{"id":4479,"date":"2015-09-20T15:00:43","date_gmt":"2015-09-20T22:00:43","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4479"},"modified":"2015-09-19T21:28:57","modified_gmt":"2015-09-20T04:28:57","slug":"pesta-st-mateus-rasul-dan-pengarang-injil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4479","title":{"rendered":"Pesta St. Mateus Rasul dan Pengarang Injil."},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bacaan: Ef. 4:1-7, 11-13; Mzm. 19:2-3, 4-5; Mat. 9:9-13.<\/strong><\/p>\n<p>Pengalaman perjumpaan antara Yesus dengan Mateus si penarik pajak merupakan penampilan kerahiman Allah yang luar biasa kepada seorang pendosa. Di kalangan masyarakat Yahudi, terutama para pemimpinnya, pekerjaan sebagai penarik pajak dipandang sebagai pekerjaan kotor yang mengkhianati bangsa. Para penarik pajak dipandang sebagai pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur, dll. Alasannya ialah mereka itu sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Dengan kesediaannya mengikuti panggilan Kristus, Mateus memberi teladan kepada kita untuk berani bangkit mengikuti Kristus dan mengikatkan diri kepadaNya dengan hati tak terbagi-bagi oleh hal-hal duniawi lagi.<\/p>\n<p>Sebagai seorang penarik pajak, seperti Zakheus (Luk. 19:1-10), Mateus adalah seorang yang relatif sudah kaya secara ekonomi dalam hidupnya. Apa yang membuat ia langsung berdiri dan mengikuti Yesus, (dengan demikian ia meninggalkan pekerjaannya) setelah mendengar Yesus berkata kepadanya, \u201cIkutlah Aku\u201d? Apakah ia sudah merasa cukup menikmati harta duniawinya, ataukah ia sudah merasa cukup lama bekerja dan menginginkan suasana baru? Ataukah ia merasa sudah sangat malu dengan pekerjaan yang sangat dicela oleh orang Yahudi? Ataukah ia sudah sangat takut akan Allah yang akan menghukum pendosa? Ataukah ia sudah menemukan yang dinanti-natikan umat Israel pada waktu itu yakni kedatangan sang Anak Manusia atau Mesias yang akan membebaskan umat dari penindasan apapun dan memberikan zaman baru yang penuh kedamaian dan keadilan?<\/p>\n<p>Barangkali memang semua hal di atas itu menjadi motivasi Mateus untuk mengikuti Kristus. Mateus, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam Bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek Bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Mateus mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria kira-kira antara tahun 50 \u2013 65 SM. Setelah menuliskan Injilnya, Mateus pergi ke arah timur: ke Macedonia, Mesir, Ethiopia dan Persia. Konon ia mati sebagai martir di Persia karena mewartakan Injil tentang Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Hal-hal apakah yang masih mengikat kita sehari-hari? Apakah hal-hal yang duniawi seperti pekerjaan, uang, sikap hidup hedonis, liberalis, egoistis? Hati Nurani kita sering sudah menjadi tumpul sehingga tidak mampu lagi bersolidaritas dengan penderitaan sesama (bdk. Luk. 7: 31-32). Marilah kita belajar dari keteladanan Mateus Rasul dan pengarang Injil yang bersedia mengikuti Yesus dengan hati yang tak terbagi, terpikat dan terkait pada Kristus, dan rela berkorban demi pewartaan Kabar Gembira tentang Yesus Kristus Penyelamat dunia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Bacaan: Ef. 4:1-7, 11-13; Mzm. 19:2-3, 4-5; Mat. 9:9-13. Pengalaman perjumpaan antara Yesus dengan Mateus si penarik pajak merupakan penampilan kerahiman Allah yang luar biasa kepada seorang pendosa. Di kalangan masyarakat Yahudi, terutama para pemimpinnya, pekerjaan sebagai penarik pajak dipandang sebagai pekerjaan kotor yang mengkhianati bangsa. Para penarik pajak dipandang sebagai pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur, dll. Alasannya ialah mereka itu sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Dengan kesediaannya mengikuti panggilan Kristus,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4479\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4479","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4479"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4479\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4480,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4479\/revisions\/4480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}