{"id":4832,"date":"2015-12-21T08:53:07","date_gmt":"2015-12-21T16:53:07","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4832"},"modified":"2015-12-21T08:53:07","modified_gmt":"2015-12-21T16:53:07","slug":"pengalaman-pribadi-frater-samuel-nasada-ofm-dalam-edisi-khusus-natal-2015","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4832","title":{"rendered":"Pengalaman Pribadi Frater Samuel Nasada OFM dalam edisi Khusus Natal 2015"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright wp-image-4834 size-medium\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/opa-300x200.jpg\" alt=\"opa\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/opa-300x200.jpg 300w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/opa-450x300.jpg 450w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/opa.jpg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><strong>TAHUN BARU TERAKHIR DENGAN OPA<\/strong><\/p>\n<p>Keluarga besar saya mempunyai tradisi untuk merayakan Tahun Baru<br \/>\nbersama-sama. Biasanya kami semua datang ke rumah Opa dan Oma di pusat<br \/>\nkota Jakarta, karena mereka adalah pasangan paling sepuh. Akhir-akhir<br \/>\nini acara pergantian Tahun Baru diadakan di tempat lain seperti villa<br \/>\natau rumah salah satu anggota keluarga lain di luar kota supaya tidak<br \/>\nterlalu merepotkan Oma dan Opa yang harus menyiapkan dan membersihkan<br \/>\nrumah setiap acara.<\/p>\n<p>Menyambut Tahun Baru 2015 kemarin kami pergi ke sebuah kompleks<br \/>\npenginapan di Sawangan. Perayaan kali ini lain dari biasanya. Saya<br \/>\nberkesempatan untuk pulang ke Indonesia dan ikut hadir. Ternyata ini<br \/>\njuga terakhir kali saya bertemu Opa, yang memang sudah sakit-sakitan<br \/>\ndan berumur 94 saat itu. Beberapa waktu sebelumnya, kondisi Opa sudah<br \/>\nmenurun. Ia susah untuk makan dan seperti kehilangan semangat untuk<br \/>\nhidup. Tapi yang terjadi di malam pergantian tahun itu seperti suatu<br \/>\nmujizat.<\/p>\n<p>Di tengah-tengah keluarga besar kami, Opa seperti mendapat energi<br \/>\nbaru. Ia bercanda, tertawa ria dengan kami semua, walaupun harus duduk<br \/>\ndi kursi roda. Ia ikut menyanyi lagu-lagu kesayangannya, dari lagu<br \/>\nzaman Belanda sampai lagu-lagu Batak. Kami membentuk kelompok-kelompok<br \/>\ndi mana setiap kelompok mementaskan lagu atau komedi, terutama<br \/>\nditujukan untuk Opa dan Oma. Dan kelihatan sekali bahwa Opa sangat<br \/>\nmenikmati dan terhibur. Di usianya yang sudah senja itu, Opa dan Oma<br \/>\ntetap terjaga sampai tengah malam dan ikut menikmati acara kembang api<br \/>\nyang dimainkan oleh anak cucunya.<\/p>\n<p>Opa meninggal bulan Juni, sebulan setelah ulang tahunnya ke-95, tepat<br \/>\ndi hari ulang tahun Oma yang ke-90. Ia meninggal dengan tenang saat<br \/>\ntidur di sisi Oma. Tentu saya sedih, tapi kesedihan itu tidak seberapa<br \/>\nkarena saya merasa sudah mengucapkan selamat tinggal dengan sempurna,<br \/>\ndengan memori yang begitu penuh keceriaan dan semangat menikmati<br \/>\nhidup. Pada saat Opa meninggal, saya sempat menuliskan sedikit<br \/>\nrefleksi. Kehidupan Opa, baik di dunia maupun yang baru di surga,<br \/>\nmemberikan inspirasi untuk saya.<\/p>\n<p>&#8220;Tano Batak&#8221;<\/p>\n<p>Di suatu malam di bulan Mei 1996, kami merayakan sebuah pesta<br \/>\nbesar-besaran. Opa dan Oma memasuki tahun kelima puluh perkawinan<br \/>\nmereka, tahun emas. Kami para anak dan cucu bersama Opa dan Oma<br \/>\nmelakukan prosesi memasuki gedung luas di Jakarta Convention Center.<br \/>\nSemua mata tertuju pada kami. Seketika juga, band dan paduan suara<br \/>\nmulai menyanyikan sebuah lagu yang tidak pernah saya dengar dan dalam<br \/>\nbahasa yang tidak saya mengerti. Walau demikian, saya bisa merasakan<br \/>\nkesenduan irama lagu itu yang sangat menyentuh hati. Baru di kemudian<br \/>\nhari setelah saya mencari tahu, lagu itu adalah O Tano Batak.<\/p>\n<p>O Tano Batak, haholonganku. (O Tanah Batak, kesayanganku)<br \/>\nSai na masihol, do au tu ho. (Selalu rindu aku padamu)<br \/>\nDang olo modom, dang nop matakku (Tak bisa tidur, tak bisa terpejam mataku)<br \/>\nSai na malungun do au, sai naeng tu ho.(Selalu kurindukan, kuingin<br \/>\nkembali kepadamu)<\/p>\n<p>Opa dan Oma, seperti kebanyakan orang Indonesia pada sekitar tahun<br \/>\n1960-an, pindah ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik<br \/>\ndi ibukota negara ini. Mereka pergi meninggalkan Tanah Batak yang<br \/>\nmereka cintai, tempat mereka lahir dan dibesarkan. Di Jakarta mereka<br \/>\nmembangun sebuah keluarga besar, yang termasuk bukan hanya mereka yang<br \/>\nberhubungan darah saja, tapi semua orang yang mereka bantu dengan<br \/>\nsukarela dalam mengadu nasib di ibukota. Setiap tahun baru,<br \/>\nberpuluh-puluh orang datang ke rumah mereka yang sederhana untuk<br \/>\nmengucapkan selamat sebagai tanda terima kasih dan kasih sayang pada<br \/>\nOpa dan Oma. Jalan Cibanten yang sempit itu tidak mampu menampung<br \/>\nsedemikian banyak mobil-mobil tamu yang parkir. Rumah yang kecil itu<br \/>\npenuh sesak, tetapi kami selalu merasakan kebahagiaan bisa berjumpa<br \/>\ndengan seluruh keluarga besar.<\/p>\n<p>Selama di Jakarta, Opa dan Oma tidak pernah melupakan tanah asal<br \/>\nmereka. Mereka tetap berhubungan dengan keluarga yang masih ada di<br \/>\nMedan dan sekitarnya. Dalam beberapa pesta, mereka sering ikut<br \/>\nmenyanyi lagu-lagu Batak dan menari tortor. Mereka selalu bersemangat<br \/>\nmenceritakan hidup di Tapanuli jaman dahulu. Sampai akhir hidupnya,<br \/>\nOpa tetap tinggal di Jakarta. Tetapi rasa cintanya pada Tanah Batak,<br \/>\ntanah asalnya, tidak pernah luntur.<\/p>\n<p>O Tano Batak, sai naeng hutatap (O Tanah Batak, aku selalu ingin memandangmu)<br \/>\nDapotonoku, tano hagodangonki (aku ingin pergi ke tanah tempatku dibesarkan)<br \/>\nO Tano Batak, andigan sahat (O Tanah Batak, jikalau mungkin)<br \/>\nAu on naeng mian di ho, sambuloki (aku ingin kembali padamu, tanah asalku)<\/p>\n<p>Di dalam tradisi umat Kristen, kita percaya bahwa semua manusia<br \/>\nberasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Dalam Kitab Wahyu,<br \/>\nYohanes menceritakan bahwa dia mendapat penglihatan tentang Yerusalem<br \/>\nyang baru:<\/p>\n<p>Lalu saya melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Langit pertama<br \/>\ndan bumi pertama pun hilang, serta laut lenyap. Maka saya melihat kota<br \/>\nsuci itu, yaitu Yerusalem yang baru, turun dari surga dari Allah&#8230;.<br \/>\nLalu saya mendengar suara dari takhta itu berseru dengan keras,<br \/>\n\u201cSekarang tempat tinggal Allah adalah bersama-sama dengan manusia! Ia<br \/>\nakan hidup dengan merka, dan mereka akan menjadi umat-Nya. Allah<br \/>\nsendiri akan berada dengan merka dan menjadi Allah mereka. Ia akan<br \/>\nmenyeka segala air mata dari mata mereka. Kematian tidak akan ada<br \/>\nlagi; kesedihan, tangisan, atau kesakitan pun akan tidak ada pula.<br \/>\nHal-hal yang lama sudah lenyap. (Wahyu 21:1-4)<\/p>\n<p>Opa telah pergi untuk hidup tinggal dengan Tuhan. Tidak ada lagi<br \/>\nkesakitan dan kesedihan baginya. Ia telah pergi ke Yerusalem yang<br \/>\nbaru, atau mungkin bagi Opa tempat itu adalah Tanah Batak yang baru,<br \/>\ntempat asalnya yang selalu dirindukannya, tempat di mana dia<br \/>\ndiciptakan dan sekarang hidup senantiasa dalam kepenuhan kasih Allah<br \/>\nBapa, Putra, dan Roh Kudus. Selamat jalan, Opa. Sampai nanti kita<br \/>\nbertemu lagi di Tano Batak yang abadi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TAHUN BARU TERAKHIR DENGAN OPA Keluarga besar saya mempunyai tradisi untuk merayakan Tahun Baru bersama-sama. Biasanya kami semua datang ke rumah Opa dan Oma di pusat kota Jakarta, karena mereka adalah pasangan paling sepuh. Akhir-akhir ini acara pergantian Tahun Baru diadakan di tempat lain seperti villa atau rumah salah satu anggota keluarga lain di luar kota supaya tidak terlalu merepotkan Oma dan Opa yang harus menyiapkan dan membersihkan rumah setiap acara. Menyambut Tahun Baru 2015 kemarin kami pergi ke sebuah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4832\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4832","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4832"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4832\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4836,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4832\/revisions\/4836"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}