{"id":15548,"date":"2026-11-07T20:07:45","date_gmt":"2026-11-08T04:07:45","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15548"},"modified":"2026-11-07T20:07:45","modified_gmt":"2026-11-08T04:07:45","slug":"minggu-biasa-xxxii-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15548","title":{"rendered":"Minggu Biasa XXXII A"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>(Keb. 6:13-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah<br>mengalami situasi ketika harus menunggu seseorang. Ada yang menunggu teman<br>datang, menunggu pesanan makanan, menunggu hasil ujian, bahkan menunggu<br>seseorang yang berjanji akan datang tetapi tidak kunjung muncul. Kalau menunggu<br>terlalu lama, biasanya kita mulai gelisah. Berkali-kali melihat jam, memeriksa HP,<br>bahkan bertanya, \u201cJadi datang atau tidak, sih?\u201d Rupanya, menunggu memang<br>membutuhkan kesabaran. Tetapi lebih daripada itu, menunggu juga membutuhkan<br>persiapan.<br>Injil hari ini mengisahkan sepuluh gadis yang sedang menantikan kedatangan<br>mempelai laki-laki. Mereka semua membawa pelita. Mereka semua mempunyai<br>tujuan yang sama, yaitu menyambut sang mempelai. Namun, ada satu hal yang<br>membedakan mereka, lima gadis bijaksana membawa persediaan minyak, sedangkan<br>lima lainnya tidak. Ketika mempelai laki-laki terlambat datang dan akhirnya tiba<br>tengah malam, barulah terlihat perbedaan antara mereka. Pelita gadis-gadis yang<br>bijaksana tetap menyala, sementara pelita gadis-gadis yang bodoh mulai padam.<br>Mereka pun sibuk mencari minyak, tetapi ketika kembali, pintu sudah tertutup.<br>Saudara-saudariku, menarik bahwa dalam perumpamaan ini, kesepuluh gadis<br>sebenarnya sama-sama menantikan mempelai. Mereka sama-sama membawa pelita<br>dan sama-sama tertidur karena mempelai tidak kunjung datang. Jadi, persoalannya<br>bukan karena lima gadis bijaksana tidak pernah mengantuk, sementara lima lainnya<br>tertidur. Persoalannya terletak pada persiapan mereka. Gadis-gadis bijaksana<br>menyadari bahwa kedatangan mempelai bisa saja terlambat. Karena itu, mereka<br>mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut. Sementara gadis-gadis yang bodoh<br>hanya mempersiapkan diri untuk keadaan yang mereka harapkan, bukan untuk<br>kenyataan yang mungkin terjadi.<br>Di sinilah kita menemukan pesan penting Injil hari ini, iman bukan hanya soal<br>menantikan Tuhan, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Kita tidak<br>cukup hanya mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, rajin berdoa, atau hadir<br>dalam perayaan Ekaristi. Semua itu tentu penting. Namun, iman harus terus dipelihara<br>dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai pelita iman kita tampak<br>menyala ketika berada di gereja, tetapi mulai redup ketika kita kembali ke rumah,<br>tempat kerja, sekolah, atau ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.<br>Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan memberikan dasar yang sangat indah<br>bagi pesan Injil ini. Dikatakan bahwa kebijaksanaan itu mudah ditemukan oleh mereka<br>yang mencarinya dan bahkan mendahului mereka yang merindukannya.<br>Kebijaksanaan tidak hanya dimiliki oleh orang yang berpendidikan tinggi atau<br>mempunyai banyak gelar. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk melihat<br>kehidupan dengan terang Allah, memilih yang benar, dan menjalani hidup sesuai<br>dengan kehendak-Nya.<br>Lima gadis yang bijaksana dalam Injil menunjukkan bahwa kebijaksanaan bukan<br>sekadar mengetahui apa yang harus dilakukan, melainkan sungguh-sungguh<br>mempersiapkan diri dan melakukannya. Mereka tidak menunggu sampai pelitanya<br>padam baru mencari minyak. Mereka sudah memikirkan kebutuhan itu sejak awal.<br>Demikian pula dalam hidup kita. Orang yang bijaksana tidak menunggu sampai<br>keluarganya berantakan baru belajar membangun komunikasi. Tidak menunggu<br>sampai hubungannya dengan Tuhan menjadi jauh baru mulai berdoa. Tidak menunggu<br>sampai kehilangan kepercayaan orang lain baru belajar jujur. Kebijaksanaan menuntut<br>kita untuk melakukan hal yang baik sebelum semuanya terlambat.<br>Saudara-saudariku terkasih, kita mungkin bertanya, apa sebenarnya minyak yang<br>harus kita persiapkan? Minyak itu dapat kita pahami sebagai gambaran iman yang<br>hidup, kasih yang nyata, kesetiaan, pengampunan, dan tanggung jawab yang terus kita<br>bangun. Minyak itu tidak bisa dipinjam begitu saja ketika saatnya tiba. Kita memang<br>bisa saling membantu, saling mendoakan, dan saling menguatkan, tetapi tidak<br>seorang pun dapat menggantikan tanggung jawab pribadi kita untuk mengasihi Tuhan<br>dan sesama. Iman orang tua tidak otomatis menjadi iman anak-anaknya. Kesalehan<br>pasangan tidak otomatis membuat pasangannya menjadi saleh. Kita boleh bersyukur<br>mempunyai keluarga yang baik, komunitas yang mendukung, dan teman-teman yang<br>saleh, tetapi pada akhirnya setiap orang harus memelihara pelita imannya sendiri.<br>Ada satu hal lagi yang menarik dalam perumpamaan ini, mempelai laki-laki<br>datang pada tengah malam, pada saat yang tidak diperkirakan. Ini ini mau mengatakan<br>bahwa Tuhan dapat hadir dan memanggil kita pada waktu yang tidak kita ketahui.<br>Karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda kebaikan. Jangan pernah menunda<br>mengunjungi orang tua, memperbaiki hubungan dengan saudara, membantu orang<br>yang membutuhkan, atau kembali mendekat kepada Tuhan. Kita sering merasa masih<br>punya banyak waktu. Padahal, tidak seorang pun sungguh-sungguh mengetahui<br>berapa lama waktu yang tersedia baginya.<br>Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika<br>memberikan peneguhan yang sangat penting. Paulus berbicara tentang mereka yang<br>telah meninggal dunia dan mengingatkan jemaat agar tidak berdukacita seperti orangorang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Mengapa? Karena kita percaya bahwa<br>Yesus telah wafat dan bangkit kembali. Mereka yang meninggal dalam Kristus juga<br>akan dibangkitkan dan dipersatukan dengan-Nya. Dengan demikian, kehidupan orang<br>beriman tidak berakhir pada kematian. Kita mempunyai harapan akan kehidupan kekal<br>bersama Tuhan. Bacaan kedua ini kiranya bisa membantu kita untuk memahami<br>mengapa Injil mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga. Kita menantikan kedatangan<br>Tuhan bukan dengan ketakutan, melainkan dengan pengharapan. Kita tidak tahu<br>kapan Tuhan memanggil kita, tetapi kita percaya bahwa hidup kita sedang berjalan<br>menuju perjumpaan dengan-Nya. Maka, berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam<br>kecemasan, seolah-olah setiap saat kita harus takut sesuatu yang buruk akan terjadi.<br>Berjaga-jaga berarti menjalani hari ini dengan penuh iman, kasih, dan tanggung jawab,<br>sebab kita tahu bahwa hidup ini mempunyai tujuan, yaitu persatuan dengan Allah.<br>Karena itu, harapan akan kebangkitan seharusnya membuat kita semakin<br>bersemangat menjalani kehidupan sekarang. Kita tidak boleh menggunakan alasan<br>bahwa dunia ini sementara untuk mengabaikan tanggung jawab. Justru karena hidup<br>ini berharga dan mempunyai tujuan kekal, kita harus mengisinya dengan hal-hal yang<br>baik. Kita bekerja dengan jujur, mengasihi keluarga, melayani sesama, mengampuni<br>mereka yang bersalah kepada kita, dan berusaha menjadi pembawa damai. Inilah<br>cara kita menjaga agar pelita iman tetap menyala.<br>Saudara-saudariku terkasih, mungkin kita tidak bisa melakukan hal-hal besar<br>setiap hari. Kita juga tidak selalu berhasil menjadi pribadi yang sempurna. Kadangkadang kita masih mudah marah, tersinggung, mengeluh, atau kehilangan kesabaran.<br>Tetapi jangan berkecil hati. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna dalam<br>sekejap. Ia mengundang kita untuk terus bertumbuh dan setia dalam perkara-perkara<br>kecil. Satu doa yang diucapkan dengan tulus, satu pengampunan yang diberikan<br>dengan rendah hati, satu kunjungan kepada orang sakit, satu tindakan jujur ketika<br>tidak ada orang yang melihat, semuanya dapat menjadi minyak yang menjaga pelita<br>iman kita tetap menyala.<br>Jangan sampai kita begitu sibuk mempersiapkan banyak hal dalam kehidupan ini,<br>tetapi lupa mempersiapkan hati. Kita mempersiapkan rumah agar nyaman, pekerjaan<br>agar berhasil, masa depan agar terjamin, bahkan perjalanan beberapa hari saja bisa<br>direncanakan dengan sangat teliti. Tetapi jangan sampai untuk perjalanan menuju<br>kehidupan kekal, kita justru tidak mempunyai persiapan apa-apa. Jangan sampai<br>koper kehidupan kita penuh dengan berbagai pencapaian duniawi, tetapi pelita iman<br>kita kehabisan minyak! Akhirnya, berjaga-jagalah bukan karena takut akan kedatangan<br>Tuhan, melainkan karena kita mengasihi-Nya dan rindu berjumpa dengan-Nya.<br>Semoga ketika Sang Mempelai datang, Ia menemukan pelita kita tetap menyala,<br>menyala oleh iman, diterangi oleh harapan, dan dipenuhi oleh kasih. Tuhan<br>memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Keb. 6:13-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernahmengalami situasi ketika harus menunggu seseorang. Ada yang menunggu temandatang, menunggu pesanan makanan, menunggu hasil ujian, bahkan menungguseseorang yang berjanji akan datang tetapi tidak kunjung muncul. Kalau menungguterlalu lama, biasanya kita mulai gelisah. Berkali-kali melihat jam, memeriksa HP,bahkan bertanya, \u201cJadi datang atau tidak, sih?\u201d Rupanya, menunggu memangmembutuhkan kesabaran. Tetapi lebih daripada itu, menunggu juga membutuhkanpersiapan.Injil hari ini mengisahkan sepuluh gadis yang sedang menantikan kedatanganmempelai laki-laki&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=15548\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-15548","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15548"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15548\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15549,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15548\/revisions\/15549"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}