{"id":4767,"date":"2015-12-02T15:55:50","date_gmt":"2015-12-02T23:55:50","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4767"},"modified":"2015-12-02T15:55:50","modified_gmt":"2015-12-02T23:55:50","slug":"st-fransiskus-xaverius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4767","title":{"rendered":"St. Fransiskus Xaverius"},"content":{"rendered":"<p>Kamis, 3 Desember 2015<br \/>\nHari Raya Peringatan Santo Fransiskus Xaverius<\/p>\n<figure id=\"attachment_4768\" aria-describedby=\"caption-attachment-4768\" style=\"width: 225px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/melaka-stpaulchurch5.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/melaka-stpaulchurch5-225x300.jpg\" alt=\"Gereja St. Paul, Melaka\" width=\"225\" height=\"300\" class=\"size-medium wp-image-4768\" srcset=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/melaka-stpaulchurch5-225x300.jpg 225w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/melaka-stpaulchurch5-768x1024.jpg 768w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/melaka-stpaulchurch5.jpg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4768\" class=\"wp-caption-text\">Gereja St. Paul, Melaka<\/figcaption><\/figure>\n<p>Yesaya 26:1-6<br \/>\nMazmur 118<br \/>\nMatius 7:21, 24-27<\/p>\n<p>Menjelang saya menerima Sakramen Krisma, saya sibuk mencari nama santo\/santa yang bisa dijadikan nama Krisma saya. Pilihan saya jatuh pada Santo Fransiskus Xaverius, karena pada waktu itu saya berpikir dialah satu-satunya santo yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia. Tidak heran banyak orang Katolik Indonesia nama depannya F.X. Tentu saja suatu bonus juga buat saya karena nama depannya Fransiskus, mengikuti pendahulunya yang dari Assisi. Bukan itu saja, saya memilihnya karena ia juga adalah santo pelindung para misionaris. Saya memang suka jalan-jalan, terutama ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, mempelajari kebiasaan dan kebudayaan di tempat itu. Salah satunya termasuk pergi ke Melaka beberapa tahun lalu dan melihat gereja tempat St. Fransiskus Xaverius dikuburkan, sebelum jenazahnya dipindahkan ke Goa.<\/p>\n<p>Bahwa St. Fransiskus Xaverius menjadi santo pelindung para misionaris memanglah pantas. Dari Eropa dia menjelahi Afrika, India, Malaysia, Indonesia, sampai Jepang. Impian besarnya adalah menyebarkan Injil ke tanah Tiongkok. Tapi sayang ia hanya kesampaan untuk memandang daratan Tiongkok dari Pulau Shangcuan sebelum meninggal dunia karena sakit. Semangatnya untuk menyebarkan Kabar Baik tentang Yesus begitu besar. Bisa kita bayangkan zaman itu untuk berlayar jauh tidaklah mudah. Badai bisa tiba-tiba menghadang. Belum lagi penyakit, kelaparan, dan sebagainya. <\/p>\n<p>Seperti Injil hari ini, di mana digambarkan bahwa hujan, banjir, dan angin ribut tidak akan bisa menggoyahkan mereka yang melaksanakan ajaran Yesus, kita melihat semangat yang sama dalam diri St. Fransiskus Xaverius. Sudahkah kita menanamkan batu fondasi yang kuat itu dalam diri kita? &#8220;Hujan, banjir, dang angin&#8221; macam apa yang menerpa hidup kita saat ini? Bisakah kita bertahan?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 3 Desember 2015 Hari Raya Peringatan Santo Fransiskus Xaverius Yesaya 26:1-6 Mazmur 118 Matius 7:21, 24-27 Menjelang saya menerima Sakramen Krisma, saya sibuk mencari nama santo\/santa yang bisa dijadikan nama Krisma saya. Pilihan saya jatuh pada Santo Fransiskus Xaverius, karena pada waktu itu saya berpikir dialah satu-satunya santo yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia. Tidak heran banyak orang Katolik Indonesia nama depannya F.X. Tentu saja suatu bonus juga buat saya karena nama depannya Fransiskus, mengikuti pendahulunya yang dari Assisi&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4767\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4767","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4767"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4767\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4769,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4767\/revisions\/4769"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}