{"id":4015,"date":"2015-05-15T12:44:37","date_gmt":"2015-05-15T19:44:37","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4015"},"modified":"2015-05-15T12:44:37","modified_gmt":"2015-05-15T19:44:37","slug":"daya-tahan-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4015","title":{"rendered":"Daya Tahan Manusia"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" id=\"irc_mi\" class=\"aligncenter\" style=\"margin-top: 18px;\" src=\"https:\/\/www.whatsapp.com\/img\/fb-post.jpg\" alt=\"\" width=\"332\" height=\"169\" \/><\/p>\n<p>John 16:21-22<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Siapa yang tak pernah pakai Whatsapp? Sebagian dari kita pasti menggunakannya setiap hari. Tahukah kisah dibalik kesuksesannya?<\/p>\n<p><strong>Jan Koum<\/strong>, pendiri <a title=\"whats app\" href=\"http:\/\/www.whatsapp.com\/\">WhatsApp<\/a>, lahir dan besar di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 tahun, ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar \u201cAmerican Dream\u201d.<\/p>\n<p>Di usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan. Untuk bertahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket. \u201cHidup begitu pahit\u201d, Koum membatin.<\/p>\n<p>Hidupnya kian pahit saat ibunya didiagnosa kanker. Mereka bertahan hidup hanya dgn tunjangan kesehatan seadanya. Koum meneruskan\u00a0 kuliah di San Jose state University. Tapi kemudian ia drop out, karena lebih suka belajar programming secara autodidak.<\/p>\n<p><span id=\"more-1051\"><\/span>Karena keahliannya sebagai programmer, Jan Koum diterima bekerja sebagai engineer di <a title=\"yahoo!\" href=\"http:\/\/yahoo.com\">Yahoo!<\/a>. Ia bekerja di sana selama 10 tahun. Di tempat itu pula, ia berteman akrab dengan Brian Acton.Keduanya membuat aplikasi WhatsApp tahun 2009, setelah resign dari Yahoo!. Keduanya sempat melamar ke <a title=\"facebook\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/\">Facebook<\/a> yang tengah menanjak popularitasnya saat itu, namun diitolak.<\/p>\n<p>Setelah WhatsApp resmi dibeli Facebook dengan harga 19 miliar dollar AS (sekitar Rp 224 triliun) beberapa waktu lalu, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu, saat umur 17 tahun, setiap pagi antre untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antre. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang.. Pelan2, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu.<\/p>\n<p>Ia lalu mengenang ibunya yg sudah meninggal karena kanker. Ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. \u201cTak ada uang, Nak\u2026\u201d. Jan Koum tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya.<\/p>\n<p>Kisah diambil dari Iphincow.com.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>John 16:21-22 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Siapa yang tak pernah pakai Whatsapp? Sebagian dari kita pasti menggunakannya setiap hari. Tahukah kisah dibalik kesuksesannya? Jan Koum, pendiri WhatsApp, lahir dan besar&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4015\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4015","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4015"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4015\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4016,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4015\/revisions\/4016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}