{"id":4778,"date":"2015-12-07T14:00:08","date_gmt":"2015-12-07T22:00:08","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4778"},"modified":"2015-12-06T19:17:20","modified_gmt":"2015-12-07T03:17:20","slug":"hari-raya-santa-perawan-maria-dikandung-tanpa-noda-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4778","title":{"rendered":"HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">8 Desember 2015<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Seperti kita ketahui hari ini Paus Fransiskus membuka Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Apa itu Kerahiman Allah? Kerahiman Allah terwujud dan memuncak dalam peristiwa Yesus Kristus yang rela menjadi manusia hingga wafat di salib dan bangkit dari antara orang mati. Melalui perkataan, perbuatan dan seluruh pribadi-Nya, Yesus mewahyukan kerahiman Allah. Yesus Kristus menampilkan secara sempurna cinta Allah yang penuh belas kasih dan maharahim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Kita diajak terus-menerus mengisi hidup kita dengan sikap syukur. Kita pantas bersyukur dengan segenap hati atas belas kasih-Nya yang tanpa batas dan terlibat dalam penderitaan manusia. Rasa syukur ini mendorong kita untuk bertobat terus-menerus. Hal ini mendorong kita untuk saling mengampuni. Kita diajak untuk senantiasa bersedia memperbaiki hidup di sekitar kita. Pertobatan tidak berhenti hanya pada penyesalan diri. Kita hendaknya semakin berbelas kasih, saling mengampuni dan memperjuangkan persaudaraan sejati dengan siapa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Ketentraman umat manusia masih jauh dari kenyataan yang kita harapkan. Kebencian yang berakhir dengan kekerasan masih ada di dalam hati manusia. Dunia diliputi oleh atmosfir kegelapan. Melalui doa dan olah rohani yang kita lakukan kita ikut terlibat dalam memberi terang ilahi dalam dunia yang diliputi kegelapan ini. Mungkin kita tidak bisa mengubah segalanya, namun sekurang-kurangnya kita tidak menambah penderitaan dan kegelapan dunia ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Bapa Suci menegaskan <i>\u201cGereja adalah suatu Kisah Kasih, bukan pertama-tama suatu institusi\u201d <\/i>dimana setiap orang mengalami kasih Allah yang tiada batas dan pada gilirannya mengalirkan kasih itu kepada sesama. Bahkan dengan tegas lagi dinyatakan bahwa hanya dengan \u201cjalan cinta kasih\u201d itulah Gereja dapat bertumbuh. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Maka marilah kita tekuni olah rohani kita dalam doa pribadi dan bersama terutama Perayaan Ekaristi, pembacaan dan renungan Kitab Suci bersama keluarga, lingkungan, kelompok doa. Dan tentu saja kita tidak boleh lupa akan tindakan konkrit yang mewujudkan kerahiman Allah kepada mereka yang masih kurang beruntung. <\/span><\/p>\n<p>Rm. Ignatius F. Himawan, MSF<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 8 Desember 2015 Seperti kita ketahui hari ini Paus Fransiskus membuka Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Apa itu Kerahiman Allah? Kerahiman Allah terwujud dan memuncak dalam peristiwa Yesus Kristus yang rela menjadi manusia hingga wafat di salib dan bangkit dari antara orang mati. Melalui perkataan, perbuatan dan seluruh pribadi-Nya, Yesus mewahyukan kerahiman Allah. Yesus Kristus menampilkan secara sempurna cinta Allah yang penuh belas kasih dan maharahim. Kita diajak terus-menerus mengisi hidup kita dengan sikap syukur. Kita pantas bersyukur&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4778\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4778","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4778","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4778"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4778\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4779,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4778\/revisions\/4779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4778"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4778"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4778"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}