{"id":2683,"date":"2014-08-07T02:31:00","date_gmt":"2014-08-07T09:31:00","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=2683"},"modified":"2014-08-02T20:10:21","modified_gmt":"2014-08-03T03:10:21","slug":"antara-roh-dan-daging","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=2683","title":{"rendered":"Antara Roh dan Daging"},"content":{"rendered":"<p>Yeremia 31:31-34<br \/>\n<a title=\"Mazmur 51 - klik untuk melihat video\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=mD2PJ0xbAdY\" target=\"_blank\"> Mazmur 51 (klik untuk melihat video)<\/a><br \/>\nMatius 16:13-23<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saya rasa hari ini semua bacaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Dimulai dari Yeremia yang bernubuat bahwa perjanjian Allah yang baru tidak akan seperti sebelumnya yang tertulis di loh batu, tetapi akan ditulis dalam hati setiap orang. Semua orang akan mengenal Allah melalui hati mereka. Karena itu seperti dalam lagu di atas, sang Pemazmur berdoa: Buatkanlah di dalamku hati yang murni, Tuhan, dan perbarui aku dengan roh yang teguh. Lalu di bacaan Injil, Petrus mengaku bahwa Yesus adalah anak Allah, sesuatu yang dianggap Yesus bukan diajarkan oleh darah dan daging, tetapi oleh Allah sendiri ke dalam hati Petrus.<\/p>\n<p>Ironisnya, Petrus jugalah yang kemudian dihardik Yesus karena dia menentang jalan sengsara Yesus. Pikiran semacam ini, menurut Yesus, adalah pikiran manusia, bukan pikiran Allah Bapa. Petrus lupa masuk ke dalam hatinya untuk lebih mengerti jalan keselamatan yang dilakukan Tuhan untuk manusia. Petrus hanya berpikir, sebagai murid yang berbakti dia tidak akan membiarkan gurunya ditangkap dan dibunuh. Dia akan membela Yesus sampai titik darah penghabisan.<\/p>\n<p>Petrus melambangkan kita semua, manusia biasa yang mencoba mengikuti Yesus. Ada kalanya kita bisa menyelami hati nurani terdalam kita dan menemukan kehendak Tuhan di sana. Tapi semenit kemudian, kita berpaling dan membiarkan rasa takut atau kekuatiran mengambil kendali pikiran kita. Kehidupan kita sehari-hari penuh pengalaman semacam itu. Refleks kita, nafsu kita, seringkali menjadi reaksi yang pertama, terutama dalam keadaan yang membuat kita merasa terancam, seperti yang dirasakan Petrus. Tapi jika kita refleksikan lebih dalam lagi, baru kita sadar bahwa cara berpikir demikian bukan yang sesuai dengan panggilan kita sebagai murid Tuhan.<\/p>\n<p>Suatu hari saya sedang menyetir di tengah kota Los Angeles. Daerah itu memang ramai sekali. Saya sampai di sebuah stop sign dan saya berhenti sebelum belok ke kanan ke jalan yang besar. Saya melihat ke arah lalu lintas dari sebelah kiri, dan ketika tidak ada mobil saya bergerak maju. Tiba-tiba dari trotoar di sebelah kanan melintas seorang remaja dengan scooternya. Tabrakan tak terhindar. Saya kaget dan langsung bertanya memastikan dia tidak apa-apa. Dia memang tidak terluka, tapi langsung keluar dari mulutnya segala macam sumpah serapah. Dia menantang saya untuk keluar dari mobil. Saya bilang saya tidak mau. Jendela mobil saya waktu itu memang saya turunkan. Tiba-tiba saja dia melayangkan tinjunya ke muka saya. Saya kaget setengah mati. Ketika dia pergi saya berteriak balik dengan marah. Sempat terlintas di pikiran saya untuk menyumpahi dia supaya lain kali dia ketabrak lagi secara lebih parah. Beberapa saat kemudian, setelah adrenalin tidak begitu kencang mengalir, baru saya bisa berpikir bahwa betapa jahat apa yang saya pikirkan sebelumnya. Perasaan saya menjadi kasihan karena anak muda itu tumbuh di lingkungan yang mengutamakan kekerasan dalam bereaksi dalam segala situasi.<\/p>\n<p>Berbahagialah kita karena Tuhan mengerti keadaan manusiawi kita. Petrus, rasul utama, batu tempat berdirinya Gereja, masih bisa jatuh mengutamakan kedagingannya. Walaupun Yesus menghardiknya, tapi Dia kemudian memberi penjelasan padanya. Tuhan tetap setia dan mengasihi kita. Yang kita bisa lakukan adalah selalu mencoba mengingat kembali hati murni yang telah diciptakanNya, tempat Dia menulis perjanjianNya dengan kita untuk selalu menyertai dan mengantar kita ke hidup yang kekal.<\/p>\n<div style=\"position:absolute;filter:alpha(opacity=0);opacity:0.001;z-index:10;display:none\"><a href=\"http:\/\/gk-usa.org\/objectives\/\">jordan 11 72-10<\/a> <a href=\"http:\/\/smfac.org.mx\/industria\/\">72-10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/acoustics.com.au\/gallery\/about-us\">cement tongue 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.marchinc.org\/\">jordan 11 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/www.pearsonexcavating.com\">jordan 11 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/thepit-bbq.com\/cache\/banner8.php\/tag\/air-jordan-7-hare\/\">jordan 7 hare<\/a> <a href=\"http:\/\/www.asams.com\">jordan 11 72 10<\/a> <a href=\"http:\/\/hingedigital.com\/work\/\">playoffs 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/hotelgreenhouse.com\/category\/uncategorized\/\">jordan 11 playoffs<\/a> <a href=\"http:\/\/www.flylyf.com\">Jordan 7 Bobcats<\/a> <a href=\"http:\/\/www.fastresponseonsite.com\/about-us\/\">cement tongue 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.pearsonexcavating.com\">low bred 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.elerousa.com\/\">jordan 7 hare<\/a> <a href=\"http:\/\/www.phiszdesign.com\/\">midnight navy 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.traiteur-lutz.com\/category\/slider\">midnight navy 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/fdva.net\">playoffs 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.vinegaroonmoon.com\">low bred 13s<\/a> <a href=\"http:\/\/bakkersfinedrycleaning.com\/drycleaning-more\/\">low bred 13s<\/a> <a href=\"http:\/\/scjustice.org\/email-sign-up\/\">cement tongue 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/kuykendall-law.com\">jordan 5 midnight navy<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yeremia 31:31-34 Mazmur 51 (klik untuk melihat video) Matius 16:13-23 &nbsp; Saya rasa hari ini semua bacaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Dimulai dari Yeremia yang bernubuat bahwa perjanjian Allah yang baru tidak akan seperti sebelumnya yang tertulis di loh batu, tetapi akan ditulis dalam hati setiap orang. Semua orang akan mengenal Allah melalui hati mereka. Karena itu seperti dalam lagu di atas, sang Pemazmur berdoa: Buatkanlah di dalamku hati yang murni, Tuhan, dan perbarui aku dengan roh yang teguh&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=2683\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2683","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2683","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2683"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2683\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2692,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2683\/revisions\/2692"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2683"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2683"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2683"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}