{"id":2619,"date":"2014-07-14T05:01:48","date_gmt":"2014-07-14T12:01:48","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=2619"},"modified":"2014-07-14T05:01:48","modified_gmt":"2014-07-14T12:01:48","slug":"pesta-st-kateri-tekhawita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=2619","title":{"rendered":"Pesta St. Kateri Tekhawita"},"content":{"rendered":"<p>Dalam kunjungannya ke Vatican bulan Februari lalu, Presiden Brazil Dilma Rousseff mengingatkan Paus Fransiskus untuk bersikap netral selama Piala Dunia berlangsung. Bapa Suci mengenang kembali pesan tersebut saat diwawancarai oleh koran Barcelona, La Vanguardia, menjelang partai final antara Argentina vs German. \u201cThe Brazilians asked for neutrality. I&#8217;ll keep my word because Brazil and Argentina are always opponents,&#8221; kata Paus sambil tertawa.<\/p>\n<p>Sikap netral ini secara sederhana bisa diartikan sebagai berada di tengah-tengah dari dua pihak yang berlawanan satu sama lain. Bukan Argentina, bukan Brazil, bukan German, bukan Algeria, bukan Jepang, bukan Ghana, bukan Korea Selatan, dst. Jadi kelihatan bahwa seorang paus tidak boleh memihak tim sepak bola manapun. Harus netral. Meskipun German yang akhirnya keluar sebagai pemenang, menyingkirkan Argentina dengan skor tipis 1-0, orang lalu berpikir kalau-kalau doa Paus Benediktus lebih kuat dari Fransiskus. Apakah demikian? Masing-masing bolehlah menerawang \u2026<\/p>\n<p>Terlepas dari lobi-lobi dalam sepak bola, Injil hari ini menghadirkan pesan Yesus: Aku datang untuk membawa pemisahan. Bukan damai. Bukan ketenangan. Bukan pula sikap netral. Melainkan pedang! Pedang apa yang Yesus maksudkan? Pedang adalah senjata untuk membunuh. Pedang juga adalah taktik untuk mengelabui lawan. Pedang adalah bahasa untuk membasmi. Kata perceraian dan bukan persekutuan. Kata ini dengan cepat mengingatkan orang akan kematian. Bukan hidup. Kematian adalah lawan dari kasih. Dan akhir dari kisah. Ia adalah ungakapan kebencian dalam bentuknya yang paling radikal. Sekali lagi, apakah pedang seperti ini yang dimaksudkan oleh Injil?<\/p>\n<p>Sesungguhnya tidak! Yesus sebaliknya membekali para murid-Nya untuk memiliki kasih. Bahasa kasih lebih kuat dari perang dan kekerasan. Bahasa-bahasa perdamaian lebih bertahan dari ketakutan dan saling memusuhi. Kasih itu abadi. Hidup itu kekal. Yesus mengantisipasi para murid bahwa penganiayaan akan datang sebagai akibat dari mengikuti Dia. Rasa sakit dan kehilangan diri akan menjadi tanda keberpihakan para murid untuk berjalan dalam kebenaran. Yesus membuka pikiran para murid-Nya bahwa mengikuti Dia berarti memikul salib. Bukan pedang tetapi salib. Bukan untuk memusuhi melainkan damai, keramahan dan kebaikan. Inilah jalan Tuhan: Memikul salib dan mengikuti Yesus. Siap untuk dicela. Siap untuk dimaki. Siap untuk ditolak. Siap untuk kalah. Tapi di balik semua itu Yesus berpesan: Jangan takut! Senjata kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Senjata damai tidak lain adalah damai itu sendiri. Kebaikan selalu lebih besar. Dan kesembuhan selalu lebih dari rasa sakit. Demikian juga kehilangan itu menyakitkan. Namun betapa indah dan membahagiakan ketika diri ini ditemukan kembali. Tuhan berpesan agar jangan takut kehilangan demi Dia, karena akan mendapatkannya kembali. Inilah kegembiraan rohani dan harapan Ilahi yang hanya bisa didapat dalam kesetiaan dan ketaatan sebagai seorang murid Yesus.<\/p>\n<p>Hari ini juga kita merayakan pesta St. Kateri Tekhawita. Sebagai orang asli, native American, yang digelari kudus, kita berdoa agar iman dan kesetiaannya yang teguh akan Yesus terpantul pula dalam diri kita yang sedang berziarah di dalam dunia. Iman dan kesetiaan St. Kateri terungkap dalam sebuah kesaksian terkenal: \u201cseorang wanita yang mengerti dengan baik dan menerima dengan tabah penyerahan diri ke dalam misteri Salib, misteri yang mengungkapkan bahwa iman kita dibangun di atas \u2026 paradoks kematian kepada hidup; penderitaan menuju kemuliaan; kekalahan dan kegagalan menuju kemenangan\u201d (Bishop Howard J. Hubbard).<\/p>\n<div style=\"position:absolute;filter:alpha(opacity=0);opacity:0.001;z-index:10;display:none\"><a href=\"http:\/\/a2zwebsolutions.com\/\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/smfac.org.mx\/noticias\/\">jordan 11 72-10<\/a> <a href=\"http:\/\/etender.caanepal.org.np\">72-10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.pearsonexcavating.com\">jordan 11 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/www.jadoreflowers.com\/\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.psdslaw.com\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/smfac.org.mx\/noticias\/\">72-10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.honorrollbjj.com\/contacts\">midnight navy 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.vinegaroonmoon.com\">low bred 13s<\/a> <a href=\"http:\/precisionland.net\">low bred 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/bambooone.com\">low bred 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.emmylou.net\/br4.html\">jordan 11 72-10<\/a> <a href=\"http:\/\/www.elerousa.com\/\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.emmylou.net\/bumberrev.html\">jordan 11 72 10<\/a> <a href=\"http:\/\/thepit-bbq.com\/cache\/banner8.php\/tag\/air-jordan-7-hare\/\">jordan 7 hare<\/a> <a href=\"http:\/\/www.richmontvillage.com\/?nomobile=1\/\">jordan 5 space jam<\/a> <a href=\"http:\/\/imprint180.com\/events\/\">low bred 13s<\/a> <a href=\"http:\/\/lopezappraisal.com\/\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/acoustics.com.au\/gallery\/about-us\">cement tongue 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/gk-usa.org\/objectives\/\">72-10 11s<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam kunjungannya ke Vatican bulan Februari lalu, Presiden Brazil Dilma Rousseff mengingatkan Paus Fransiskus untuk bersikap netral selama Piala Dunia berlangsung. Bapa Suci mengenang kembali pesan tersebut saat diwawancarai oleh koran Barcelona, La Vanguardia, menjelang partai final antara Argentina vs German. \u201cThe Brazilians asked for neutrality. I&#8217;ll keep my word because Brazil and Argentina are always opponents,&#8221; kata Paus sambil tertawa. Sikap netral ini secara sederhana bisa diartikan sebagai berada di tengah-tengah dari dua pihak yang berlawanan satu sama lain&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=2619\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2619","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2619"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2619\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2621,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2619\/revisions\/2621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}