{"id":4890,"date":"2016-01-01T08:47:23","date_gmt":"2016-01-01T16:47:23","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4890"},"modified":"2016-01-01T08:47:23","modified_gmt":"2016-01-01T16:47:23","slug":"bunda-yesus-bunda-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4890","title":{"rendered":"Bunda Yesus, Bunda Allah"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-4891\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/01\/bundayesus-169x300.png\" alt=\"bundayesus\" width=\"437\" height=\"768\" \/><\/p>\n<p><strong>Jumat, 1 Januari 2016<\/strong><br \/>\n<strong> Bil 6:22-27\/Gal 4:4-27\/Luk 2:16-21<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum peristiwa Inkarnasi berdirilah seorang wanita yang tidak mengerti apa arti sebuah salam baginya. Salam yang dibawa padanya berbeda sama sekali dari yang biasa diterima oleh seorang perempuan muda. Salam ini tidak biasa bukan karena disampaikan oleh seorang putra mahkota yang tertarik dan ingin menikahinya, tetapi salam itu disampaikan oleh malaikat. Maria berhadapan langsung dengan utusan Allah. Peristiwa ini menggetarkan hatinya karena ia sendiri sudah bertunangan dengan kekasihnya, Jusuf. Karena itu Maria sebagai manusia pastinya merasa bingung. Sebagai manusia muncul keraguan atau semacam konflik dalam diri untuk menerima tawaran Allah atau menerima tawaran Jusuf, yakni menyiapkan dirinya untuk menjadi seorang isteri dari tunangannya itu. &#8220;Bagaimana mungkin itu terjadi, karena aku ini belum bersuami.&#8221;<\/p>\n<p>Peristiwa inkarnasi, Allah menjadi daging, adalah sebuah misteri di luar jangkauan pemahaman manusia. Di dalam inkarnasi, bukan manusia, melainkan Allah yang pertama berinisiatif dan melibatkan diri dalam hidup manusia. Dan Maria berdiri sebagai wanita yang berkenan atas peristiwa agung, mulia dan suci ini. Maria nampak tidak mampu memahami semuanya ini. Namun oleh iman, Ia menjawab &#8220;Ya&#8221; agar rencana Allah terlaksana di dalam dunia. &#8220;Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.&#8221;<\/p>\n<p>Allah mempunyai pendekatan dan cara yang tidak sejalan dengan yang cara dan pendekatan manusia. Dan terhadap misteri Allah, manusia dituntut untuk beriman. Dengan iman ia menaruh harapan-Nya pada penyelenggaraan Allah. Dengan iman manusia membuka hati kepada kasih dan tuntunan Allah. Beriman berarti hidup di dalam Roh di mana kita boleh berdoa dan menyebut Allah sebagai &#8220;Bapa&#8221; serta melaksanakan kehendak-Nya.<\/p>\n<p>Bunda Maria memberi kita contoh bagaimana seharusnya kita beriman.<\/p>\n<p>Pertama-tama, ia terbuka pada kehendak Allah. Allah selalu memberi tawaran keselamatan kepada kita namun hati kita sering tertutup. Pendengaran dan perhatian kita lebih sering dibebani dengan tawaran-tawaran duniawi. Keraguan dan sikap skeptis adalah akibat dari perhatian yang berlebihan terhadap kenikmatan dan urusan dunia. Urusan Allah diabaikan dan bahkan dilupakan sama sekali. Meski dalam keraguan, Maria tetap membuka hati bagi Allah agar Roh Tuhan bekerja di dalam dirinya. Keterpilihan dan iman Maria menarik kita dekat kepada Allah.<\/p>\n<p>Kedua, melalui inkarnasi martabat manusia diangkat dan dibarui oleh Allah kepada hakikatnya yang benar dan rohani sebagai putra-putri Allah sendiri. Inkarnasi memberi definisi baru tentang hidup dan panggilan manusia bukan hanya di dalam kosmos melainkan di hadapan Pencipta kosmos itu sendiri. Dengan inkarnasi segala ciptaan dan tatanannya dilihat bukan menurut sorotan mata manusia melulu melainkan menurut tata cara dan pandangan mata Allah sendiri dalam diri Kristus. Bukan lagi raja-raja dan penguasa-penguasa yang menata dan mengatur hidup manusia dan alam semesta menurut keinginan dan warisan manusia, melainkan dalam terang kesederhanaan dan kelembutan kasih dalam diri Sang Bayi yang lahir di kandang hina. Ketika para gembala menemukan Yesus dibaringkan di dalam tempat minum, palungan binatang, hati dan pikiran mereka berbalik haluan: bukan apa dan siapa-siapa lagi tapi Yesus, Bintang yang sesungguhnya, yang diwartakan.<\/p>\n<p>Ketiga, kisah tentang pertobatan hati dan keselamatan manusia selalu diawali melalui perjumpaan dengan Yang Kudus. Kesederhanaan para gembala dan ketulusan mereka untuk menjumpai Allah yang datang dan tinggal di antara mereka, membawa sukacita dan damai untuk hidup mereka seterusnya.<\/p>\n<p>Semoga di tahun yang baru ini kita semakin meneladani Bunda Allah: teladan kesetiaan dan kerendahan hati. Semoga tahun yang baru ini selalu dijalani bersama dan dengan Yesus. Yesus yang lahir di dalam batin dan tindakan-tindakan kita seperti Bunda Maria. Yesus yang direnungkan selalu dan disimpan di hati kita. Yesus yang membawa damai diwartakan bukan dengan pedang melainkan kasih, agar kehendak Bapa yang terjadi di dalam hati, budi dan jiwa setiap orang yang mendengar dan mentaatinya.<\/p>\n<p>Bunda Allah, doakanlah kami selalu agar di tahun yang baru ini kami terus bertumbuh dalam iman dan kasih, dalam permenungan dan ketaatan akan rencana dan kehendak Allah sendiri.<\/p>\n<p>Happy New Year 2016.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 1 Januari 2016 Bil 6:22-27\/Gal 4:4-27\/Luk 2:16-21 Sebelum peristiwa Inkarnasi berdirilah seorang wanita yang tidak mengerti apa arti sebuah salam baginya. Salam yang dibawa padanya berbeda sama sekali dari yang biasa diterima oleh seorang perempuan muda. Salam ini tidak biasa bukan karena disampaikan oleh seorang putra mahkota yang tertarik dan ingin menikahinya, tetapi salam itu disampaikan oleh malaikat. Maria berhadapan langsung dengan utusan Allah. Peristiwa ini menggetarkan hatinya karena ia sendiri sudah bertunangan dengan kekasihnya, Jusuf. Karena itu Maria&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4890\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4890","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4890"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4890\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4893,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4890\/revisions\/4893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}