{"id":4942,"date":"2016-01-13T14:30:59","date_gmt":"2016-01-13T22:30:59","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4942"},"modified":"2016-01-13T08:49:28","modified_gmt":"2016-01-13T16:49:28","slug":"pengampunan-adalah-bukti-kasih-setia-dan-belaskasihan-allah-kepada-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4942","title":{"rendered":"Pengampunan adalah Bukti Kasih Setia dan Belaskasihan Allah Kepada Kita"},"content":{"rendered":"<p><strong>Hari Kamis Minggu Pertama Masa Biasa<\/strong><br \/>\n<strong> 14 January, 2016<\/strong><\/p>\n<p><strong>1 Samuel 4:1-11<\/strong><br \/>\n<strong> Markus 1:40-45<\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Pengampunan adalah bukti kasih setia dan belaskasihan Allah kepada kita umatNya&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta&#8221; dari bacaan Injil kita hari ini mengingatkan kembali bagaimana perasaan saya ketika pertama kali bersama dengan sejumlah siswa Seminary Menengah, San Dominggo Hokeng, Flores Timur, Indonesia mengunjungi pasien kusta di rumah sakit kusta Lewoleba, Lembata. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana &#8220;mama putih&#8221; dan &#8220;mama hitam&#8221; demikian julukan yang diberikan kepada dua perawat asal German dan Lembata asli; mama putih mengingatkan saya sebagai pemimpin group Seminarians ini untuk bersalaman dengan para penderita kusta ketika kami memasuki kampus rumah sakit itu. Ketika itu saya sedang menjalani internship saya setelah menyelesaikan BA dalam bidang Filsafat dan ditugaskan untuk mengajar di Seminary menengah San Dominggo Hokeng, Flores Timur selama dua tahun. Anda sudah bisa membayangkan juga bagaimana saya begitu takut sampai keringat dingin, teapi saya harus memberanikan diri bersalaman dengan para penderita kusta. Setelah beberapa menit setelah itu saya akhirnya memberanikan diri bersalaman dengan mereka dan sekaligus memberi contoh kepada para siswa seminary yang saya pimpin untuk bisa melakukan hal yang sama. Seharian kami berada di tengah-tengah mereka, dengan pelbagai macam kegiatan seperti bible study\/sharing kitab suci, sambil menciptakan keakraban dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, tidak lupa juga kami bisa berolahraga bersama mereka, bermain volley ball. Akhirnya pada malam hari setelah makan malam para siswa mementaskan sebuah drama untuk menghibur para penderita kusta dan staff di rumah sakit itu. Suatu pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan&#8230;luar biasa, menyenangkan dan para siswa seminary semuanapun merasa bahagia dan bangga bisa berbuat sesuatu untuk mereka yang seringkali dikucilkan atau diisolasikan dari kehidupan sosial.<\/p>\n<p>Ketika Yesus masih berjalan keliling Galilea mengajar, menyembuhkan orang sakit dari pelbagai macam penyakit; pasien kusta mengidap penyakit yang menakutkan dan masih sangat sulit untuk dipantau&#8230; dan ditanggulangi. Orang yang sakit kusta dalam bacaan injil hari ini telah dikucilkan dari kehidupan bersama orang lain, hidup diluar komunitas, tetapi Yesus melakukan suatu gebrakan dengan mendengarkan permohonan si kusta itu. Sambil berlutut di hadapan Yesus si kusta itu mengatakan: &#8220;Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.&#8221; Dan yang menarik bahwa Yesus tidak melakukan proses penyembuhan jarak jauh. Yesus tidak bertindak selaku agen nya Tuhan, tetapi Ia adalah Tuhan sendiri. Yesus adalah yang kudus dari Allah dan yang telah datang ke dalam dunia ini untuk membersihkan yang tidak bersih, dengan kata lain untuk menguduskan yang tidak kudus&#8230;.menyucikan yang tidak suci. Bukan tidak mungkin bahwa kita juga menjadi orang kusta bukan physically tetapi spiritually. Oleh karena itu sudah sangat pasti kita boleh bercermin kepada si kusta dalam bacaan injil hari ini yang mau datang kepada Yesus, berlutut dihadapanNya dan minta disucikan. Sikap ini hanya bisa terjadi kalau kita berani untuk mengalahkan kesombongan rohani kita sendiri, yang merasa lebih baik, lebih suci dari orang lain.<\/p>\n<p>Oleh karena itu pada kesempatan ini boleh kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah saya bersedia memohon Yesus untuk menjamah hidup saya? seperti Ia telah menjamah si kusta itu? Kesalahan dan dosa macam apakah yang pernah saya lakukan, atau yang orang lain lakukan terhadap saya dan sukar saya ampuni? Kalau Yesus bisa menguduskan, menyucikan dan membersihkan si kusta dari penyakitnya, physically and spiritually, maka kitapun terutama tahun ini adalah &#8220;the year of mercy&#8221; juga mampu mengampuni orang lain seperti kita juga sering mendapat pengampunan dari Tuhan. Paus Fransiskus dalam sikap dan tindakannya telah memberikan kita contoh untuk menjamah dan merangkul siapa saja yang ia jumpai, yang sakit dengan penyakit seperti apapun.<\/p>\n<p>Saudara-saudariku terkasih,<\/p>\n<p>Hanya Dia yang adalah kudus telah memberikan dirinya untuk keselamatan kita,..agar kitapun menjadi kudus dihadapanNya. Kita perlu menerima sakramen pengampunan. &#8220;Terimalah Roh Kudus&#8221;, itulah kata-kata yang diberikan kepada para rasulNya pada malam setelah Ia bangkit dari mati&#8230;&#8221;Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.&#8221; (Yohanes 20:23).Oleh karena itu kita juga perlu bermurah hati kepada sesama, mengampuni sesama seperti Tuhan telah bermurah hati dan rela mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita. &#8220;Be generous in sharing forgiveness. It is God&#8217;s gift of love for us &#8211; not just for our own sakes but for the life of the world.&#8221; Amen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Kamis Minggu Pertama Masa Biasa 14 January, 2016 1 Samuel 4:1-11 Markus 1:40-45 &#8220;Pengampunan adalah bukti kasih setia dan belaskasihan Allah kepada kita umatNya&#8221; &#8220;Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta&#8221; dari bacaan Injil kita hari ini mengingatkan kembali bagaimana perasaan saya ketika pertama kali bersama dengan sejumlah siswa Seminary Menengah, San Dominggo Hokeng, Flores Timur, Indonesia mengunjungi pasien kusta di rumah sakit kusta Lewoleba, Lembata. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana &#8220;mama putih&#8221; dan &#8220;mama hitam&#8221; demikian julukan yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4942\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4942","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4942"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4942\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4944,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4942\/revisions\/4944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}