{"id":4786,"date":"2015-12-11T14:00:12","date_gmt":"2015-12-11T22:00:12","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4786"},"modified":"2015-12-07T07:45:25","modified_gmt":"2015-12-07T15:45:25","slug":"kekayaan-juga-bisa-membawa-orang-kepada-kebohongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4786","title":{"rendered":"Kekayaan juga bisa membawa orang kepada kebohongan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Hidup dalam kebohongan yang dihayati oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sedemikian padatnya sampai pada titik di mana tiada lain kecuali memusnahkan apa saja yang mengganggu atau menelanjangi kebohongan mereka. Yohanes Pembaptis menelanjangi mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah ular-ular beludak. Di tempat lain Yesus mengatakan bahwa mereka adalah kuburan yang dicat putih luarnya namun busuk di dalamnya. Ungkapan-ungkapan itu adalah penelanjangan kebohongan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Oleh karena itu mereka bersorak gembira ketika Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis dan kemudia bergirang menyalibkan Yesus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Pada masa Adven ini, kita juga diajak untuk berani menelanjangi diri kita. Seringkali kita dengan pikiran dan kerja kita justru tidak perduli lagi dengan pengaruh yang ilahi yang datang dan hadir dalam hidup kita. Kecemasan dan uang sering menjadi andalan hidup kita. Dengan kecemasan dan kegelisahan yang kita hidupi, sebenarnya seakan-akan kita merasa aman dari segala macam tuntutan. Tidak sedikit orang yang lebih senang berada dalam situasi kemurungan untuk menghindari tuntutan dan kewajiban. Mereka memainkan peran sebagai korban padahal sebaiknya mereka justru berperan sebagai pembaharu kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Kekayaan juga bisa membawa orang kepada kebohongan seakan-akan dengan uang orang bisa membeli apa saja. Kebohongan lain muncul dalam bentuk bahwa orang harus bekerja lebih banyak lagi untuk bisa mendapatkan uang sehingga kesejahteraan keluarga bisa tercapai. Memang tidak sedikit keluarga-keluarga dapat membeli barang-barang yang mereka butuhkan untuk memenuhui kebutuhan \u2013kebutuhan dasar yang memungkinkan mereka bisa hidup lebih layak. Namun juga kita melihat semakin memprihatinkannya hubungan personal antar suami-istri; orangtua dan anak-anak. Kerenggangan hubungan antar pribadi bisa mengakibatkan ketegangan dan kegelisahan dalam keluarga. Kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya Yesus yang mampu membawa dan menuntun kita semua kepada kebahagiaan sejati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;\">Marilah kita pada masa menyongsong Natal, kita semakin peka akan bahaya kemurungan dan cinta uang. Kita dipanggil untuk menemukan kegembiraan dan kebahagiaan. Semua itu hanya kita temukan dalam diri Yesus yang datang untuk menuntun kita semua menuju kebahagiaan sejati.<\/span><\/p>\n<p>Rm. Ignatius F. Himawan, msf<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup dalam kebohongan yang dihayati oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sedemikian padatnya sampai pada titik di mana tiada lain kecuali memusnahkan apa saja yang mengganggu atau menelanjangi kebohongan mereka. Yohanes Pembaptis menelanjangi mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah ular-ular beludak. Di tempat lain Yesus mengatakan bahwa mereka adalah kuburan yang dicat putih luarnya namun busuk di dalamnya. Ungkapan-ungkapan itu adalah penelanjangan kebohongan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Oleh karena itu mereka bersorak gembira ketika Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4786\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4786","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4786"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4786\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4787,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4786\/revisions\/4787"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}