{"id":3436,"date":"2014-12-14T19:57:53","date_gmt":"2014-12-15T03:57:53","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=3436"},"modified":"2014-12-14T19:57:53","modified_gmt":"2014-12-15T03:57:53","slug":"mental-priyayi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=3436","title":{"rendered":"Mental Priyayi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" id=\"irc_mi\" class=\"aligncenter\" style=\"margin-top: 0px;\" src=\"http:\/\/d.gr-assets.com\/books\/1312785233l\/984819.jpg\" alt=\"\" width=\"285\" height=\"393\" \/><strong>Bacaan Mat 21:23-27<\/strong><\/p>\n<p>Anda pasti kenal analisa klasik Clifford Geertz yang meneliti kehidupan masyarakat Jawa tahun 1960. Dia membagi kelompok masyarakat Jawa berdasarkan praktik agama yang dilakukan yaitu santri, abangan, dan priyayi. Kelompok santri adalah mereka yang serius menjalankan ibadat dan hukum Islam. Sedangkan abangan dan priyayi adalah orang muslim yang mempraktekkan agama Islam bercampur dengan adat\u00a0 budaya Hindu dan tradisional Jawa.<\/p>\n<p>Priyayi adalah kelompok elite masyarakat yang mengatur jalannya pemerintahan, kaum aristokrat ini sudah hidup di masa pra kolonial dan terus dijaga existensinya di masa penjajahan Belanda. Bahkan Belanda sengaja membuat kelompok &#8220;pegawai pemerintah&#8221; ini menjadi kelompok yang dihormati publik, dekat dengan penguasa, dan berada di atas hirarki sosial masyarakat. Orang belanda memanfaatkan para priyayi untuk kepentingan mereka demi menjaga kekuasaan.<\/p>\n<p>Geertz berargumen kalau kelompok priyayi ini dijaga keberadaannya dengan meneruskan sistem hirarki &#8220;kerajaan&#8221; saat Belanda menguasai Mataram (Yogya) dan Surakarta. Seorang yang bekerja untuk pemerintah itu kelompok terpandang, dilayani, dan punya martabat lebih tinggi dari orang kebanyakan. Orang yang tidak bekerja sebagai pegawai pemerintah dianggap orang biasa, tak berpangkat. Pandangan seperti itu membuat orang Jawa berkompetisi dan saling sikut mengalahkan sesamanya demi menjadi pegawai pemerindah dan duduk dalam kelompok aristokrat priyayi.<\/p>\n<p>Pandangan seperti itulah yang diwariskan dalam mentalitas para pegawai pemerintah sekarang ini. Mereka menganggap diri priyayi, pejabat yang harus dilayani dan dihormati, tapi tidak melayani. Mereka beranggapan kalau stasus mereka lebih tinggi dari orang kebanyakan, punya gengsi serta kedudukan, malas melayani dengan tulus, malah sering mempersulit rakyat kebanyakan.<\/p>\n<p>Persis inilah yang dikritik oleh Jokowi dan Ahok pada pegawai pemerintah yang bermental priyayi, malas melayani dan enggan ringan tangan. Kinerja pegawai pemerintah yang bermental priyayi menjadi rendah, tak produktif dan efisien, tidak kompetitif, dan kurang cekatan.<\/p>\n<p>Saat Yesus membubarkan orang yang berdagang di Bait Allah, dia ditantang oleh para pejabat Bait Allah karena para pejabat itu kehilangan mata pencaharian dan keuntungan. Mereka bertanya, &#8220;Atas kuasa apa engkau berbuat demikian?&#8221; Mereka ketakukan karena cara hidup yang enak diusik oleh Yesus, kebiasaan memeras dan mempersulit orang yang beribadah dibabat habis oleh Yesus. Dikemudian hari Yesus mengingatkan para murid kalau para pemimpin negara minta dilayani dan dihormati, tetapi diantara kamu, &#8220;yang paling besar adalah mereka yang melayani dan menjadi yang terakhir di mata dunia.&#8221;<\/p>\n<p>Ayo hilangkan mentalitas priyayi! Menjadi pejabat itu bukan hanya untuk dihormati dan terima gaji, tapi mau melayani serta berproduksi demi kemajuan negeri!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"position:absolute;filter:alpha(opacity=0);opacity:0.001;z-index:10;display:none\"><a href=\"http:\/\/www.vinegaroonmoon.com\">jordan 13 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/dentonrugby.com\">jordan 11 72-10<\/a> <a href=\"http:\/\/www.vinegaroonmoon.com\">low bred 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/fbinfluence.com\/proreplay\/\">jordan 11 72 10<\/a> <a href=\"http:\/\/a2zwebsolutions.com\/\">hare 7s<\/a> <a href=\"http:\/\/4808clinic.com\/news\/\">jordan 13 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/thepit-bbq.com\/cache\/banner8.php\/tag\/air-jordan-7-hare\/\">jordan 7 hare<\/a> <a href=\"http:\/\/kuykendall-law.com\">midnight navy 5s<\/a> <a href=\"http:\/\/emmylou.net\/mk1.html\">72-10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/dentonrugby.com\">72-10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.advactec.com\">low bred 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/tksports.com\">jordan 11 72-10<\/a> <a href=\"http:\/\/kuykendall-law.com\">jordan 5 midnight navy<\/a> <a href=\"http:\/\/hingedigital.com\/work\/\">playoffs 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/smfac.org.mx\/eventos\/\">72 10 11s<\/a> <a href=\"http:\/\/www.pekarekcrandell.com\/\">jordan 11 low bred<\/a> <a href=\"http:\/\/www.vinegaroonmoon.com\">low bred 13s<\/a> <a href=\"http:\/\/hotelgreenhouse.com\/category\/uncategorized\/\">jordan 11 playoffs<\/a> <a href=\"http:\/\/www.jadoreflowers.com\/\">jordan 7 hare<\/a> <a href=\"http:\/\/acoustics.com.au\/gallery\/about-us\">cement tongue 5s<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan Mat 21:23-27 Anda pasti kenal analisa klasik Clifford Geertz yang meneliti kehidupan masyarakat Jawa tahun 1960. Dia membagi kelompok masyarakat Jawa berdasarkan praktik agama yang dilakukan yaitu santri, abangan, dan priyayi. Kelompok santri adalah mereka yang serius menjalankan ibadat dan hukum Islam. Sedangkan abangan dan priyayi adalah orang muslim yang mempraktekkan agama Islam bercampur dengan adat\u00a0 budaya Hindu dan tradisional Jawa. Priyayi adalah kelompok elite masyarakat yang mengatur jalannya pemerintahan, kaum aristokrat ini sudah hidup di masa pra kolonial&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=3436\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-3436","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3436"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3437,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436\/revisions\/3437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}