{"id":4260,"date":"2015-07-17T15:00:06","date_gmt":"2015-07-17T22:00:06","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4260"},"modified":"2015-07-17T13:54:56","modified_gmt":"2015-07-17T20:54:56","slug":"matius-12-1-8","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4260","title":{"rendered":"Matius 12: 1-8"},"content":{"rendered":"<p>Mat. 12:1-8<\/p>\n<p>Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: &#8220;Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi jawab Yesus kepada mereka: &#8220;Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Philip Neri dalam bukunya: The Fire of Joy mengatakan \u201cketika orang-orang Farisi berusaha untuk membimbing orag dengan hal-hal lahiriah, melalui undang-undang, peraturan, dan kebiasaan, Yesus melihat hati orang, pusat dari pribadinya\u201d.<\/p>\n<p>Yesus beberapa kali mengkritik kemunafikan imam-imam kepala, para tua-tua, dan farisi. mereka yang sebenarnya memimpin dan menuntun orang-orang dengan contoh yang baik malah menggunakan kekuasaan dan statusnya untuk menindas komunitasnya. Bahkan Yesus sendiri menjadi korban dari kemunafikan mereka dengan hukuman yang kejam: kematian.<\/p>\n<p>Yesus juga menunjukkan bahwa walaupun mayoritas pemimpin public adakah koruptor dan selalu munafik, masih ada yang kembali dari kesalahannya dan mengikuti Yesus.<\/p>\n<p>Dalam hidup harian kita, kita juga mengalamai hal yang sama. Sering kita dihadapkan dengan pimpinan kita yang tidak bersih lalu orang dengan mudah mengeneralisasi semua pimpinan tidak baik walau kita sendiri lihat bahwa masih ada juga pemimpin kita yang baik. Jangan biarkan satu sikap\/contoh yang buruk menghancurkan relasi kita dengan yang lain. Kadang kita jua butuh orang laing untuk mengingatkan kita agar kita tidak merasa selalu benar. Dengan kritik dari orang lain mungkin kita lebih mawas diri untuk berbuat lebih baik untuk orang lain.<\/p>\n<p>Kemunafikan dapat merusak dan menyakitkan relasi dengan orang lain. Kemunafikan jaman Yesus tidak beda dengan kemunafikan jaman kita. Adalah sangat penting untuk disadari dan mengerti bahwa kemunafikan adalah satu hal yang bisa menjerumuskan kita kearah yang tidak baik kalau kita tidak berhati-hati. kemunafikan sangat mudah mengancurkan relasi dan opini. Oleh karena itu berhati-hatilah. Janganlah membiarkan kemunafikan membuat hati kita mengeras atau menghancurkan reputasi komunitas kita. Sebagaimana Yesus mencintai semua orang, mari kita lakukan hal yang sama. Lihatlah hati orang sebagai pusat dari pribadi orang itu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mat. 12:1-8 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: &#8220;Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.&#8221; Tetapi jawab Yesus kepada mereka: &#8220;Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4260\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4260","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4260"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4261,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4260\/revisions\/4261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}