Iman yang sejati harus berakar dalam kasih dan bertumbuh<br>melalui tindakan nyata. Kita tidak dapat mengaku mengasihi Allah yang tidak kita lihat<br>jika kita menutup mata terhadap sesama yang kita jumpai setiap hari.<br>Pesan ini menjadi sangat konkret dalam bacaan pertama. Allah mengingatkan<br>umat-Nya agar tidak menindas orang asing, tidak menyakiti yatim piatu dan janda,<br>serta tidak mengambil keuntungan dari orang miskin. Allah mendengarkan jeritan<br>mereka yang menderita. Artinya, kasih kepada Allah tidak berhenti di altar, tetapi<br>harus mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari.<br>Jika seorang tetangga kita sedang sakit dan tinggal sendirian, kita mungkin tidak<br>mampu membiayai seluruh pengobatannya, tetapi kita bisa menjenguknya,<br>membawakan makanan, atau mengantarnya ke puskesmas. Atau, ketika seorang<br>anak di lingkungan kita kesulitan membayar biaya sekolah, kita bisa membantu sesuai<br>kemampuan, tanpa mempermalukannya. Bahkan ketika kita memperlakukan pekerja<br>rumah tangga secara manusiawi, membayar upahnya dengan layak dan tepat waktu,<br>kita sedang mewujudkan kasih yang dikehendaki Allah.<br>Kasih juga diuji di dalam keluarga. Seorang suami mungkin pulang dalam<br>keadaan lelah, tetapi tetap berusaha mendengarkan cerita istrinya. Seorang istri<br>mungkin sedang banyak beban, tetapi suami tidak menambah bebannya dengan katakata kasar. Orang tua tidak hanya menuntut anak agar patuh, tetapi juga menyediakan<br>waktu untuk mendengarkan mereka. Anak-anak pun belajar mengasihi ketika bersedia<br>membantu orang tua tanpa harus selalu disuruh. Kadang-kadang, tanda kasih yang<br>paling besar bukanlah hadiah yang mahal, melainkan waktu, perhatian, kesabaran,<br>dan kesediaan untuk mengerti.<br>Saudara-saudariku terkasih, kasih tidak selalu mudah. Di tempat kerja, misalnya,<br>kita mungkin tergoda menjatuhkan rekan agar terlihat lebih unggul. Dalam<br>masyarakat, kita bisa tergoda menyebarkan kabar buruk tentang orang lain hanya<br>karena berbeda pilihan atau pendapat. Di media sosial, kita mudah menulis komentar<br>yang menyakitkan karena merasa aman di balik layar. Namun, mengasihi berarti<br>berani menahan diri, memeriksa kebenaran sebelum membagikan berita,<br>menghormati orang yang berbeda pendapat, dan menolak mengambil keuntungan<br>dengan cara yang merugikan orang lain.<br>Bacaan kedua memperlihatkan buah dari kasih yang hidup. Santo Paulus memuji<br>jemaat di Tesalonika karena mereka menerima Injil dengan sukacita dan menjadi<br>teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Iman mereka tidak berhenti sebagai kata-kata,<br>tetapi menjadi kesaksian yang dapat dilihat dan dirasakan. Demikian pula, orang lain<br>seharusnya tidak hanya mendengar bahwa kita adalah orang Kristiani, tetapi<br>mengalami kebaikan Kristus melalui hidup kita. Ketika kita tetap jujur meskipun ada<br>kesempatan untuk berbuat curang, tetap mengampuni meskipun pernah disakiti, dan<br>tetap menolong meskipun tidak mendapat pujian, di situlah Injil menjadi nyata.<br>Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah orang-orang di<br>rumah merasa dikasihi oleh kita? Apakah kehadiran kita di tempat kerja membawa<br>damai atau justru menambah beban? Apakah orang miskin dan mereka yang tersisih<br>merasa dihargai ketika berjumpa dengan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk<br>membuat kita berkecil hati, melainkan untuk menolong kita bertumbuh dalam kasih.<br>Saudara-saudariku terkasih, Ekaristi yang kita rayakan adalah perjumpaan<br>dengan Kristus yang menyerahkan diri-Nya karena kasih. Ketika menerima Tubuh<br>Kristus, kita pun diutus untuk menjadi tanda kasih-Nya bagi dunia. Jangan biarkan<br>kasih berhenti ketika Misa selesai. Bawalah kasih itu pulang ke rumah, ke tempat<br>kerja, ke komunitas, dan ke tengah masyarakat.<br>Kasihilah Allah dengan sepenuh hati, dan kasihilah sesama melalui tindakan<br>nyata. Mulailah dari satu tindakan kecil hari ini, menyapa orang yang sering kita<br>abaikan, meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, atau membantu seseorang yang<br>sedang mengalami kesulitan. Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang<br>pandai berbicara tentang kasih, tetapi orang-orang yang sungguh-sungguh<br>menghadirkan kasih. Semoga Tuhan meneguhkan hati kita agar tidak pernah lelah<br>mengasihi, bahkan ketika kasih itu menuntut pengorbanan. Tuhan memberkati kita<br>semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Kel. 22:21-27; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita merenungkankebebasan dan tanggung jawab. Hari ini, Yesus mengajak kita menemukan inti dariseluruh kehidupan beriman yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Ketikaseorang ahli Taurat bertanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab,\u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dandengan segenap akal budimu.\u201d Lalu Ia menambahkan, \u201cKasihilah sesamamu manusiaseperti dirimu sendiri.\u201dBagi Yesus, iman bukan sekadar mengetahui banyak perintah, rajin berdoa, atausetia mengikuti Misa. Iman&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15486\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15486","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15486"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15486\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15487,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15486\/revisions\/15487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}