{"id":4237,"date":"2015-07-10T19:38:03","date_gmt":"2015-07-11T02:38:03","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4237"},"modified":"2015-07-10T19:38:03","modified_gmt":"2015-07-11T02:38:03","slug":"benedictus-bapa-kaum-pertapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4237","title":{"rendered":"Benedictus, Bapa Kaum Pertapa"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" id=\"irc_mi\" class=\" aligncenter\" src=\"http:\/\/osbnorcia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/bookcover2.jpg\" alt=\"\" width=\"322\" height=\"238\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Pesta Santo Benediktus<\/strong><\/p>\n<p>Benediktus dijuliki &#8220;Bapa kaum pertapa&#8221; (480-547). Saat kuliah di Roma, dia tergerakkan untuk meninggalkan studinya, rumah, keluarga, dan harta warisan yang diberikan orang tuanya. Benediktus pergi ke Subiaco, Utara Roma dan tinggal dalam sebuah gua untuk menjadi pertapa. Beberapa tahun kemudian banyak orang mengikuti jejaknya, tinggal dekat dengan Benedik, hingga akhirnya meminta Benedik menjadi pemimpin kelompok pertapa di Subiaco.<\/p>\n<p>Ada 4 karakter utama kelompok santo Benediktus:<\/p>\n<p>1. Hidup doa dalam Kristus: tujuan hidup para pertapa adalah hidup seutuhnya untuk Allah, mengikuti Kristus sedekat mungkin, dan mentaati aturan hidup membiara. Mereka mendoakan 5x doa Offisi Gereja. Hidup doa mereka mengikuti anjuran santo Paulus untuk berdoa tak kunjung putus.<\/p>\n<p>2. Rendah Hati: Benediktus amat menekankan semangat kerendahan hati. Semakin orang bertekun dalam hidup doa, semakin ia rendah hati. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain bisa membawa orang pada rasa sombong. Oleh karenanya setiap orang hanya bisa membandingkan dirinya dengan Kristus, sehingga kita menyadari bahwa tanpa Allah, kita bukan apa-apa. Thomas Aquinas mengartikan kerendahan hati sebagai: kejujuran, rasa damai, dan terbuka terhadap diri sendiri apa adanya.<\/p>\n<p>3. Ketaatan: Ketaatan adalah jantung hidup pertapa sebab taat adalah kunci keutamaan Yesus yang taat pada kehendak Allah. Baptisan yang kita terima membawa kita pada rasa taat pada kehendak Allah. Yesus memberi teladan untuk taat sampai mati di kayu salib (Phil 2:6-11).<\/p>\n<p>4. Stability: Stabilitas berarti bahwa kehidupan para pertapa tidak akan berpindah-pindah. Ia akan hidup dalam sebuah biara sampai meninggal, dan tak akan pergi dari tempat itu. Semangat ini berbeda dengan semangat para Misionaris yang hidupnya berpindah-pindah demi mencukupi kebutuhan hidup umat.<\/p>\n<p>Hidup para pertapa menginspirasi seluruh orang Kristiani bahwa mengikuti Kristus harus terus diperjuangkan setiap hari, digeluti dengan setia, dan penuh ketaatan. Kita bersyukur kalau di dalam Gereja memiliki para pertapa yang selalu berdoa bagi kebutuhan spiritualitas kaum beriman.<\/p>\n<p>Kini kitapun mendoakan hidup para pertapa agar mereka terus setia menjadi inspirasi kita dalam menjadi dan dekat dengan Allah, lebih dekat lagi!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesta Santo Benediktus Benediktus dijuliki &#8220;Bapa kaum pertapa&#8221; (480-547). Saat kuliah di Roma, dia tergerakkan untuk meninggalkan studinya, rumah, keluarga, dan harta warisan yang diberikan orang tuanya. Benediktus pergi ke Subiaco, Utara Roma dan tinggal dalam sebuah gua untuk menjadi pertapa. Beberapa tahun kemudian banyak orang mengikuti jejaknya, tinggal dekat dengan Benedik, hingga akhirnya meminta Benedik menjadi pemimpin kelompok pertapa di Subiaco. Ada 4 karakter utama kelompok santo Benediktus: 1. Hidup doa dalam Kristus: tujuan hidup para pertapa adalah hidup&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4237\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4237","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4238,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4237\/revisions\/4238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}