{"id":4262,"date":"2015-07-18T12:50:36","date_gmt":"2015-07-18T19:50:36","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4262"},"modified":"2015-07-18T12:50:36","modified_gmt":"2015-07-18T19:50:36","slug":"matius-1214-21","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4262","title":{"rendered":"Matius. 12:14-21"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: &#8220;Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.<\/p>\n<p>Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.&#8221;<\/p>\n<p>Dalam kehidupan kita masing-masing, seringkali ada peristiwa penting atau point tertentu yang sungguh mengubah pandangan atau sikap hidup kita. Hal ini terjadi juga antara Yesus dan orang-orang Farisi. Pertentangan antara Yesus dan orang Farisi sampai pada situasi kritis dan tidak percaya. Pemimpin agama tidak lagi toleransi terhadap apa yang Yesus lakukan. Mereka menghakimi Yesus sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Apapun Yesus katakan atau lakukan tidak ada yang benar dalam pandangan mereka. Konspirasi mereka tidak hanya menolak Yesus akan tetapi sampai mau membuuhNya.<\/p>\n<p>Sebaliknya Yesus menghadapi situasi ini dengan berani dan tegar. Dia menggunakan krisis ini untuk mengajarkan para rasulnya pelajaran yang penting bagaimana menuju ke kerajaan Allah secara sukses dan menang. Salib adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Yesus mengajarkan para muridnya bagaimana bersikap terhadap Tuhan dan sesama. Yesus membawa keadilan melalui cinta ilahi. Dia tidak menyakiti yang lemah atau merendahkan mereka, sebaliknya Dia menunjukan sikap yang mau mengerti. Dia tidak membiarkan mereka yang ada dalam masalah, sebaliknya memberikan mereka peneguhan dan harapan. Kendati sudah tidak berpengharapan dan merasa tidak ada solusi dalam masalah, Yesus selalu siap untuk membawa kepulihan, kasih, harapan dan peneguhan.<\/p>\n<p>Sebagai pengikut Yesus yang mau mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Yesus, kita harus membuka hati kita kepada pengaruh Roh Kudus. Seluruh kehidupan dan kematianya Yesus mengajarkan kepada kita untuk mempunyai sikap hati yang selalu mengarah kepada kehendak Tuhan dalam bimbingan rencana ilahiNya. Hal ini menuntut kerja keras dari pihak kita. Yesus mengajak kita untuk terus memiliki sukacita ketika mengikuti Dia. Biarkan Yesus tetap menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah hilang. Kendati banyak salib yang kita pikul, tetaplah tegar. Dengan melakukkan hal ini kita menunjukan dalam banyak kesempatan kita memikul salib kita dan mengikut Yesus. Inilah jalan kasih yang mengantarkan kita pada kebebasan sejati. Kebebasan yang dijanjikan kepada kita sebagai anak-anak kerajaan Allah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: &#8220;Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4262\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4262","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4262","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4262"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4262\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4263,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4262\/revisions\/4263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4262"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4262"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4262"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}